logo


Pengamat: Usaha Rintisan Start Up di Indonesia 99 Persen Gagal

Kegagalan itu, sambung Yudi, karena kebanyakan start up di Indonesia tidak menghadirkan solusi yang benar-benar baru atau inovatif

12 Februari 2019 11:38 WIB

Pengamat ekonomi digital yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia, Yudi Candra
Pengamat ekonomi digital yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia, Yudi Candra ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat ekonomi digital yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia, Yudi Candra, megungkapkan, dari sekitar 1.500 hingga 1.700 start up di Indonesia, yang sukses masih relatif kecil, sekitar 1 persennya saja, 99 persennya gagal.

"Mayoritas start up kita gagal dalam mengembangkan bisnisnya," ungkap Yudi, di Jakarta, Selasa, (12/2).

Kegagalan itu, sambung Yudi, karena kebanyakan start up di Indonesia tidak menghadirkan solusi yang benar-benar baru atau inovatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat.


Sudirman Said: Startup Gila-gilaan Jadi Jalan Tol Produk Global

Ibaratnya, sudah ada ride hailing sebesar Gojek, lantas berbondong-bondong bikin platform yang sama Golek, Lojek, Tripy di Pontianak, Bloon di Bengkulu, dan M-Jek di Mataram. Kata Yudi, itu namanya bunuh diri.

"Sifatnya masih ikut-ikutan. Kalau dengar ada yang berhasil, baru buat. Padahal jika ingin berhasil harus bisa membuat sesuatu yang baru dan original," sambungnya.

Menurutnya, start up harus menemukan produk yang inovatif dan modern kalau perlu sesuatu hal yang baru. Selain itu juga harus menemukan product-market fit terutama yang usaha rinyisan yang benar-benar baru, agar tidak kehabisan modal.

"Ketika pendanaan adalah barang langka, sementara kamu butuh terus berjalan dan menekan burn rate/ongkos operasional per bulan sementara perusahaan masih merugi. Disitulah pentingnya kreatifitas dan inovasi," ujarnya.

Adapun bicara investor, menurut Yudi lagi, jangan pernah berpikir bahwa setelah buka usaha start up lalu mencari investor. Tapi seorang pengusaha start up harus punya mind set pengembangan, jika udah berhasil pasti investor datang dengan sendirinya.

"Pengusaha selalu berkutat pada minimnya modal, kalau bukan pinjaman di bank, pengharapan adanya yang mau investasi. Yang harus jadi garis besar adalah seorang pengusaha bagaimana menjadikan produknya laku dan dikenal banyak publik. Bank maupun investor akan datang dengan sendirinya," katanya.

ACIS 2018: Level Korporasi Besar Disarankan Belajar dari Startup

Halaman: 
Penulis : Riana