logo


Ini Inovasi Teknologi Akuakultur Berbasis Blue Economy yang Dikembangkan KKP

Pada momentum OOC tersebut, Slamet kembali menegaskan komitmen pengembangan perikanan budidaya berbasis teknologi berkelanjutan.

1 November 2018 19:50 WIB

Budidaya ikan
Budidaya ikan Dok. DJPB KKP

BALI, JITUNEWS.COM - Blue Economy merupakan dinamika pemikiran konsep pembangunan terbaru yang sedang berkembang dengan berlandaskan pada tiga pilar terintegrasi, yaitu ekologi, ekonomi dan sosial.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, pada kegiatan Ocean Our Conference (OOC) 2018 di Nusa Dua Bali, Selasa (30/10) lalu, menyampaikan berbagai inovasi teknologi akuakultur berbasis Blue Economy yang telah dikembangkan oleh KKP, antaranya pengembangan teknologi bioflok, sistem minapadi, penerapan recirculating aquaculture system (RAS) serta budidaya rumput laut hasil kultur jaringan.

Slamet memaparkan, pengembangan teknologi bioflok memungkinkan peningkatan produktivitas sebesar 50-90 kg/m3, ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan lahan dan sumberdaya air hingga 80%.


Harga Pakan Pabrikan Meroket, Pakan Mandiri Dilirik Pembudidaya Ikan

Sedangkan dari aspek sosial-ekonomi, penerapan teknologi ini dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan dan meningkatkan konsumsi ikan nasional.

Kemudian, pengembangan minapadi mampu meningkatjan produksi padi dari 5-6 ton/ha/panen menjadi 8-10 ton/ha/panen dengan efisiensi pemanfaatan lahan padi hingga 80%, serta menghasilkan padi bebas pestisida (organik) karena pupuk yang digunakan berasal dari sisa metabolisme ikan.

Penerapan RAS pada kegiatan budidaya mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali lipat, efisien dalam penggunaan air dan lahan hingga 80%, mudah dalam manajemen kualitas air dan dapat dilakukan sepanjang tahun karena pergantian air yang minim.

KKP Komitmen Lakukan Budidaya Ikan Berbasis Blue Economy

Halaman: 
Penulis : Riana