logo


Perusak Ekonomi bangsa Lain, Pantaskah Amerika Serikat Disebut Negara Maju?

Krisis antara AS dengan Turki bukanlah hal yang baru, dan Kudeta Militer tahun 2016 telah menambah runcing konflik tersebut

16 Agustus 2018 11:01 WIB

Mata Uang Turki
Mata Uang Turki
dibaca 746 x

Perang ekonomi yang dilancarkan oleh Presiden Donald Trump terhadap Turki yang menyebabkan “hancurnya” Lira Turki tampaknya sama bahayanya dengan Kudeta Militer yang gagal pada tahun 2016 lalu, atau mungkin bisa jadi lebih berbahaya.

Krisis antara AS dengan Turki bukanlah hal yang baru, dan Kudeta Militer tahun 2016 telah menambah runcing konflik tersebut, ketika AS menolak permintaan Turki untuk mengekstradiksi Ustadz Fethullah Gulen yang dituduh oleh pemerintah Turki sebagai dalang utama dibalik Kudeta gagal tersebut.

Kalau melihat statement terakhir Presiden Erdogan tampaknya ia shock dan terkejut dengan sikap Trump kepadanya dan Turki selaku sekutu kuat AS di Kawasan sejak tahun 1952 ketika Turki bergabung menjadi negara pendiri NATO. Erdogan mengatakan, “Padahal kalian bersama kami di NATO, tetapi tega menusuk kami dari belakang!”. So, what’s new here?


PAN: Indonesia Harus Mencontoh Turki dalam Menyikapi Krisis Kemanusiaan Etnis Rohingya

Shock pada perlakuan AS seperti itu jelas menunjukkan bahwa presiden Erdogan telah kegeeran dan salah dalam menyikapi AS serta pemerintahannya saat ini, disamping juga menujukkan kalau Turki terlalu kepedean dengan persekutuannya dengan AS. Padahal jelas sekali AS juga telah menusuk dari belakang beberapa sekutunya yang jauh lebih penting dari Turki, seperti Jerman, Prancis, Kanada dan Meksiko, bahkan NATO Sendiri.

Satu hal yang tidak disadari atau mungkin belum dimengerti oleh Presiden Erdogan dan negara-negara Teluk bahwa AS itu tidak butuh pada sekutu, AS butuh kacung yang dengan mudah disuruh-suruh seperti Arab Saudi. Ya, kalaupun diterima sebagai sekutu strategis, pasti perlakuannya “Am superior, you’re subsidiary!”. Makanya ketika Presiden Erdogan mengeluh kok AS memperlakukan kawan lama seperti itu, itu artinya masih belum benar-benar mengerti AS, apalagi kawan lama negara Islam, seperti Turki!

Ya mungkin sebagai Muslim, Presiden Erdogan percaya bahwa Allah akan bersamanya, tetapi pada saat yang sama ia juga harus mengambil langkah kongkrit untuk menyelamatkan Lira, dan keluar dari krisis tersebut. Turki membutuhkan puluhan miliar Dollar suntikan dana dari negara sahabat di Teluk, utamanya Qatar untuk menguatkan Lira Turki. Pertanyaannya, apakah negara-negara Teluk itu “Have balls to stand with Turkey” dan menentang Uncle Trump? That’s the problem.

Presiden Erdogan menegaskan bahwa Turki akan mencari sekutu baru sebagai ganti AS kalau AS tetap tidak menghargai sekutu lamanya. Pertanyaan kembali muncul, dimana ada sekutu seperti itu? Siapa mereka? Berapa lama dibutuhkan waktu untuk menemukan sekutu itu? Kalaupun ada, apa yakin mereka mau menjadi sekutu Turki? Kalaupun ada, semuanya juga sedang kena sanksi AS!

Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan krisis Turki-AS:

Pertama: Pencidukan Pastur AS, Andrew Brunson oleh Turki, dan AS meminta agar Brunson segera dilepas tanpa syarat, termasuk syarat yang diajukan Turki untuk membarter Brunson dengan Gullen.

Kedua: Turki harus membatalkan transaksi pembelian misil S-400 dari Rusia dan membeli Patriot dari AS. Padahal sudah jelas, Patriot jauh kalah dari S-400, rudal amatiran Yaman saja masih ada yang gagal ditangkal oleh rudal Patriot di Arab Saudi.

Ketiga: Turki harus berkomitmen atas sanksi yang kenakan AS terhadap Iran.

Keempat: Turki harus mendukung “Deal of the Century”, merestui pemindahan Kedutaan AS ke Qudus dan menghentikan bantuannya kepada Hamas.

Tampaknya poin yang paling berbahaya adalah poin pertama, Trump telah memberikan tempo sampai 15 Agustus kepada Turki untuk melepaskan Brunson, dan sampai saat ini kelihatannya Presiden Erdogan masih tidak berniat tunduk pada ancaman Trump. Kelihatannya sanksi ekonomi akan ditambah lagi kepada Turki, setelah kemarin Trump menaikkan pajak sebesar 50 persen untuk produk besi dan aluminium Turki.

Berkomitmen pada sanksi ekonomi atas Iran adalah pilihan sulit bagi Turki, neraca perdagangan Turki-Iran mencapai 10 miliar Dolar pertahun, dan selain itu Turki juga mengimpor 50 persen kebutuhan minyaknya dari Iran.

Trump ingin melengserkan Erdogan dari kursi presiden dengan menggoyang ekonomi Turki agar rakyat turun ke jalanan melakukan demonstrasi seperti yang dilakukan di Iran karena “meroketnya” nilai Riyal Iran.

Partai Oposisi Turki sampai saat ini masih mendukung presiden, hal ini perlu diapresiasi. Meskipun oposisi, tapi mereka tetap mendukung kesatuan dan stabilitas negara. Semoga saja Presiden Erdogan mau mendengar usulan dari kelompok oposisi, yang jelas sampai saat ini Erdogan sudah menolak usulan para ekonom untuk menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi.

Setengah dari hutang Turki yang mencapai sekitar 400 miliar Dolar adalah dalam Dollar, melemahnya nilai Lira akan menjadi PR berat bagi pemerintah Turki untuk membayar hutang dan bunganya, apalagi Lira terus melemah.

Presiden Erdogan mampu menenangkan Rusia setelah menembak pesawat tempur Rusia di Suriah dengan meminta maaf kepada Presiden Vladimir Putin dalam bahasa Rusia.

Demi kemaslahatan Turki, Erdogan melakukan itu. Apakah kali ini Erdogan juga akan meminta maaf kepada Uncle Trump dan melepaskan pastur Andrew Brunson tanpa syarat?

Tidak ada yang tidak mungkin, Presiden Recep Tayyip Erdogan adalah seorang politikus ulung. Dulu, banyak pihak memprediksikan bahwa pemerintahannya akan “bubar” pasca kudeta militer tahun 2016, tetapi dengan berbagai manuver ia berhasil mengatasinya. One way or another, krisis kali ini juga Inshallah akan berlalu. Kapan dan bagaimana, biarlah waktu yang menjawab

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Trump Koyak Perekonomian Turki, Qatar Datang dengan Investasi 15 Miliar Dolar AS

Halaman: 
Admin : Vicky Anggriawan