logo


Airlangga Hartarto Sabet Penghargaan Obsession Awards 2019

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyabet penghargaan Obsession Awards 2019 untuk kategori Best Achiever in Ministry.

8 Maret 2019 10:55 WIB

Airlangga Hartarto menyabet penghargaan Obsession Awards 2019 untuk kategori Best Achiever in Ministry
Airlangga Hartarto menyabet penghargaan Obsession Awards 2019 untuk kategori Best Achiever in Ministry dok. kemenperin

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyabet penghargaan Obsession Awards 2019 untuk kategori Best Achiever in Ministry. Beberapa katogori penghargaan diberikan kepada para tokoh yang berprestasi dan inspiratif sepanjang tahun 2018.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan ini. Kepercayaan ini akan menjadi penyemangat saya untuk terus melakukan kinerja yang baik di Kementerian Perindustrian,” kata Menperin di Jakarta, Rabu (7/3) malam. Ini adalah kali kedua Airlangga mendapat penghargaan serupa setelah pada tahun 2018 dia dapatkan.

Kemenperin berkomitmen untuk mengembangkan industri nasional, baik skala besar maupun kecil dan menengah, agar dapat berdaya saing global. Hal ini dilakukan guna mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang inklusif.


Adjeng Ratna Suminar, Sosok Perempuan dan Politisi Tangguh

Penetapan peraih penghargaan ini dilakukan oleh lembaga riset dan komunikasi. Sejak dilantik menjadi Menteri Perindustrian pada Juli 2016, Airlangga dianggap melakukan berbagai gebrakan untuk kemajuan industri nasional, salah satunya sebagai inisiator peta jalan Making Indonesia 4.0, yang resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018.

“Melalui roadmap tersebut, aspirasi besar yang hendak kita capai adalah menjadikan Indonesia masuk dalam 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Sasaran ini akan bisa tercapai, dengan didukung peningkatan nett export 10 persen dari PDB, produktivitas naik dua kali lipat, dan anggaran riset sebesar dua persen dari PDB,” paparnya.

Airlangga memaparkan, revolusi industri 4.0 adalah kekuatan besar di sektor industri, karena teknologi informasi dan komunikasi bukan hanya dimanfaatkan untuk proses produksi, tetapi mampu melahirkan model bisnis baru. “Industri nasional memerlukan banyak pembenahan, terutama dalam penguasaaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era industri 4.0,” ujarnya.

Sumber daya manusia (SDM) merupakan prioritas utama pada peta jalan making Indonesia 4.0, karena untuk menghadapi revolusi industri 4.0 diperlukan SDM yang kompeten sesuai kebutuhan era digitalisasi.

“Berdasarkan studi yang dilakukan McKinsey, kebutuhan tenaga kerja industri di bidang digital akan bertambah sebesar 17 juta orang hingga tahun 2025, di mana 4 juta akan bekerja di sektor industri dan sisanya di sektor jasa yang terkait. Kesempatan inilah yang harus kita rebut,” tuturnya.

Kemenperin pada 2019 mengucurkan dana Rp 1,78 triliun dalam melaksanakan pengembangan SDM industri. Program ini meliputi pendidikan vokasi link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri, pelatihan 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja) yang juga diikuti oleh penyandang disabilitas, serta pembangunan politeknik di kawasan industri.

“Dalam kegiatan penumbuhan dan pengembangan IKM di dalam negeri melalui teknologi digital, Kemenperin telah membuat e-Smart IKM,” tegasnya.

Program e-Smart ILM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk ysng ditujukan mendorong peningkatan akses pasar IKM melalui internet marketing.

Sejak diluncurkan tahun 2017, loka karya e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp1,5 miliar. Program e-Smart IKM elah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

Mengukur Jurkam Seleb Cagub DKI, Koalisi Mana Lebih Kuat?

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman