logo


Industri Otomotif Makin Moncer Tembus Pasar Ekspor

Making Indonesia 4.0

26 Maret 2019 17:00 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada acara “PT Honda Prospect Motor Brio Export Production Line Off dan 20 Year Anniversary Ceremony di Karawang, Jawa Barat, Selasa (26/3).
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada acara “PT Honda Prospect Motor Brio Export Production Line Off dan 20 Year Anniversary Ceremony di Karawang, Jawa Barat, Selasa (26/3). dok. Kemenperin

KARAWANG, JITUNEWS.COM- Pemerintah semakin gencar menggenjot industri manufaktur di Indonesia untuk aktif melakukan peningkatan ekspor guna dapat menguatkan struktur perekonomian nasional. Salah satu sektor yang berperan besar dalam memberikan devisa negara yang cukup signfikan dari capaian nilai ekspornya adalah industri otomotif.

“Program unggulan pemerintah saat ini, yaitu mendorong industri substitusi impor dan orientasi ekspor. Untuk itu, perlu terus melakukan peningkatan investasi agar produksi mampu bersaing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara “PT Honda Prospect Motor Brio Export Production Line Off dan 20 Year Anniversary Ceremony di Karawang, Jawa Barat, Selasa (26/3).

Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang sedang mendapatkan prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0 di Tanah Air.


Program Pendidikan Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian mengapresiasi terhadap komitmen PT Honda Prospect Motor (HPM) yang ingin terus meningkatkan investasi dan fasilitas produksinya di Indonesia. PT. HPM yang berdiri sejak tahun 1999 sebagai Agen Pemegang Merek Honda di Indonesia, berperan penting dalam upaya pengembangan industri otomtif nasional yang mampu berdaya saing global.

“Perusahaan ini lahir sebagai bentuk kerja sama yang baik dan seimbang antara PT. Honda Prospect Motor dan Honda Motor Co., Ltd, dan terus berlangsung hingga saat ini,” tutur Airlangga. Selanjutnya, diharapkan, PT HPM dapat berperan aktif mendukung revolusi industri 4.0 sehingga mampu meningkatkan efisiensi produksi dan kualitasnya.

Sejak tahun 2013, PT. HPM telah melakukan ekspor kendaraan dalam bentuk terurai (Completely Knock Down/CKD) untuk 11 model kendaraan bermotor roda empat merek Honda ke 12 negara tujuan ekspor di benua Asia dan Amerika. Sepanjang tahun 2018, nilai ekspornya menembus hingga Rp12 triliun.

“Kami terus mendorong ekspor PT. HPM akan terus di tingkatkan performanya untuk mencapai target total nilai ekspor sebesar Rp25,5 triliun pada tahun 2021,” tegas Airlangga. Menurutnya, peningkatan ekspor PT HPM karena industri otmotif di Indonesia sudah punya daya saing, yang salah satu kunci utama penentunya adalah pengoptimalan konten lokal.

Selain dalam bentuk CKD, PT. HPM juga melakukan ekspor kendaraan bermotor dalam bentuk CBU, yaitu Honda Freed yang diproduksi di Pabrik HPM Karawang pada tahun 2011 sampai 2014 ke negara Thailand dan Malaysia.

“Pada kesempatan ini, kita menyaksikan line off untuk unit ekspor perdana All New Brio. Di tahun 2019, rencananya dilakukan ekspor ke negara Filipina dan Vietnam. Adapun nilai ekspor tersebut mencapai kurang lebih Rp1 triliun dan nilai TKDN untuk All New Brio tersebut sudah mencapai 89 persen,” ungkap Menperin.

Di samping itu, Airlangga menambahkan, komitmen investasi PT. HPM di Indonesia sampai tahun 2019 telah mencapai lebih dari Rp4 triliun. “Dengan hadirnya pabrik di Karawang yang mengintegrasikan sistem teknologi manufaktur terkini, PT. HPM yang saat ini telah memiliki dua factory plant mampu meningkatkan kapasitas mencapai 200.000 unit per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 6.900 orang,” terangnya.

Bagi Honda, fasilitas pabrik di Karawang merupakan yang terbesar ke-4 di seluruh dunia. Kapasitas produksi ini setelah Amerika Serikat, China dan Jepang,. Adapun total produksi sampai tahun 2019 akan mencapai lebih dari 1,3 juta unit kendaraan.

Pengembangan industri otomotif

Pada kesempatan yang sama, Menperin menegaskan, pihaknya terus menciptakan iklim usaha yang kondusif agar mendorong penambahan investasi baru maupun perluasan usaha di sektor industri otmotif. Selain itu, aktif mengajak untuk perlunya mengadopsi teknologi terkini dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

“Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan bisa merealisasikan target produksi 1,5 juta unit pada tahun 2020,” ucapnya. Airlangga menilai, industri otomotif di Indonesia telah berkembang menjadi basis produksi kendaraan jenis MPV, truck, dan pick-up yang pengembangannya diarahkan untuk meningkatkan ekspor ke pasar global dengan target besarnya sebagai pemasok kendaraan jenis sedan dan SUV.

“Kami juga mendorong agar manufaktur-manufaktur otomotif dalam negeri dapat merealisasikan program pengembangan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV),” imbuhnya. Melalui program tersebut, ditargetkan pada tahun 2025 kendaraan berbasis energi listrik dapat mencapai sekitar 20 persen.

Adapun capaian target tersebut sesuai dengan Roadmap Industri otomotif yang telah kami tetapkan. Terkait dengan kebijakan LCEV, Kemenperin bersama Kementerian Keuangan telah melaksanakan Rapat Konsultasi dengan DPR-RI terkait harmonisasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mendorong pengembangan program LCEV.

“PPnBM untuk electric vehicle dan sedan di bawah 3000 cc akan dibuat nol persen. Dengan demikian, competiveness dari sedan dan kendaraan kecil akan lebih bersaing sekaligus dapat memacu peningkatan volume produksinya,” jelasnya.

Di samping hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan usulan berbagai fasilitas insentif lainnya yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan industri otomotif, antara lain tax holiday, tax allowance, Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan dalam waktu dekat akan dikeluarkan insentif super deductible tax.

“Bagi perusahaan yang mendukung pendidikan vokasi, pemerintah akan memberikan fasilitas super deductible tax sebesar 200 persen. Sedangkan, bagi yang terlibat dalam kegiatan terkait inovasi atau R&D&D, pemerintah akan berikan sebesar 300 persen. Paket kebijakan ekonomi ini akan keluar bersamaan dengan PPnBM yang sudah dikonsultasikan dengan DPR,” jelasnya

Sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah juga mengimbau kepada pelaku industri otomotif untuk menerapkan digitalisasi guna mendukung efisiensi dan produktivitas agar semakin berdaya saing dan mampu berperan dalam Global Value Chain (GVC).

“Harapannya Indonesia bisa menjadi hub untuk produksi otomotif ke regional market dan juga pasar global,” ujar Airlangga. Apalagi, adanya Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang sudah resmi ditandatangani, diyakini mampu membuka lebih lebar peluang memacu ekspor mobil ke Negeri Kanguru.

"Pasar yang terbuka itu ditargetkan menjadi primadona ekspor mobil dari Indonesia ke Australia, karena marketnya cukup besar hingga 1,2-1,5 juta kendaraan. Sebab, industrinya di Australia sudah tutup semua. Ini diharapkan, industri otomotif nasional bisa menjajaki, karena salah satu insentif yang diberikan adalah electric vehicle,” paparnya.

Sebagai salah satu sektor kampiun dalam Making Industri 4.0, industri otomotif diharapkan mampu membawa perubahan ke arah peningkatan efisiensi di tiap tahapan rantai nilai proses industri sehingga mampu meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk.

“Dengan mendukung revolusi industri 4.0, kami optimitis akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing. Terlebih lagi dengan didukung industri tier-1 dan 2 yang cukup banyak, sehingga dapat mendorong pengembangan IKM otomotif,” ungkapnya.

Kemenperin Bina 4 Ribu Santri Jadi Wirausaha Baru

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman