logo


Mewujudkan Pelayanan Navigasi Penerbangan yang Aman, Selamat dan Efisien

Salah satu faktor penting peningkatan kinerja penerbangan Indonesia yakni kontribusi dari sektor air navigation

14 Februari 2019 16:41 WIB

Marsekal Madya (Purn) Daryatmo, S.IP
Marsekal Madya (Purn) Daryatmo, S.IP Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dunia internasional kini telah mengakui kinerja penerbangan Indonesia. Hal tersebut terlihat dari hasil on side visit ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) pada tahun 2017 lalu yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara terbaik kedua setelah Singapura dalam hal keselamatan penerbangan. Sementara itu pada tingkat Asia Pasifik, Indonesia masuk dalam peringkat ke-55 yang sebelumnya di peringkat 151.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa kinerja penerbangan Indonesia diakui sangat baik oleh dunia internasional, terutama dalam hal implementasi aturan-aturan keselamatan penerbangan Internasional yang tercantum dalam annex 1 s/d 19 International Civil Aviation Organization (ICAO). Sebagai cacatan saja, ada 8 area/parameter yang menjadi fokus ICVM dari ICAO, yaitu aturan atau undang-undang, organisasi, lisensi personil, kelaikan udara, operasi, air navigation, aircraft investigation (KNKT), dan bandar udara.

"Salah satu faktor penting peningkatan kinerja penerbangan Indonesia yakni kontribusi dari sektor air navigation, dalam hal ini dilakukan oleh Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indoensia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia," ujar Marsdya (Purn) Daryatmo, S.IP. kepada wartawan, Kamis (14/2).


Ini 5 Nama Dewan Pengawas AirNav Indonesia yang Baru Saja Diangkat Menteri BUMN

AirNav dibentuk tidak lain untuk menjamin terwujudnya misi penerbangan yang aman dan selamat. Setidaknya ada 2 (dua) hal yang melahirkan ide untuk membentuk pengelola tunggal pelayanan navigasi, yang pertama adalah tugas rangkap yang diemban oleh PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero). Kedua adalah hasil Audit International Civil Aviation Organization (ICAO) tehadap penerbangan di Indonesia yang menyatakan penerbangan di Indonesia tidak memenuhi syarat minimum requirement.

Dengan alasan itu, pada bulan September 2009, mulai disusun Rancangan Peraturan Pemerintahan (RPP) sebagai landasan hukum berdirinya Perum LPPNPI. Pada 13 September 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan RPP menjadi PP 77 Tahun 2012 Tentang Perum LPPNPI. PP inilah yang menjadi dasar hukum terbentuknya Perum LPPNPI.

Saat ini, LPPNPI menjadi ujung tombak bagi terwujudnya keselamatan penerbangan, karena LPPNPI bertugas memberikan layanan lalu lintas penerbangan, agar misi penerbangan dapat berjalan dengan aman, selamat dan efisien.

LPPNPI secara terus menerus berupaya untuk mengeliminasi semua potensi kejadian yang memiliki risiko tinggi terhadap pengguna jasa navigasi penerbangan maupun orang-orang yang bekerja atau berkunjung ke tempat kerja Perum LPPNPI.

Mewujudkan Pelayanan Navigasi Penerbangan yang Selamat

Daryatmo menjelaskan, bicara AirNav adalah identik dengan keselamatan, karena AirNav sendiri dibentuk tidak lain untuk menjamin terwujudnya misi penerbangan yang aman dan selamat. Oleh sebabnya LPPNPI menjadi ujung tombak bagi terwujudnya keselamatan, karena LPPNPI bertugas memberikan layanan lalu lintas penerbangan, agar misi penerbangan dapat berjalan dengan aman, selamat dan efisien.

Dari aspek keselamatan (safety), mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI ini menjelaskan bahwa pelayanan navigasi penerbangan yang selamat ditentukan oleh beberapa unsur, yaitu SDM berkualitas yang terus ditingkatkan melalui pendidikan dan latihan. Standart Operation Prosedur (SOP) yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, profesional dan konsisten. Unsur ketiga adalah dukungan teknologi yang terus disesuaikan keandalannya.

Mengingat tingkat resiko yang dihadapi, maka LPPNPI secara terus menerus berupaya untuk mengeliminasi semua potensi kejadian yang memiliki risiko tinggi terhadap pengguna jasa navigasi penerbangan maupun orang-orang yang bekerja atau berkunjung ke tempat kerja Perum LPPNPI.

Penerbangan Efisien

Misi maskapai adalah mengangkut penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain dengan aman dan selamat. Disadari pula bahwa maskapai juga entitas bisnis yang berorientasi keuntungan tanpa mengesampingkan faktor keselamatan dan keamanan. Karena itu, sebagai unsur layanan navigasi penerbangan, maka AirNav juga mempertimbangan efiensi dan efektifitas misi penerbangan.

Daryatmo yang pernah menjabat sebagai Kepala Basarnas ini mengatakan, banyak hal yang menentukan efisiensi penerbangan, antara lain kapasitas Runway, konfigurasi taxiway, kapasitas apron dan penunjang lainnya. Itu pula yang menjadi persoalan selama ini. Kenyataannya, pesatnya pertumbuhan pergerakan lalu lintas penerbangan tidak dimbangi oleh ketersediaan insfrastruktur bandara sebagai tempat melayani kegiatan lalu lintas pesawat dan penumpang.

Ketidakseimbangan kondisi tersebut, seringkali mengakibatkan terganggunya operasional penerbangan. Atas masalah keefesiensian tersebut, Daryatmo menyarakankan kepada pihak-pihak terkait hendaknya terus berupaya agar masalah keefisiensian dan kenyamanan dapat terwujud.

"Kita menyakini, AirNav sebagai ujung tombak layanan navigasi penerbangan sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk di dalamnya adalah peremajaan dan modernisasi peralatannya, yang menurut catatan telah terpasang CNS-A sebanyak 1.879 set," imbuh Daryatmo.

AirNav Indonesia Raih Predikat Excellent, Berikut Aspek yang Dinilai

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Vicky Anggriawan