logo


Begini Jurus Kementan Cegah Petani Ketergantungan Pupuk Anorganik

Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 melaporkan bahwa ada 86,41 persen petani yang menggunakan pupuk anorganik

15 Maret 2019 12:04 WIB

Ilustrasi, petani menyebar pupuk di sawah.
Ilustrasi, petani menyebar pupuk di sawah. Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kesuburan tanah para petani mulai menurun karena faktor pupuk anorganik yang mulai mengkhawatirkan. Namun, untuk kembali 'menyehatkan' lahan pertanian, petani bisa menggunakan pupuk organik.

Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 melaporkan bahwa ada 86,41 persen petani yang menggunakan pupuk anorganik. Sementara, penggunaan pupuk berimbang (organik dan anorganik) hanya 13,5 persen dan organik 0,07 persen.

Ini menunjukkan bahwa petani di Indonesia lebih tertarik menggunakan pupuk anorganik. Padahal di balik itu, ancaman terhadap pertanian Indonesia sangat besar.


Di Luwu, Mentan Amran Lakukan Program Peremajaan Rempah dan Kakao, Seperti Apa?

Guna mengatur pupuk organik, Kementerian Pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.70 Tahun 2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah. Upaya pemerintah mendorong penggunaan pupuk organik juga telah memacu tumbuhnya usaha pupuk organik.

Sayangnya yang terjadi di lapangan ternyata banyak pupuk organik tidak sesuai standar. Bahkan, terkesan produk abal-abal alias tidak terjamin kualitasnya. Banyak keluhan terhadap kualitas yang beredar di pasaran.

Direktur Pupuk dan Pestisida, Muhrizal Sarwani, mengakui, selama ini terdapat beberapa kendala dalam pengembangan pupuk organik, baik di tingkat produsen maupun pengguna.

Misalnya, mutu yang masih kurang baik, bahan baku juga terbatas, kualitas yang dihasilkan tidak konsisten, banyak mengandung logam berat (terutama yang dari kota). Bahkan dosis penggunaannya yang relatif tinggi, sehingga sulit dalam transportasinya.

Untuk melindungi konsumen terhadap kualitas pupuk organik, Pemerintah merevisi Permentan No.70 Tahun 2011 dengan dikeluarkannya Permentan No.01 Tahun 2019 tentang Pendaftaran Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah.

Dengan beleid teranyar tersebut, diharapkan akan menjamin kualitas pupuk organik, hayati dan pembenah tanah yang beredar di masyarakat.

Kementan Latih 4.000 Kelompok Tani Milenial, Tujuannya…

Halaman: 
Penulis : Riana