logo


Peranan Ilmu Pangan bagi Ketersediaan Pangan Indonesia

Indonesia adalah negara agraris, tetapi kenapa ketersediaan pangan di Indonesia sering tidak stabil?

19 Maret 2019 21:27 WIB

http://www.bernas.id/amp/58342-beras-impor-vs-beras-analog-pilih-mana--.html
http://www.bernas.id/amp/58342-beras-impor-vs-beras-analog-pilih-mana--.html
dibaca 194 x

Indonesia adalah negara agraris, tetapi kenapa ketersediaan pangan di Indonesia sering tidak stabil? Disinilah diharapkan adanya peran dari ilmu pangan.

Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, dengan kekayaan yang dimiliki ini harapannya mampu memenuhi kebutuhan primer masyarakatnya yaitu kebutuhan akan pangan.

Siapa yang tidak butuh pangan? Semua orang pasti butuh pangan, dengan tujuan yang berbeda-beda seperti pemenuhan akan zat  gizi, energi, rasa kenyang atau puas, bahkan melalui makanan pun mampu meningkatkan status sosial seseorang.


Wow Ada Pepes Ikan Nuklir?

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004, bahwa pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia maupun termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Sejak kita berada di sekolah dasar, terutama di mata pelajaran ilmu sosial kita diperkenalkan bahwa Indonesia adalah negara agraris, karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai mata pencaharian sebagai petani atau dibidang pertanian.

Sebagai negara agraris, Indonesia menghasilkan beberapa komoditas seperti beras, jagung, sayur-sayuran, dan cabai. Melihat bahwa Indonesia sebagai negara agraris, seharusnya ketersediaan pangan di Indonesia terpenuhi, bukan? Tetapi, kenyataannya tidak. Ternyata, ada dua faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia.

Pertama, produk pertanian yang bersifat musiman. Terkadang ada produk pertanian yang hanya tumbuh pada musim penghujan atau musim paceklik saja.

Kedua, produk pertanian itu mudah rusak atau mempunyai umur simpan yang singkat. Sehingga, harus cepat-cepat dijual. Apabila terlambat akibat distribusi atau lama terjual, pastinya produk pertanian tersebut akan rusak atau mengalami penurunan mutu. Hal ini bisa menurunkan ketersediaan pangan.

Di sinilah peran dari adanya ilmu pangan dibutuhkan. Karena ilmu pangan sendiri juga memiliki peran dalam meningkatkan pembangunan di Indonesia dari beberapa aspek seperti ketersediaan pangan, stabilitas ketersediaan dan keterjangkauan, serta aspek konsumsi.

Ilmu pangan adalah disiplin ilmu yang menerapkan gabungan dari ilmu biologi, fisika, dan kimia yang nantinya digunakan untuk mempelajari sifat dari suatu bahan pangan, termasuk penyebab kerusakan atau penurunan kualitas pangan serta mempelajari tentang pemrosesan pangan, sehingga dapat memberikan nilai tambah pada produk pangan tersebut.

Adapun keuntungan dari mempelajari ilmu pangan, yaitu kita dapat mendesain proses, penyimpanan, dan pengemasan produk pangan sesuai dengan sifat biologis, fisik, dan kimianya sehingga tidak menurukan nilai mutu dari produk pangan tersebut.

Salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan produk pertanian adalah dengan melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan.

Diversifikasi pangan dianggap sebagai jalan keluar terbaik dalam memecahkan permasalahan terkait ketersediaan pangan.

Diversifikasi pangan merupakan salah satu bentuk pembelajaran dari ilmu pangan dalam meningkatkan ketersediaan pangan. Adanya diversifikasi pangan, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan komoditas lokal. Sehingga masyarakat tidak hanya berpaku pada satu jenis pangan pokok saja terutama beras. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia beranggapan, bahwa nasi adalah satu-satunya makanan pokok di Indonesia.

Tingginya penghargaan terhadap beras oleh masyarakat Indonesia berbanding terbalik dengan komoditas pangan lokal terutama sumber karbohidrat lain, seperti singkong, ganyong, garut, kimpul, talas, uwi, gembili, sagu, sorgum, dan ubi jalar yang sebenarnya dapat dikonsumsi sebagai makanan pokok selain beras.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Karena, kebanyakan dari masyarakat beranggapan bahwa makanan pokok selain beras seperti dari golongan umbi-umbian adalah makanan bagi orang tidak mampu, seakan-akan ketika memakan nasi status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memakan umbi-umbian dan sebagian dari mereka juga memiliki pendapat atau asumsi, kalau belum makan nasi berarti belum makan.

Hal ini lah yang membuat daya tarik masyarakat terhadap produk non-beras lebih rendah dibandingkan dengan beras.

Salah satu bentuk diversifikasi pangan untuk meningkatkan konsumsi produk non-beras yang rendah dan menekan konsumsi beras yang tinggi, yaitu dengan mengolahnya menjadi beras analog. Beras analog merupakan beras tiruan yang terbuat dari produk non-beras yang memiliki sifat-sifat mirip dengan beras asli.

Faleh SB, P Hariyadi, S Budijanto, dan D Syah, peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor menjelaskan tentang proses ekstruksi panas dalam pembuatan beras analog dari tepung jagung, pati jagung, dan gliserol monostearat. Penelitian tersebut adalah salah satu contoh, bahwa produk non-beras yaitu jagung dapat dimanfaatkan sebagai beras analog.

Apabila diversifikasi pangan dapat berjalan dengan baik, diharapkan permasalahan terutama terkait dengan ketersediaan pangan dapat terselesaikan. dengan adanya peningkatan produktivitas komoditas lokal, pastinya akan memberikan kebahagian dan semangat kepada para petani untuk terus menanam komoditas lokal tersebut dan diharapkan komoditas-komoditas lokal ini juga memiliki potensi untuk ekspor.

Selain itu, pemanfaatan akan sumberdaya lokal mampu menurunkan harga jual yang tinggi dipasaran sehingga seluruh elemen masyarakat dapat menjangkau pangan ini serta ketersediaan pangan yang stabil.

Mengingat penduduk Indonesia yang bertambah setiap tahunnya, penting adanya kontrol terhadap ketersediaan pangan ini. Diharapkan dengan adanya diversifikasi pangan, mampu menstabilkan ketersediaan pangan.

Ketika ketersediaan pangan stabil, maka mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif. Karena tanpa adanya ketersediaan pangan, tidak mungkin tersedia sumberdaya manusia yang berkualitas yang dibutuhkan sebagai motor penggerak pembangunan di Indonesia. Dengan demikian, tujuan dari ketersediaan pangan seperti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bermutu dan aman, meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku uasaha pangan, serta penganekaragaman komoditas lokal akan tercapai.

Ditulis oleh: Vii Taa S

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Petani Sawit Dihimbau Beli Bibit Bersertifikat

Halaman: 
Admin : Vicky Anggriawan