logo


Pertamina EP Komit Lestarikan Hutan Mangrove Lubuk Kertang

Pertamina EP juga mendukung kegiatan pelestarian lingkungan dengan menjaga hutan mangrove sebagai paru-paru dunia.

8 Januari 2019 14:31 WIB

Ilustrasi Bibit Mangrove
Ilustrasi Bibit Mangrove Net

PANGKALAN SUSU, JITUNEWS.COM - PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor hulu migas selalu mengedepankan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan menjadi prioritas terdepan.

Salah satu bentuk pelaksanaan tanggung jawab sosial itu adalah komitmen dan dukungan Pertamina EP dalam menjaga dan melestarikan kawasan ekowisata hutan mangrove oleh Kelompok Mekar di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Menurut Gondo Irawan, Pertamina EP Asset 1 Pangkalan Susu Field Manager, pengembangan ekowisata mangrove di Desa Lubuk Kertang merupakan salah satu bentuk sinergi antarinstitusi, yakni kerjasama Pertamina EP Asset 1 Pangkalan Susu Field dengan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah I Stabat, Langkat.


Jonan Minta Pos Pengamatan Gunungapi Bromo Dipindah, Alasannya?

Apalagi, Lubuk Kertang merupakan salah satu daerah operasional Pertamina EP Field Pangkalan Susu sehingga keberhasilan pengembangan ekowisata hutan mangrove perlu terus dikembangkan dan secara bertahap bisa menjadi pusat rekreasi dan edukasi mangrove.

"Kami ikut mendukung pengelolaan hutan mangrove ini oleh Kelompok Mekar. Semoga keberadaan hutan mangrove ini terus lestari. Selain menjadi pusat rekreasi dan edukasi, keberadaan hutan mangrove ini juga bisa memberikan tambahan pendapatan bagi Kelompok Mekar dan juga sumber PAD bagi Pemerintah Kabupaten Langkat," beber Gondo, di Pangkalan Susu, Minggu (6/1) lalu.

Gondo mengatakan, bantuan yang diberikan Pertamina EP Pangkalan Susu, antara lain berupa studi banding bagi Kelompok Mekar, material untuk pembuatan tracking, material untuk posko informasi dan pembangunan galeri, serta sign board Lubuk Kertang.

"Dari informasi yang saya terima, pada 2018 pendapatan Kelompok Mekar sudah mencapai Rp 300 juta lebih, naik signifikan dibandingkan 2017 yang baru Rp150 juta. Semoga pada 2019, pendapatan Kelompok Mekar dari pengelolaan hutan mangrove akan terus bertambah," katanya.

Sementara itu, Bustami, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) I Stabat, mengatakan, Kelompok Mekar yang merupakan pengelola kawasan mangrove, sudah berikrar dan telah menandatangani perjanjian kerjasama kemitraan kehutanan dengan KPH Wilayah I Stabat. Kelompok Mekar diberi kepercayaan oleh KPH I Stabat melihat rekam jejaknya yang baik dalam pengelolaan hutan mangrove seluas 60 hektar.

"Kelompok ini melibatkan masyarakat sekitar hutan sehingga KPH mendukung keberadaan kelompok tersebut," ujarnya.

Pangkas Produksi Batubara, Alasan KESDM Ternyata…

Halaman: 
Penulis : Riana
 
×
×