logo


Menteri Yohana Pulihkan Trauma Perempuan dan Anak Korban Banjir Sentani

Sejumlah bantuan spesifik anak pun telah diberikan

1 April 2019 13:44 WIB

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengunjungi korban bencana banjir bandang Sentani, tepatnya di posko pengungsian Gedung Olahraga Toware, Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3).
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengunjungi korban bencana banjir bandang Sentani, tepatnya di posko pengungsian Gedung Olahraga Toware, Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3). Kementerian PPPA

SENTANI, JITUNEWS.COM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengunjungi korban bencana banjir bandang Sentani, tepatnya di posko pengungsian Gedung Olahraga Toware, Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3).

Kedatangannya ini untuk melihat langsung dan memastikan proses pemulihan trauma pasca bencana pada perempuan dan anak sudah berjalan dengan semestinya.

Yohana mengatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan deputi terkait untuk terlebih dahulu melihat langsung kondisi perempuan dan anak pasca bencana banjir di Sentani.


Gelar Rakornas Berbasis IT, Kemen PPPA: Tentu Jauh Lebih Murah, karena…

Menurutnya, sejumlah bantuan spesifik anak pun telah diberikan diantaranya, susu, makanan dan perlengkapan bayi, pakaian anak, mainan anak, dan perlengkapan mandi.

Selain itu, diberikan juga kebutuhan spesifik perempuan seperti, pakaian daster, susu ibu hamil dan lansia, selimut, keperluan spesifik perempuan dan lansia, dan makanan.

“Memberikan bantuan pokok memang penting, namun memastikan agar perempuan dan anak tetap dapat hidup layak dan tidak mengalami trauma pasca bencana juga tidak kalah penting,” ujar Yohana, dalam siaran pers yang diterima Jitunews.com, Senin (1/4).

“Kegiatan rehabilitasi psikologis dan pemulihan trauma pasca bencana dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk bermain, bernyanyi, bercerita, dan berdoa bersama sebab anak harus tetap merasakan senang, aman, dan nyaman walaupun dalam kondisi pasca bencana,” imbuhnya.

Yohana menambahkan, kondisi Indonesia yang berada pada lingkaran rawan bencana membuat kita harus selalu waspada dan siap menghadapi bencana, khususnya perempuan dan anak yang rentan mengalami kejahatan saat situasi darurat dan kondisi khusus.

Menurutnya, berdasarkan data dari BNPB hingga akhir 2019, masih ada 5.347 jiwa yang tersebar di 21 titik posko pengungsian. Mayoritas korban yang masih ada di pengungsian merupakan korban dari meluapnya Danau Sentani.

Sedangkan, di posko pengungsian Gedung Olahraga Toware, jumlah pengungsi yang masih bertahan sebanyak 532 jiwa, mayoritas mereka berasal dari Distrik Sentani. Adapun jumlah pengungsi perempuan sebanyak 130 jiwa, laki-laki sebanyak 146, dan pengungsi anak sebanyak 226 jiwa.

"Selain itu, untuk mencegah terjadi bencana seperti ini lagi saya kira kedepannya perlu ada gerakan untuk pelestarian lingkungan, seperti gerakan 1000 perempuan dan anak menanam pohon bersama,” pungkasnya.

Ini Tantangan Pembangunan PPPA di Era Revolusi Industri 4.0

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana