logo


Ada Oknum di Bulog Main Mafia Pengoplos Beras

Para mafia itu juga ada di dalam Perum Bulog sendiri. Oknum itulah yang mengatur distribusi beras tersebut.

23 Februari 2015 15:30 WIB

Permainan mafia pengoplos beras
Permainan mafia pengoplos beras

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Mafia pengoplos beras merajalela membuat pemerintah meradang. Gara-gara ulah para pengoplos tersebut, membuat mekanisme penyaluran beras jadi terhambat.

Pengamat Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin mengatakan, para mafia itu sebagian berada di dalam Perum Bulog sendiri.  Oknum itulah yang mengatur distribusi beras tersebut.

"Dugaan praktik penyelewengan terjadi saat operasi pasar (OP). Ada praktik pengoplosan saat beras disalurkan dari Perum Bulog ke pedagang pasar seperti ke Pasar Induk Cipinang," katanya di Jakarta, Senin (23/2).


Kementan Minta Bulog Segera Serap Gabah dari Petani

Menurutnya, akibat permainan itu membuat Bulog kemudian mengubah skema penyaluran beras langsung tanpa melalui pedagang. Akibatnya harga beras malah melonjak.

"Saat musim paceklik biasanya harga beras naik 10 persen-15 persen masih oke. Tetapi kalau naik 30 persen ada sesuatu yang harus dipecahkan oleh pemerintah," kata nya.

Karena itu, Bustanul meminta agar bila oknum itu ditemukan langsung saja ditindak tegas secara hukum. "Saya memang belum lihat di lapangan. Namun fenomenanya lebih banyak kekurangan pasokan. Apakah ada yang bermain, pemerintah harus turun tangan," tegasnya.

Bustanul menyarankan agar pemerintah tetap menyalurkan beras ke pedagang dengan catatan melalui prosedur ketat agar praktik penyelundupan beras Bulog tidak ada penyimpangan.

"Itu menjadi salah satu pemicu. Karena yang diinginkan pedagang itu beras curah, kalau disetop ikut mempengaruhi stok. Saya sarankan beras Bulog tetap disalurkan ke pasar dan pedagang asal syaratnya diperketat," katanya.

Selain dugaan permainan kartel beras, Bustanul mengungkapkan keterlambatan musim panen juga ditengarai sebagai pemicu kenaikan harga beras. Namun ia optimistis harga beras akan kembali normal dalam hitungan minggu kedepan. Ia mengungkapkan stok beras Bulog cukup sehingga tidak perlu impor.

"Saya berpikir tidak harus karena dikhawatirkan impor itu justru nanti pada saat musim panen harga gabah terpuruk," kata Bustanul.

Bustanul menegaskan, jika pemerintah membuka keran impor beras, maka realisasi impor baru akan terjadi pada bulan Maret hingga Juni 2015. Artinya realisasi impor bertepatan saat musim panen raya.

Kemendag Belum Terima Rekomendasi Bulog Soal Impor Bawang Putih

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid