logo


Pembangunan Smelter Nikel Masih Mendominasi

Fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter yang telah beroperasi sampai akhir tahun 2018 mencapai 27 buah

11 Februari 2019 19:18 WIB

Seorang pekerja sedang meratakan biji nikel di pertambangan milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Seorang pekerja sedang meratakan biji nikel di pertambangan milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. REUTERS/Yusuf Ahmad

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter yang telah beroperasi sampai akhir tahun 2018 mencapai 27 buah.

Mayoritas smelter yang telah beroperasi adalah pengolahan dan pemurnian nikel sebanyak 17 unit, disusul oleh 4 smelter besi, serta smelter tembaga, dan bauksit masing-masing 2 unit.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menyatakan bahwa kewajiban pembangunan unit pengolahan dan pemurnian ini harus selesai paling lambat tahun 2022.


Jonan Bilang Empat Industri Ini Akan Sangat Berkembang di Masa Depan, Apa Saja?

"Progress realisasi kewajiban pembangunan smelter atau hilirisasi untuk produk tembaga, nikel, bauksit, besi, mangan dan timbal dan seng tahun 2016 sebanyak 20 smelter, tahun 2017, nikel bertambah 3 smelter, dan besi bertambah 2 smelter. Tahun 2018, smelter nikel bertambah lagi sebanyak 2 smelter. Total realisasi semelter hingga tahun 2018 sebanyak 27 smelter," ujar Jonan dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Senin (11/2).

Jonan menambahkan, progress pembangunan dan realisasi investasi smelter untuk produk tembaga ada 2 smelter yang eksisting dan yang rencana ada 3 smelter, sehingga jumlahnya menjadi 5.

Kemudian, nikel ada 17 yang eksisting dan ada rencana 16 smelter, sehingga totalnya akan berjumlah 33 smelter.

Akhirnya, Pabrik Hilirisasi Batubara Jadi DME Segera Dibangun

Halaman: 
Penulis : Riana