logo


Pemerintah Sampaikan 10 Poin Sikap Atas Langkah Diskriminatif UE Terhadap Komoditas Sawit

Langkah ini menjadi tindak lanjut kesepakatan dari 6th Ministerial Meeting Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)

19 Maret 2019 18:58 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat memimpin Rapat Koordinasi Pembahasan Tentang European Union\'s Delegated Regulation, Senin (18/3).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat memimpin Rapat Koordinasi Pembahasan Tentang European Union's Delegated Regulation, Senin (18/3). Kemenko Perekonomian

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah menyampaikan 10 poin tanggapan terhadap langkah diskriminatif Uni Eropa (UE) terhadap komoditas sawit nasional agar komoditas ini mendapatkan perlakuan yang setara di pasar komoditas UE.

“Pemerintah menyampaikan keberatan atas keputusan Komisi Eropa untuk mengadopsi draft Delegated Regulation yang mengklasifikasikan minyak kelapa sawit sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan berisiko tinggi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat memimpin Rapat Koordinasi Pembahasan Tentang European Union's Delegated Regulation, Senin (18/3).

Langkah ini menjadi tindak lanjut kesepakatan dari 6th Ministerial Meeting Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) yang diselenggarakan pada 28 Februari 2019.


Dirjen HPI Sampaikan Pemahaman tentang Penegakan Hukum di Laut dan UNCLOS 1982

Saat itu, 3 negara produsen terbesar minyak sawit dunia yaitu Indonesia, Malaysia, dan Kolombia, menyepakati untuk memberikan menanggapi langkah-langkah diskriminatif yang muncul dari rancangan peraturan Komisi Eropa, yaitu Delegated Regulation Supplementing Directive 2018/2001 of the EU Renewable Energy Directive II.

Darmin mengatakan, hal ini sebagai kompromi politis di internal UE yang bertujuan untuk mengisolasi dan mengecualikan minyak kelapa sawit dari sektor biofuel UE yang menguntungkan minyak nabati lainnya, termasuk rapeseed yang diproduksi oleh UE.

Adapun, saat ini, Komisi Eropa telah mengadopsi Delegated Regulation no. C (2019) 2055 Final tentang High and Low ILUC Risk Criteria on biofuels pada tanggal 13 Maret 2019. Dokumen ini akan diserahkan ke European Parliament dan Council untuk melalui tahap scrutinize documentdalam kurun waktu 2 (dua) bulan kedepan.

Sebelumnya, Menteri Industri Primer Malaysia, Teresa Kok, sudah memberikan keterangan resmi terkait tanggapan terhadap diskriminasi UE ini.

“Saya menentang sepenuhnya keputusan yang diambil oleh Komisi Eropa pada hari Rabu dimana minyak kelapa sawit diklasifikasikan sebagai risiko tinggi. Negara-negara penghasil minyak kelapa sawit, termasuk Malaysia, telah secara konsisten menjelaskan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa Delegated Act tersebut didasarkan pada faktor-faktor yang tidak akurat dan diskriminatif," ungkap Teresa, dalam keterangan resmi, Jumat (15/3).

Desa Adat di Bali Diusulkan Mendapatkan Dana APBN

Halaman: 
Penulis : Riana