logo


Aparat Sengaja Pelihara Pungli dan Pemerasan di Lapas Perempuan Kelas II A Martapura Kalsel

Terkesan ada unsur kesengajaan untuk terus memelihara problem krusial di lapas untuk dijadikan proyek

12 November 2018 11:29 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi. shutterstock

Seolah tak ada perubahan, kondisi kehidupan Lembaga Permasyarakatan (lapas) di Indonesia sangat mengkwatirkan. Banyak persoalan krusial terjadi antara lain ; overcapacity, maraknya peredaran narkoba, mental aparat, ketimpangan perlakuan aparat hingga memicu terjadinya kerusuhan terus mendera pengelolaan Lapas sampai sekarang. Terkesan ada unsur kesengajaan untuk terus memelihara problem krusial tersebut untuk dijadikan proyek. Potret buruk pengelolaan Lapas mencerminkan dari carut marutnya sistem lembaga permasyarakatan.

Salah satunya yang terjadi di Lapas Perempuan Kelas II A Martapura, Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil investigasi yang kami lakukan dan laporan masyarakat, banyak terjadi malpraktek (pungutan liar dan pemerasan) yang dilakukan Aparat Lapas dengan berbagai modus operandinya.

Pertama, Jual Beli Remisi. Modusnya petugas registrasi melakukan pengelompokan terhadap warga binaan permasyarakatan (WBP) yang dikategorikan memiliki kemampuan finansial dg target jual beli remisi. Remisi yg ditawarkan adalah kategori Letter F/hangus milik WBP yg tidak dapat menebus remisinya dg sejumlah uang. Remisi Letter F ditawarkan kepada WBP yg memiliki kemampuan finansial dg harga antara Rp. 2 juta hingga mencapai Rp. 10 juta.

Praktek pungli atasnama “Remisi” Letter F yang terjadi di Lapas Perempuan Kelas II A Martapura telah terjadi lama, namun makin mengalami peningkatan sejak dua tahun terakhir ini dibawah Kalapas Ibu Yunengsih. Bahkan ada permintaan uang dengan "alasan" untk pembuatan taman, kolam, dll kepada WBP yg memiliki kemampuan finansial. Modusnya "pemerasan" pada WBP tersebut dijadikan tahanan pendamping (tamping) pemuka disetiap blok nya agar memudahkan pengakomodiran permintaan dari Kalapas. Praktek pemerasan ini berlangsung sebulan sekali, kadang satu minggu sekali secara terus menerus.

Kapasitas Lapas Perempuan kelas II A Martapura adalah 100 orang, tapi sampai bulan Oktober tahun 2018 warga binaannya mencapai 372 orang. Jika dalam setahun warga binaan mendapat dua kali remisi (Remisi Umum dan Remisi Khusus) maka dapat dikalkulasi rata-rata pungli yang terjadi bisa mencapai ratusan juta rupiah. Patut diduga bahwa maraknya pungli atasnama “remisi” dan "pemerasan" dilakukan secara terstruktur dan rapi sehingga patut diduga hasil kejahatan ini mengalir ke pejabat di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura, Kadiv, Kakanwil Hukum dan Ham Kalsel hingga ke level Direktur di Dirjen PAS.

Kedua, Problem overcapacity dijadikan modus memperlakukan WBP tidak manusiawi mendorong praktek jual beli fasilitas pelayanan di kamar Lapas yang dilakukan petugas rutan. Modusnya, petugas lapas sengaja menumpuk tahanan dalam jumlah banyak dalam satu ruangan. Tahanan yang ingin pindah dari ruangan sempit itu harus membayar hingga mencapai Rp 1 juta. Pemerasan pun dilakukan terhadap tahanan yang ingin menelepon keluarga. Begitu pula sebaliknya, keluarga yang ingin membesuk tahanan juga dimintai sogokan.


Kemendes PDTT Lantik Pejabat di Kawasan Transmigrasi

Soal Politikus Sontoloyo, Yasonna: Mari Berpolitik Secara Beradab

Halaman: