logo


Internet dan Anak Semakin Lekat, Kementerian PPPA Ingatkan Hal Ini…

Anak yang memiliki pola komunikasi yang kurang baik dengan orang tuanya lebih rentan menjadi korban kekerasan dan eksploitasi di media sosial.

4 Maret 2019 11:44 WIB

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) berupaya mencerdaskan masyarakat, khususnya di Jembrana, Bali untuk bersama-sama melakukan deteksi dini sebagai upaya perlindungan anak melalui kegiatan "Advokasi dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi".
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) berupaya mencerdaskan masyarakat, khususnya di Jembrana, Bali untuk bersama-sama melakukan deteksi dini sebagai upaya perlindungan anak melalui kegiatan "Advokasi dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi". KemenPPPA

JEMBRANA, JITUNEWS.COM - Saat ini anak dan teknologi memiliki hubungan yang kian lekat. Tanpa disadari, kelekatan tersebut mengakibatkan rendahnya kualitas hubungan antara anak dan orangtua.

Anak yang memiliki pola komunikasi yang kurang baik dengan orang tuanya lebih rentan menjadi korban kekerasan dan eksploitasi di media sosial.

Menyadari hal tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) berupaya mencerdaskan masyarakat, khususnya di Jembrana, Bali untuk bersama-sama melakukan deteksi dini sebagai upaya perlindungan anak melalui kegiatan "Advokasi dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Eksploitasi".


Kementerian PPPA Mantap Laksanakan Manajemen ASN Secara Lebih Baik

Kemen PPPA, melalui Deputi Perlindungan Anak, khususnya Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi menanamkan pentingnya melindungi anak dari segala bentuk perilaku kekerasan dan eksploitasi kepada 200 orang peserta yang terdiri dari unsur Anggota Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Kepala Sekolah, PKK serta Tokoh Masyarakat diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Jembrana untuk berkontribusi dalam memutus mata rantai yang bisa mengarahkan anak-anak Indonesia menjadi korban kekerasan dan eksploitasi, baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.

“Anak korban kekerasan berpotensi dua kali lipat melakukan kekerasan ketika mereka dewasa. Jadi mari kita bersama-sama mendidik mereka dengan cinta dan kasih sayang, untuk menjaga masa depan mereka yang lebih baik,” ujar Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kemen PPPA, Valentina Gintings, ketika memberikan pemahaman kepada peserta terkait kebijakan perlindungan anak.

Lebih lanjut, Valentina menuturkan bahwa “PR” kita melindungi anak-anak menjadi semakin berat ketika tidak mampu mengimbangi kecanggihan teknologi yang kian akrab dengan anak-anak.

Internet dan media sosial dianggap semakin membuka peluang dan kesempatan bagi pelaku kekerasan dan eksploitasi seksual mengincar korbannya.

Peluang dan kesempatan pelaku ini kemudian didukung dengan tindakan anak yang mungkin tanpa sadar mengunggah materi seksualitas diri mereka tanpa mereka sadari. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Tahun 2011-2016 menunjukkan bahwa terdapat 1.809 kasus eksploitasi anak online di Indonesia.

“Fenomena ‘anak lebih pintar dari orangtua’ apalagi urusan teknologi dan ditunjang dengan kemudahan akses internet yang bisa mendorong anak terkoneksi tanpa batas menjadi tantangan tersendiri bagi kita, para orangtua, dalam melindungi anak-anak kita,” ungkap Valentina.

KemenPPPA Sayangkan Pelaku Kekerasan Seksual Kakak Beradik di Tenggarong Divonis Bebas

Halaman: 
Penulis : Riana