logo


KKP: Budidaya Udang Masih Sangat Potensial

Dalam hal ini KKP telah menyiapkan regulasi bagaimana pengelolaan budidaya udang ini dilakukan secara berkelanjutan.

14 Desember 2018 20:45 WIB

Budidaya Udang di Indonesia
Budidaya Udang di Indonesia Dok. KKP

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Sobjakto, menegaskan bahwa budidaya udang masih sangat potensial dikembangkan.

Bukan tanpa alasan Slamet menyampaikan hal tersebut, menurutnya potensi sumberdaya akuakultur Indonesia sangat besar, total luas lahan indikatif mencapai 17,2 juta hektar dan diperkirakan memiliki nilai ekonomi langsung sebesar 250 milyar USD per tahun.

Dari potensi itu, khusus untuk pengembangan budidaya air payau memiliki porsi potensi hingga mencapai 2,8 juta hektar. Namun pemanfaatannya diperkirakan baru sekitar 21,64 % atau seluas 605.000 hektar, dimana dari luas tersebut, pemanfaatan lahan tambak produktif untuk budidaya udang diperkirakan mencapai 40 persen atau baru 242.000 hektar saja.


Ekspor Perikanan Naik 10%, Udang Masih Jadi Primadona

“Potensi yang sangat besar itu, jika mampu dimanfaatkan secara optimal akan mendongkrak konstribusi terhadap PDB Indonesia dimana sebagai gambaran tahun 2017 kontribusi sektor ini baru mencapai 2,57 persen terhadap PDB Indonesia,” ujar Slamet, saat memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan bertemakan “Bisnis Budidaya Udang Vannamei di Era Revolusi Industri 4.0”yang digagas oleh PT. Mina Maritim Indonesia dengan brand “Media Indonesia”, di Jakarta, Kamis (13/12) kemarin.

Dikatakan Slamet, berdasarkan volume produksi, dalam 5 tahun terakhir produksi udang nasional memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 15,7 Persen.

Udang juga merupakan komoditas unggulan ekspor perikanan nasional, selama 5 tahun terakhir (2013 -2017) BPS mencatat tumbuh rata-rata 6,43 persen.

Berdasarkan catatan KKP, volume ekspor udang hingga akhir tahun 2018 ini diyakini mampu mencapai 180 ribu ton naik dari 147 ribu ton pada tahun 2017. Sedangkan nilai ekspor naik dari USD 1,42 milyar menjadi USD 1,80 miliar.

Namun demikian, Slamet tetap mengingatkan bahwa pengelolaan proses produksi budidaya udang harus benar-benar dilakukan secara bertanggungjawab dengan menerapkan prinsip budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture).

“Kita tidak ingin, masa kelam ambruknya bisnis udang windu beberapa dekade yang lalu terulang kembali akibat pola pengelolaan yang tidak terukur dan sporadis. Pola pengelolaan tersebut antara lain lemahnya penerapan biosecurity, penggunaan input produksi yang tidak terukur dan minimnya pengendalian terhadap limbah budidaya,” tukas Slamet mengingatkan.

Pembudidaya Ikan Kabupaten Serang Terima Kartu dan Polis Asuransi

Halaman: 
Penulis : Riana