logo


Strategi Jitu Kendalikan Trotol Pada Budidaya Bawang Merah

Serangan trotol tersebut akan menyebabkan kualitas umbi turun, berukuran kecil, dan berwarna kusam

28 Januari 2015 09:28 WIB

Trotol alias bercak ungu memang menjadi penyakit utama bawang merah. FOTO : ISTIMEWA
Trotol alias bercak ungu memang menjadi penyakit utama bawang merah. FOTO : ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Setiap kali memasuki musim tanam, petani bawang merah biasanya akan mengalami kekuatiran gagal panen. Penyebabnya adalah serangan cendawan Alternaria porri yang menyebabkan penyakit trotol. Gejala serangan cendawan tersebut ditandai hadirnya bercak berukuran kecil, melekuk, berwarna putih dengan pusat ungu. Ujung daunnya mengering dan daun akhirnya patah.

Umbi bawang merah yang bagus adalah yang berukuran besar dan berwarna merah cerah. Serangan trotol tersebut akan menyebabkan kualitas umbi turun, berukuran kecil, berwarna kusam, dan akan menyebakan harga jual bawang merah pun turun.

Trotol alias bercak ungu memang menjadi penyakit utama bawang merah. Biasanya cendawan Alternaria porri menginfeksi ketika tanaman membentuk umbi yakni 35-50 hari setelah tanam (hst).


Ini Penyebab Sayuran Organik Berbentuk ‘Tak Sempurna’

Menurut Haryadi dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian DIY, serangan trotol menggangu proses fotosintesis tanaman sehingga pengisian umbi. Dan biasanya serangan akan meningkat 2 kali lipat pada penananam di musim tanam kedua dubanding musim tanam pertama.

Ahli penyakit tanaman dari klinik tanaman di IPB, Dr Widodo menuturkan trotol menyebar melalui air dan angin. Periode embun ikut berperan serta menyebarkan cendawan yang menginfeksi hampir di sentra bawang merah di tanah air.

Lebih lanjut Widodo mengatakan, periode embun merupakan lama basahnya permukaan daun. Jangka waktunya 12-15 jam sejak matahri terbenam hingga terbit, saat itu adalah kondisi nyaman bagi cendawan untuk berkembang.

Pengendalian Trotol. Untuk mengendalikan trotol biasanya petani menyemprotkan fungisida berbahan aktif difenokonazol. Namun Widodo menuturkan, sebelum menggunakn pestisida ada baiknya petani mengenali terlebih dahulu sasaran yang akan dikendalikan.

“Ada beragam jenis fungisida sesuai kegunaannya. Oleh karena itu pastikan bahan aktif yang terkandung di dalamnya memang ditujukan untuk cendawan Alternaria porri,” katanya.

Widodo menyarankan sebaiknya petani janan menggunakan satu bahan aktif tertentu dalam jangka waktu lama karena justru akan membuat organisme pengganggu tanaman itu menjadi resisten. Apalagi jika penggunaannya tidak sesuai anjuran.

“Dalam satu musim tanam sebaiknya lakukan pergiliran pestisida dengan 2-3 macam bahan aktif,” tuturnya.

Tindakan preventif berupa kontrol tanaman 2 hari sekali sejak tanam menjadi penting. Begitu terlihat ada gejala tanaman sakit sebaiknya segera memotong daun yang terserang trotol lalu kubur dalam tanah atau bakar. Pemupukan berimbang juga membantu meminimalisir resiko serangan. Menurut Widodo kekurangan kalium akan menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit.

“Dengan menggunakan benih sehat, pengamatan tanaman, pemupukan berimbangm dan pemilihan pestisida yang tepat maka serangan trotol dapat ditekan,” pungkasnya.

(Sumber : Trubus)

Raup Untung Hingga Rp 5 Juta dari Pepaya California

Halaman: 
Penulis : Riana