logo


Ratna Sarumpaet dan Fatamorgana Politik

Apakah drama Ratna Sarumpaet ini merupakan bagian strategi busuk dinamika politik Indonesia ?

6 Maret 2019 21:30 WIB

Fatamorgana Politik
Fatamorgana Politik
dibaca 212 x

September 2018 lalu, Ratna Sarumpaet menggebrak publik dengan pengakuan bahwa ia telah dianiaya oleh tiga orang di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.

Pengakuan ini langung direspon oleh tim Prabowo-Sandi sebagai tindakan kekerasan terkutuk. Bahkan, Prabowo pun menggelar konferensi pers dan menyebut kasus ini sebagai bentuk pelanggaran HAM berat dan harus ditindak tegas.

Setelah ditelusuri oleh kepolisian, kejadian yang digambarkan Ratna terkesan acak dan tidak runtut. Hal ini terkait hasil penelusuran Polda Jabar dengan mendatangi 23 rumah sakit di Bandung serta Cimahi. Hasilnya, tidak ada pasien atas nama Ratna Sarumpaet.

Setelah terjadi penganiayaan, jika mengacu keterangan tim PrabowoSandi - Ratna Sarumpaet justru tidak melaporkan kejadian ini kepada polisi, tetapi malah menemui Prabowo Subianto, lalu kabar bahwa Ratna Sarumpaet dipukuli menjadi viral di media sosial.


Tim Jokowi: Antara Ratna Sarumpaet dan BPN saling Main Mata

Erving Goffman, seorang antropolog asal Kanada dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life memperkenalkan teori yang disebut sebagai dramaturgi. Dalam pandanganya, politik adalah panggung sandiwara yang berjarak terhadap realitas yang selama ini dipahami.

Apa yang diperankan atau ditampilkan seseorang di atas panggung oleh seorang aktor identik dengan motif tertentu. Teori ini mensyaratkan politisi untuk sadar kamera sehingga dapat membentuk persepsi publik tentang dirinya.

Ibarat sebuah panggung pementasan, penonton hanya akan menyimpulkan kualitas politisi dari apa yang terpampang di depan layar. Teori ini juga lebih dikenal sebagai “fatamorgana politik”, di mana kondisi politik merupakan arena pertarungan citra dan tanda.

Kemunculan aktor lain seperti Prabowo, Fadli Zon, dan Amien Rais yang terkesan hiperbolis tentu semakin memeriahkan pertarungan wacana di media masa. Tujuannya, tentu saja adalah semakin memperkuat branding yang terlanjur beredar bahwa ada upaya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pihak tertentu.

Apakah mungkin peristiwa ini merupakan momentum bagi Prabowo untuk membangun citranya kembali setelah isu HAM yang menjeratnya?

Seiring terungkapnya fakta kebohongan Ratna Sarumpaet, pernyataan lantang  Prabowo di media untuk membela sang aktivis justru meyudutkan dirinya menjadi pahlawan kesiangan.

Apakah drama Ratna Sarumpaet ini merupakan bagian strategi busuk dinamika politik Indonesia ?

Ditulis oleh: fathul amar

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Harap-Harap Ratna

Halaman: 
Admin : Riana