logo


Tingkatkan Kesejahteraan Petani, BUMDes Flores Bantu Pasarkan Hasil Bumi Petani

BUMDes membantu petani dari sisi pemasaran dengan mencari dan mempromosikan berbagai hasil pertanian

16 April 2019 11:24 WIB

Seorang petani memasukkan jagung Hibrida yang baru di panen ke atas bak mobil.
Seorang petani memasukkan jagung Hibrida yang baru di panen ke atas bak mobil. Antara

FLORES, JITUNEWS.COM - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Honihama di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membantu memasarkan hasil bumi. Hal itu dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan para petani di daerah setempat. Untuk penerapan awal, BUMDes dan para petani sepakat memasarkan jagung pipil yang sedang dalam masa panen.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tuwagetobi, Kamilus Tupen, mengatakan bahwa BUMDes membantu petani dari sisi pemasaran dengan mencari dan mempromosikan berbagai hasil pertanian baik secara langsung maupun melalui media sosial.

"Jadi peran BUMDes ini seperti Bukalapak (situs jual beli daring), sementara untuk gudang dan jaminan kualitas produk ada di pihak petani," jelas Kamilus, Sabtu (13/4).


Bahas Petani Thailand dan Vietnam, Sandiaga Uno Diserbu oleh Petani...

Kamilus mengatakan bahwa sejak sistem kerja sama ini diterapkan, hasil jagung pipil yang berhasil dipasarkan sudah mencapai sekitar 4 ton. Masih terdapat 10 ton yang tersedia di lumbung-lumbung petani namun belum layak dijual karena kadar air yang masih tinggi.

Harga jagung pipil yang dipasarkan bervariasi di antaranya untuk dikonsumsi senilai Rp 5.200/kg dan untuk kebutuhan pakan ternak senilai Rp 4.200/kg. Kamilus mengatakan bahwa setiap satu kilogram jagung yang terjual, keuntungan untuk BUMDes sebesar Rp200. Keuntungan itu dimanfaatkan untuk pengadaan fasilitas berupa karung, terpal penjemuran, dan mesin pipil.

"Jadi untuk saat ini keuntungan ke BUMDes memang belum terasa tapi kami bersyukur para petani puas dan masyarakat atau konsumen juga mudah menjangkaunya," katanya.

Kamilus menambahkan, kerja sama pemasaran hasil bumi ini sementara baru dilakukan bersama para petani jagung. Ke depan, kata Kamilus, sudah direncanakan bersama untuk mencakup para petani mente, kacang tanah, dan juga peternak kambing.

"Jadi sambil berjalan juga dilakukan pembenahan, dan sistem ini belum ada di desa-desa lain di sekitarnya, baru ada di BUMDes Honihama dengan prinsip wirausaha sosial atau dalam tradisi lokal dikenal dengan istilah gemohing," ujar Kamilus.

Soroti Harga Gabah, Bamsoet: "Saya Dorong Kementan, Kemendag dan Bulog untuk.."

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata
 
×
×