logo


Optimalisasi Irigasi, Jurus Jitu Kementan Agar RI Jadi Lumpung Pangan Dunia

Optimalisasi irigasi menjadi penting karena dengan adanya jaminan ketersediaan air yang baik

5 Maret 2019 10:42 WIB

Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy, saat menghadiri Rapat Koordinasi Upsus Pajale Provinsi Kalbar Tahun 2019 di Aula Distan TPH Kalbar, Jumat (1/3)\n
Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy, saat menghadiri Rapat Koordinasi Upsus Pajale Provinsi Kalbar Tahun 2019 di Aula Distan TPH Kalbar, Jumat (1/3) Kementan

Lebih lanjut, Sarwo menjelaskan, kunci utama dari jenis irigasi perpompaan adalah terdapatnya sumber air. Posisi air di bawah tanah juga tidak menjadi masalah karena menggunakan pompa untuk pemanfaatannya.

Kementerian Pertanian telah memperbaiki saluran irigasi di Kelompok Tani Jaya di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua.(Dok. Humas Kementerian Pertanian RI)

"Dengan demikian, lahan pertanian yang tidak terjangkau dengan irigasi waduk dan bendung yang umumnya secara gravitasi masih bisa mendapatkan air irigasi," ujarnya.


Ditjen PSP Kementan Puas, Panen Jagung di Jatim Melimpah

Solusi saat musim kemarau Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Perpipaan itu diprioritaskan pada lokasi kawasan pertanian yang sering mengalami kendala atau kekurangan air irigasi, terutama pada musim kemarau.

Tujuannya agar tersedia sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh petani, baik sebagai suplesi (conjunctive use) di daerah irigasi maupun sebagai irigasi utama di non daerah irigasi (tail end).

Lebih lanjut, Sarwo berharap, program itu dapat pula menambah luas areal tanam baru dan meningkatkan produktivitas.

Salah satu desa yang memanfaatkan sistem irigasi itu adalah Desa Panggung, Kecamatan Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebelumnya, para petani di sana terkendala masalah air untuk minum, sanitasi ternak, dan penyiraman hijauan makan ternak (HMT).

Sistem irigasi pompa itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan air, yang akan digunakan sebagai HMT. Sistem itu digunakan untuk lahan seluas kurang lebih 10 hektar dengan metode springkler. Pemerintah memberikan bantuan tersebut dalam bentuk uang yang kemudian dikelola sendiri oleh kelompok tani setempat.

Mereka menggunakan uang tersebut untuk membeli pompa dan perlengkapannya, membangun rumah pompa, bak tampungan air dan jaringan irigasi pipa. Pompa yang digunakan memiliki diameter 4 inchi dengan tipe sentrifugal, penggerak diessel dengan estimasi daya dorong 30 meter.

Selain itu, di daerah tersebut juga dibuatkan sebuah tampungan air berkapasitas sekitar 700 meter kubik. Gunanya untuk menampung limpasan yang akan dipompa ke dalam bak penampung.

Bak penampungnya terletak 30 meter dari sumber air dengan ketinggian sekitar 1,5 meter (m). Ukuran baknya 6 m x 4 m x 1 m, yang kemudian airnya dialirkan secara gravitasi ke lahan petani. Dengan adanya bantuan tersebut, diharapkan petani dapat memanjakan sapi mereka dan menghasilkan sapi potong yang cukup berbobot.

Kementan Ajak Agropreneur Muda Berbisnis dari Hulu ke Hilir

Halaman: 
Penulis : Riana