logo


Sukses Freeport, DPR Desak Jonan Timbang Ulang KK Vale

Hingga saat ini, Vale tak kunjung menawarkan saham 20% kepada Indonesia.

2 Januari 2019 16:03 WIB

Ilustrasi Smelter Bijih Nikel Vale Indonesia TBK INCO
Ilustrasi Smelter Bijih Nikel Vale Indonesia TBK INCO Kontan/Cheppy A. Muchlis

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi VII DPR, Ahmad M Ali, mendesak Menteri ESDM, Ignasius Jonan, menimbang ulang status kontrak karya (KK) Amandemen Vale.

Pasalnya, Ali menegaskan, hingga saat ini, Vale tak kunjung menawarkan saham 20% kepada Indonesia. Dan, realisasi pembangunan smelter di Bahodopi dan Pomalaa juga tersendat.

Padahal, pembangunan smelter di Bahodopi, pihak Pemda Sulteng telah lama mengajukan diri, namun tak ditanggapi serius.


2019, Target BBM Satu Harga Bakal Naik

"Hal ini cukup untuk menjadi basis pijak untuk memaksa pihak Vale berunding kembali dan mempercepat agenda perubahan status KK menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP), yang termasuk didalamnya divestasi saham 51% kepada pihak Indonesia," tegas Ali, Jakarta, baru-baru ini.

Ali menekankan, kegagalan agenda divestasi bakal mempersulit desakan agenda strategis lainnya.

Ia lantas menceritakan, pada 2014, energi bangsa tersita oleh perhelatan politik Pemilu dan Pilpres. Hal itu mengakibatkan isu amandemen KK PT Vale luput dari perhatian publik. Selain itu, penyelenggaraannya cenderung tertutup. Pihak Vale menunjukkan sikap yang kurang kooperatif.

"Hampir dua tahun sejak diundangkan, pihak Vale tak kunjung maju ke meja perundingan. Pun, ketika amandemen KK akhirnya disepakati, lagi-lagi menunjukkan kuatnya mental inlander mendera kita, khususnya pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam urusan ini," kata Ali.

Lebih jauh, Ahmad Ali menyikapi lemahnya upaya divestasi Vale. Menurutnya, lunaknya sikap pemerintah atas kepentingan divestasi yang notabene paling penting dan strategis menjadi cerminan pejabat berwenang terhadap Vale. KK Amandemen disampaikannya hanya mewajibkan pelepasan saham 20% kepada publik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tak Perlu Dikhawatirkan

Halaman: 
Penulis : Riana