logo


Banjir Datang, Perum Bulog Perlu Operasi Pasar

Guna menstabilkan harga beras di masyarakat, maka Bulog perlu melakukan operasi pasar

9 Februari 2015 17:15 WIB

Operasi pasar bulog
Operasi pasar bulog

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Musim banjir sudah datang, Perum Bulog didesak untuk melakukan operasi pasar dan operasi pasar khusus agar musim hujan tahun ini tidak mengganggu produksi beras nasional yang berakibat pada naiknya harga beras.

Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Nellys Soekidi, mengatakan, guna menstabilkan harga beras di masyarakat, maka Bulog perlu melakukan operasi pasar. Jika tidak ada intervensi Bulog maka harga beras bisa jadi liar.

"Bulog tidak hanya menjamin ketersediaan beras, tetapi juga dapat menstabilkan harga pada saat musim penghujan dan transisi seperti saat ini. Tanpa intervensi Bulog melalui Operasi Pasar (OP), sudah pasti harga beras tidak terkendali," katanya.


Lelang Beras Tak Layak Konsumsi, Bulog Terima Rp 23,8 Miliar

Saat ini, harga beras grosir untuk jenis IR3, berkisar antara Rp8.800-8.900/kg. Sedangkan IR2, antara Rp9.200-9.300/kg, IR1 antara Rp9.400-9.500/kg, dan IR Super di atas Rp9.600/kg.

Nellys bilang, saat ini terdapat sedikit kenaikan harga, masih dalam kondisi wajar. Kondisi tersebut, setidaknya akan berlangsung hingga Maret 2015, ketika tiba musim panen raya. Untuk komoditas beras, tidak ada patokan harga normal. Yang penting itu tadi, masih tetap terkendalinya stabilitas harga. Karena jika harga tidak stabil, bukan hanya masyarakat yang menjerit, namun juga pedagang dan petani.

Pedagang sendiri, lanjutnya, tidak senang jika harga tinggi. Selain menambah beban modal, juga menghadapi risiko kerugian yang tidak sedikit. Kerugian bisa terjadi, ketika tiba-tiba harga turun secara drastis. "Namun syukurlah selama ini Bulog selalu melakukan intervensi, sehingga dalam kondisi apapun harga tetap stabil," sambungnya.

Peran Bulog tersebut, menurut Nellys, tidak hanya pada saat musim transisi seperti saat ini. Ketika musim panen raya, Bulog juga berperan melakukan pengadaan, yakni membeli langsung kepada petani. Dengan demikian, petani tidak dirugikan karena harga jualnya tidak anjlok.

"Jadi yang terpenting memang keseimbangan antara produsen, konsumen, dan pelaku usaha. Tanpa peran tersebut, harga bisa saja suatu saat melambung terlalu tinggi, namun pada saat yang lain juga anjlok terlalu rendah. Kondisi demikian sangat merugikan semua pihak," ucap dia.

Sebelumnya, Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Dody Gunawan Yusuf menyatakan indeks harga konsumen pada Januari 2015 mengalami deflasi. "Jawa Barat deflasi 0,37 persen, sementara nasional deflasi 0,24 persen," kata dia.

Dody mengatakan, deflasi di Jawa Barat terdorong oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) baik yang bersubsidi maupun non-subsidi, penurunan tarif angkutan, serta turunnya harga sejumlah komoditas seperti cabe. "Sebetulnya kalau siklus tahunannya, Januari biasanya inflasi karena terdorong harga beras tinggi karena belum panen, tapi deflasi terjadi karena terdorong penurunan harga BBM," kata dia.

BPS Jawa Barat mencatat andil inflasi untuk seluruh komoditas sepanjang Januari 2015 mencapai 0,88 persen. Sejumlah barang dan jasa yang tercatat naik sepanjang Januari 2015 diantaranya gas elpiji, telur ayam, daging ayam, serta beras. Sementara sejumlah kelompok barang dan jasa mendorong deflasi dengan nilai seluruhnya 1,25 persen, diantaranya bensin, solar, cabe merah, serta angkutan dalam kota.

 

Jaga Psikologi Pasar, Pemerintah Diminta Pastikan Stok Pangan Jelang Ramadan

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid