logo


Di Hadapan Mahasiswa, Arcandra Bicara Resiko Pengelolaan Migas Terkini

Saat ini, pengelolaan sumber daya alam di Indonesia mulai meninggalkan cara-cara konvensional

19 November 2018 13:10 WIB

Wamen ESDM, Arcandra Tahar
Wamen ESDM, Arcandra Tahar Dok. KESDM

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Saat ini, pengelolaan sumber daya alam di Indonesia mulai meninggalkan cara-cara konvensional. Kegiatan eksplorasi atau pencarian sumber minyak baru, banyak dilakukan di wilayah lepas pantai.

Resikonya pun semakin meningkat. Selain dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, dibutuhkan pula teknologi dan pendanaan yang besar untuk dapat mengelolanya.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, menyatakan, untuk pengelolaan migas lepas pantai dibutuhkan sekitar USD 15 s.d 20 juta untuk eksplorasi di shallow water.


Reformasi Minerba, KESDM Gaet IMI Tinjau Kebijakan Pertambangan RI

"Sedangkan untuk deep water, satu sumurnya bisa mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun," ungkap Arcandra di hadapan mahasiswa Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara, belum lama ini.

"Satu sumur (deep water) bisa 1,5 triliun, untuk dapat minyaknya belum tentu. Misalnya kita sudah berinvestasi untuk 4 sumur, berarti Rp 6 triliun, kalau tidak ketemu minyaknya, tidak akan kembali Rp 6 triliun itu," jelas Arcandra.

Arcandra mengungkapkan, hal seperti inilah yang harus dapat dipahami oleh setiap mahasiswa. Bahwa ini bukan permasalahan bangsa kita tidak mampu mengelolanya, melainkan karena dalam pengelolaan sumber daya alam tidak semua berujung pada kesuksesan, ada resiko disitu.

"Dan kita juga harus mengakui adanya gap yang cukup besar baik dari sisi human resources, teknologi dan juga pendanaan yang dimiliki," lanjutnya.

Ini Andalan PEP Asset 5 untuk Kerek Produksi Lapangan Bunyu

Halaman: 
Penulis : Riana