logo


Begini Strategi Mitigasi Bencana ala Badan Geologi ESDM

Rudy menuturkan, hingga saat ini, Badan Geologi terus berinovasi dengan teknologi canggih agar dapat mengantisipasi bencana sejak dini

3 Januari 2019 16:09 WIB

(Kiri ke Kanan): Surono, Ahli Vulkanologi; Mayjen TNI (Purn) Suharno, Calon Anggota DPD RI Dapil Jabar; Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM: Marsdya (Purn) Daryatmo, S.IP, Mantan Kepala Basarnas; Rendy Lamadjido, Anggota Komisi V DPR RI; Muhammad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG; dan, Vicky Anggriawan, Wapemred Jitunews.com.
(Kiri ke Kanan): Surono, Ahli Vulkanologi; Mayjen TNI (Purn) Suharno, Calon Anggota DPD RI Dapil Jabar; Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM: Marsdya (Purn) Daryatmo, S.IP, Mantan Kepala Basarnas; Rendy Lamadjido, Anggota Komisi V DPR RI; Muhammad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG; dan, Vicky Anggriawan, Wapemred Jitunews.com. Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar, mengatakan, pihaknya sudah melakukan mitigasi bencana atau serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana.

“Bencana ada kaitannya dengan manusia. Resiko adalah multiplay antara bahaya yang mengancam, cara menguranginya adalah dengan mitigasi atau rangkaian untuk mengurangi bahaya. Badan geologi telah melakukan atas dasar Permen ESDM No 15/2011. Di situ kita melakukan tahapan mitigasi sebelum terjadi bencana,” papar Rudy dalam Forum Jitu “Mitigasi Bencana Masih Menjadi PR,” yang digelar Jitunews.com, di Jakarta, Kamis (3/1).

Rudy menuturkan, hingga saat ini, Badan Geologi terus berinovasi dengan teknologi canggih agar dapat mengantisipasi bencana sejak dini. Tak hanya itu, kata dia, Badan Geologi juga memiliki strategi untuk mengurangi resiko bencana.


Rekonstruksi Pascagempa dan Tsunami di Palu, Badan Geologi Rekomendasikan Ini..

“Selama belum bisa diramalkan kapan terjadi, yang bisa dilakukan saat ini salah satunya adalah adalah mendelineasi sumber gempa bumi. Kemudian, mengestimasi periode ulang gempa bumi. Adapun, strategi yang kita lakukan, adalah pertama, kita melakukan kajian aspek yang menjadi bencana geologi. Kedua, memonitoring/pemantauan, melakukan pemetaaan peta rawan bencana tsunami dll,” paparnya.

Rudy lalu mengatakan, penataan ruang juga hendaknya berbasis kebencanaan termasuk semua infrastruktur bangunan harus mempertimbangkan aspek kegempaan. Menurutnya, itu salah satu upaya mitigasi pengurangan risiko bencana geologi.

“Soal pemetaan ruang itu sudah kita sampaikan ke Pemda dan otoristas yang menggunakannya. Kemudian, strategi ketiga adalah sosialisasi. Kita memang punya keterbatsaan, karena lingkup dari Badan Geologi ini dari Sabang sampai Merauke. Kapasitas yang harus ditinggikan adalah kapasitas masyarakat, maupun lembaga nonpemerintah lainnya. Mudah-mudahan kalau ada kejadian itu bisa terhindar,” beber Rudy.

“Kita juga sekarang masuk wilyah-wilayah pendidikan. Peralatan juga cukup, tugas kita memberikan ketenangan kepada masyarakat. Selain itu, kita punya sistem mitigasi kebencanaan, namanya Magma Indonesia, ada di Google Play,” tambah Rudy.

Lebih lanjut, Rudy mengatakan, Badan Geologi selalu melakukan mitigasi bencana dengan memetakan daertah yang pernah terjadi tsunami dan gempa dalam sebuah peta kerawanan.

"Kami pun menegimbau agar masyarakat selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapinya karena tidak dapat diperkirakan kapan gempa terjadi," tuntas Rudy.

 

Eks Kabasarnas: Dibanding Jepang, Mitigasi di Indonesia Masih Sangat Minim

Halaman: 
Penulis : Riana