logo


Siapkah Jakarta Hadapi Banjir?

Hasil penelitian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan kerugian akibat banjir mencapai Rp 144-220 miliar.

6 Maret 2019 13:41 WIB

Sejumlah kendaraan melintasi banjir di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (15/2).
Sejumlah kendaraan melintasi banjir di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (15/2). Jitunews/Latiko Aldilla Dirga
dibaca 307 x

Ibukota tengah mengadapi potensi bencana banjir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di wilayah DKI Jakarta masih tinggi sepanjang bulan Maret bahkan hingga April 2019. Hal ini diakibatkan fenomena El Nino lemah, peran angin Monsun Barat alias baratan, dan suhu permukaan laut yang hangat atau Sea Surface Temperature (SST).

Awal Maret 2019, hujan dengan intensitas deras beberapa kali mengguyur DKI Jakarta. Debit air di Bendungan Katulampa, Bogor, dan Pintu Air Depok kini berstatus Siaga 3. Banjir pun sempat menggenangi sejumlah wilayah seperti Kampung Melayu, Gondangdia, hingga Tomang. Ketinggian banjir bervariasi mulai dari 10-100 sentimeter.

Waspada banjir juga terjadi di Depok, Tangerang, dan Bekasi. BMKG menyatakan banjir disertai dengan hujan sedang-lebat disertai kilat/petir dan angin kencang. Warga diminta waspada dengan adanya potensi genangan atau banjir yang ditimbulkan selama terjadinya fenomena ini.


Mobil Nekat Terjang Banjir? Ini Akibat yang Akan Kamu Tanggung!

Banjir tidak hanya menggenang rumah warga, tapi juga menimbulkan kerugian ekonomi untuk DKI Jakarta. Hasil penelitian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan kerugian akibat banjir mencapai Rp 144-220 miliar. Perhitungan tersebut terkait dengan hilangnya pendapatan dari usaha harian (opportunity cost) karena tidak bisa bekerja. Angka tersebut melebihi kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan yang mencapai Rp 65 miliar pertahun.

Menghadapi potensi bencana tersebut, pemerintah DKI Jakarta perlu memutar otak lebih keras. Mengingat, program normalisasi aliran sungai di ibu kota, termasuk Sungai Ciliwung tak kunjung usai. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane mencatat wilayah yang terdampak banjir di DKI Jakarta merupakan daerah di sekitar kawasan sungai yang belum dinormalisasi.

Rencana program drainase vertikal yang digadang-gadang oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hingga kini belum dirasakan manfaatkan oleh publik. Padahal anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan sumur resapan sedang sebesar Rp 2,8 miliar dan Rp. 12,5 miliar untuk pembangunan sumur resapan dangkal. Anggaran ini akan digunakan untuk membangun sumur resapan sebanyak 1.333 titik.

Bencana banjir dengan segala kerugian yang ditimbulkan tentunya dapat dicegah sejak dini. Peran serta pemerintah selaku stakeholder bersama masyarakat menjadi poin penting. Kita tentu tidak ingin banjir bedampak buruk. Apalagi saat ini Jakarta pun belum selesai memerangi wabah demam berdarah di beberapa daerah.

 

Ditulis oleh: Gie

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Warganet Pertanyakan Kerja Anies Saat Jokowi Atasi Banjir Jakarta, "Kocak bin Jenaka Sekali Anies"

Halaman: 
Admin : Vicky Anggriawan