logo


Cek! Ini Tiga Strategi Mitigasi Bencana Badan Geologi KESDM

KESDM juga telah merumuskan strategi mitigasi bencana geologi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2011

4 Januari 2019 09:43 WIB

(Kiri ke Kanan): Surono, Ahli Vulkanologi; Mayjen TNI (Purn) Suharno, Calon Anggota DPD RI Dapil Jabar; Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM: Marsdya (Purn) Daryatmo, S.IP, Mantan Kepala Basarnas; Rendy Lamadjido, Anggota Komisi V DPR RI; Muhammad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG; dan, Vicky Anggriawan, Wapemred Jitunews.com.
(Kiri ke Kanan): Surono, Ahli Vulkanologi; Mayjen TNI (Purn) Suharno, Calon Anggota DPD RI Dapil Jabar; Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM: Marsdya (Purn) Daryatmo, S.IP, Mantan Kepala Basarnas; Rendy Lamadjido, Anggota Komisi V DPR RI; Muhammad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG; dan, Vicky Anggriawan, Wapemred Jitunews.com. Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Badan Geologi memiliki tugas dan fungsi terkait kebencanaan, yakni melakukan penelitian dan pelayanan mitigasi di bidang bencana geologi.

Kementerian ESDM juga telah merumuskan strategi mitigasi bencana geologi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2011 tentang Pedoman Mitigasi Bencana Gunungapi, Gerakan Tanah, Gempa Bumi, dan Tsunami.

Strategi pertama adalah melakukan penelitian atau kajian terhadap aspek-aspek yang menjadi bencana geologi, baik itu gunung api, gempa bumi, longsor dan tsunami. Pemantauan gunungapi telah dilakukan pada 127 gunungapi aktif, dan 69 di antaranya dipantau selama 24 jam dalam sehari. Salah satunya Gunung Anak Krakatau.


Mbah Rono: Kita Bicara Nyawa, Alam Itu Harus Jujur, karenanya...

"Semua kajian sudah selesai dan sudah tersebar di berbagai daerah. Kita juga sudah mengembangkan monitoring, khususnya terkait pemantauan gunung api. Dari 127 gunungapi aktif di Indonesia, 69 gunungapi dipantau 24 jam sejak beberapa tahun yang lalu. Termasuk Anak Gunung Krakatau yang di Selat Sunda. Anak Gunung Krakatau mulai aktif pada tahun ini pada tanggal 29 Juni 2018," jelas Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM, Rudy Suhendar, dalam dalam Forum Jitu “Mitigasi Bencana Masih Menjadi PR”, yang digelar Jitunews.com, di Jakarta, Kamis (3/1).

Strategi yang kedua, lanjut Rudy, adalah melakukan pemetaan yang diharapkan akan mengeluarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api, Gempa Bumi, Tsunami, dan Gerakan Tanah.

"Itu semuanya telah kita lakukan dan telah kita sampaikan ke Pemerintah Daerah atau otoritas-otoritas yang menggunakannya," terangnya.

Salah satu peta KRB yang telah dipublikasi adalah Peta KRB Tsunami, di mana pesisir Banten serta Lampung sudah termasuk di dalamnya sejak tahun 2009.

"Pesisir Banten dan Lampung itu pada tahun 2009 sudah publish Peta KRB Tsunami, bukan hal yang baru. Berkaitan dengan tata ruang, sebenarnya kalau tata ruangnya kuat, berbasis kebencanaan, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004, itu tidak akan terjadi masalah sebenarnya. Itu masalah implementasi," tandas Rudy.

Strategi yang ketiga adalah melakukan sosialisasi. Rudy pun mengungkapkan bahwa sosialisasi yang dilakukan Badan Geologi masih terdapat keterbatasan karena lingkup kerja yang begitu luas. Rudy pun mengharap adanya sosialisasi terkait mitigasi bencana dari Pemerintah Daerah. Badan Geologi juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Memang ada keterbatasan karena lingkup kerja dari Badan Geologi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Maka diharapkan sosialisasi itu datang dari Pemerintah Daerah, kita juga koordinasi bersama BNPB, BPBD, jadi semua data kita itu disampaikan," ujar Rudy.

Pengorganisasian Tanggap Darurat Penanganan Bencana

Halaman: 
Penulis : Riana