logo


KKP Bangkitkan Kembali Budidaya Ikan Pasca-Tsunami di Pandeglang

Terkait isu dan ketakutan masyarakat untuk makan ikan hasil tangkapan di laut, Slamet mengingatkan bahwa itu adalah anggapan yang salah.

25 Februari 2019 09:02 WIB

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto (kedua dari kanan), menyerahkan bantuan bagi pembudidaya ikan dan masyarakat terdampak bencana tsunami di Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (22/2)
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto (kedua dari kanan), menyerahkan bantuan bagi pembudidaya ikan dan masyarakat terdampak bencana tsunami di Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (22/2) ist

Terkait isu dan ketakutan masyarakat untuk makan ikan hasil tangkapan di laut, ia kembali mengingatkan bahwa itu adalah anggapan yang salah.

“Ikan di lautan itu tidak makan jenazah korban tsunami yang terbawa ke laut. Itu anggapan yang tidak tepat. Ikan di laut makan berbagai jenis plankton dan makan ikan lain yang ukuran badannya lebih kecil dari bukaan mulutnya,” jeladnya.

Slamet meminta masyarakat kembali dan semakin menggemari makan ikan. Saat ini jelasnya, konsumsi per kapita penduduk Indonesia sudah mecapai 50,69 kg/kapita/tahun dan ditargetkan 5 tahun kedepan sudah mampu mencapai 73 kg/kapita/tahun.


Perkuat Struktur Ekonomi Pembudidaya Ikan, KKP Siapkan Program Prioritas 2019

“Usaha di perikanan itu berguna untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. perekonomian keluarga bapak ibu. Juga untuk meningkatkan gizi keluarga dan masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ade Nawawi, pembudidaya ikan sekaligus korban tsunami mengapresiasi dan menyatakan kegembiraannya atas bantuan dan perhatian dari KKP.

“Sebelumnya kami stres. Dengan adanya bencana tsunami, selain rumah kami jadi korban, usaha budidaya lele kami juga hancur. Dengan adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah ini, kami semangat lagi. Mohon kami terus dibimbing,” ujarnya.

Ia menceritakan, bagaimana bencana tsunami sempat membuatnya sedih. Beberapa hari sebelum terjadi bencana yang mengagetkan itu, ia baru saja menebar benih ikan lele. Saat itu ia memiliki 4 unit kolam dengan kapasitas 5.000 ekor per kolam, benih ikan yang ia tebar akhirnya musnah akibat tsunami.

Selain menyerahkan bantuan, Slamet dan rombongan juga melakukan pertemuan dengan Bupati Pandeglang, Irna Narulita.

Di hadapan Bupati dan jajarannya, ia kembali menyampaikan keinginan KKP agar pelaku usaha perikanan termasuk pembudidaya segera bangkit.

"saat ini tepat 2 bulan lalu, bencana tsunami terjadi. Oleh karena itu sudah saatnya usaha budidaya dan lainnya kembali bangkit. Ini harus jadi momentum agar usaha budidaya lebih besar dari sebelumnya” harapnya.

"Saya minta untuk membentuk koperasi, karena ada bantuan excavator yang dapat diakses. Excavator dapat dipakai untuk membuat kolam-kolam baru dan juga membuat dan memperbaiki saluran irigasi tambak atau kolam. Nanti ada pendampingan juga dari penyuluh dan UPT," lanjutnya.

“Tidak hanya itu, kami juga bergerak cepat dengan menggandeng FAO. Kami sudah kirimkan proposal. Mereka sudah setuju untuk membantu pembudidaya yang terdampak tsunami,” tambahnya.

Revolusi Industri 4.0, KKP Dorong Sentra Budidaya Lele Berbasis Digital

Halaman: 
Penulis : Riana