logo


Pulihnya Ekonomi AS Dinilai Akan Genjot Harga Batubara

Pemerintah memperkirakan harga batubara akan menyentuh level US$ 70 per ton

18 Februari 2015 11:25 WIB

tambang batubara
tambang batubara

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Perekonomian Amerika Serikat (AS) yang berangsur semakin membaik dan peran Tiongkok yang turut menentukan harga komoditas global diyakini akan memicu perubahan harga batubara dunia, yang mengalami kemerosotan dalam dua tahun terakhir.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Sujatmiko mengatakan, diperkirakan harga komoditas batubara dunia akan segera merangkak naik. Dia menjelaskan, beberapa negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan India yang merupakan mitra dagang Paman Sam akan kembali menggenjot produksi barang-barang dan mengekspornya ke AS seiring meningkatnya konsumsi domestik Amerika.

Tingginya konsumsi domestik akan memicu peningkatan angka produksi dan membuat ketiga negara Asia itu untuk terus menambah sumber energi lebih banyak agar bisa mengoperasikan pabrik-pabriknya.


Selain Harga, Pemerintah Juga Prioritaskan Pengelolaan Lingkungan di Subsektor Batubara

"Kondisi ini diharapkan bisa mempengaruhi naiknya harga komoditas batubara. Tentu saja mereka akan menyerap hingga pada akhirnya harga batubara akan kembali merangkak. Saya perkirakan harga batubara dunia tahun ini berada di level US$ 70 per ton," katanya.

Meski demikian, Sujatmiko melanjutkan, pemerintah menetapkan harga batubara acuan (HBA) Februari 2015 di angka US$ 62,92 per ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan HBA Januari kemarin yang berada di angka US$ 63,84 per ton.

Dia menambahkan, koreksi harga tersebut dikarenakan rendahnya jumlah permintaan negara-negara pengimpor batubara Indonesia seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan India. "Memang perbaikan tidak akan secepat itu, tapi saya optimis batubara akan naik ke level US$ 70 per ton," katanya.

Sebelumnya, pakar ekonomi Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono mengatakan, kebijakan pengurangan konsumsi batu bara Tiongkok disebabkan Bank Dunia meminta mereka untuk menurunkan pertumbuhan ekonominya. Jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok diturunkan, makan penggunaan batu bara juga otomatis akan berkurang.

"Tingginya konsumsi batu bara Tiongkok menyebabkan polusi, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Uap mereka. Tiongkok juga diminta mengganti atau mengkonversi pembangkit listriknya dengan energi lain selain batu bara, terutama minyak, karena saat ini harga minyak sedang turun," kata Tony di Jakarta, Senin (16/2).

Dia mengatakan, melihat kenyataan ini, komoditas batu bara tidak bisa lagi menjadi andalan ekspor karena Tiongkok sebagai konsumen terbesar telah menurunkan permintaannya seiring dengan melemahnya permintaan pasar dunia, dan jatuhnya harga.

Harga Batu Bara Kalori Tinggi Menurun, PT Bukit Asam Tetap Pertahankan Target Produksi

Halaman: 
Penulis :