logo


Begini Saran Pertamina Agar Penyaluran B20 Maksimal

Salah satu solusi yang dikaji adalah menetapkan satu suplier minyak sawit per daerah/lokasi.

28 September 2018 14:27 WIB

Ilustrasi gedung Pertamina.
Ilustrasi gedung Pertamina. Jitunews/Rezaldy

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Selang empat minggu berjalan, program biodiesel 20% untuk bahan bakar minyak jenis solar (B20) belum juga bisa diimplementasikan secara optimal. PT Pertamina (Persero), saat ini disebut sebagai satu-satunya perusahaan yang belum optimal menyalurkan B20.

Diketahui, dari data yang dipaparkan Pertamina di Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), selama 1 September sampai 25 September 2018, penyaluran B20 belum maksimal seiring terlambatnya suplai FAME.

FAME alias fatty acid methyl ester adalah bahan bakar nabati hasil olahan dari minyak kelapa sawit, atau unsur nabati yang menjadi bahan baku campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar.


PLTBm Deli Serdang Hemat Rp 98 Miliar Keuangan PLN

Adapun, beberapa daerah yang belum menerima pasokan minyak sawit rata-rata di Indonesia Timur. Di antaranya, Terminal BBM Tanjung Uban, Bau-Bau, Wayame, Manggis, Tanjung Wangi, Kupang, Makassar, Bitung, STS Balikpapan, dan STS Kotabaru terlambat.

Terkait hal itu, Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina, Gandhi Sriwidodo, mengatakan, Pemerintah bersama badan usaha tengah mencari solusi agar penyaluran B20 berjalan lancar.

Implementasikan B20, Pertamina Tunggu Pasokan FAME dari Produsen

Halaman: 
Penulis : Riana