logo


Badan Geologi Kupas Jejak Patahan Palu-Koro, Pemicu Tsunami Palu dan Gempa Donggala

Gempa Sulteng tergolong gempa Tsunamigenik yang bersifat merusak, yang terjadi akibat aktivitas patahan mendatar mengiri turun.

5 Oktober 2018 20:20 WIB

Suasana jembatan kuning yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari gempa 7,7SR tersebut menyebabkan sejumlah bangunan hancur dan sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman
Suasana jembatan kuning yang ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari gempa 7,7SR tersebut menyebabkan sejumlah bangunan hancur dan sejumlah warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman ANTARA FOTO/M. Adimaja

BANDUNG, JITUNEWS.COM - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali merilis Geoseminar bertema "Jejak Patahan Palu-Koro (Gempa Palu dan Donggala)," hari ini di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/10).

Peneliti senior Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi, Asdani Soehaimi, mengungkapkan, gempa bumi Palu-Donggala-Sigi 28 September 2018 yang berpusat di sebelah timur Teluk Palu, yakni di sekitar Teluk Tambu adalah gempa bumi Tsunamigenik yang bersifat merusak, yang terjadi akibat aktivas patahan mendatar mengiri turun.

Dikatakan Asdani, pada peristiwa patahan ini, blok patahan bagian atas (hanging wall) yang terletak di sebelah timur lajur patahan bergerak turun (rake 24 derajat) ke arah utara, sedangkan blok patahan bagian bawah (foot wall) yang terletak di sebelah barat lajur patahan selain turun juga bergerak sedikit naik ke arah selatan.


Jonan: Gosip, Palu Tidak Akan Tenggelam!

"Mekanisme gerak patahan inilah yang menyebabkan terjadinya gelombang tsunami di teluk Palu," tegas Asdani, dikutip dari laman esdm.go.id, Jumat (5/10).

Menurut Asdani, daerah sepanjang lajur Patahan Palu-Koro-Matano adalah merupakan daerah yang beresiko tinggi bahaya bencana gempa bumi.

Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota yang berada di daerah sekitar dan berimpit dengan lajur patahan Palu-Koro-Matano harus menyusun tata ruang yang berbasis pada potensi bencana gempa.

Diungkapkan pula bahwa pembuatan peta mikrozonasi potensi bencana gempa bumi untuk Ibu Kota Provinsi, Kabupaten dan Kota sebaiknya dilakukan untuk level 1-3.

Jenis pemanfaatan dengan kategori resiko dalam SNI 1726:2012 dalam penempatan pemanfaatan ruang berbasis tingkat kerentanan dapat diterapkan.

Asdani menjelaskan, pembangunan infrastruktur gedung dan non gedung dianjurkan mengacu pada tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung (SNI 1726:2012).

Listrik Palu Telah Pulih 65%, Pasokan BBM 75%

Halaman: 
Penulis : Riana