logo


Bajing Raksasa Langka Itu Bernama Jelarang

Selama 10 tahun terakhir, jelarang mengalami penurunan populasi sekitar 30 %

21 Januari 2015 13:53 WIB

Jelarang merupakan hewan diurnal (beraktifitas di siang hari) dan arboreal. FOTO : ISTIMEWA
Jelarang merupakan hewan diurnal (beraktifitas di siang hari) dan arboreal. FOTO : ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Secara kasat mata, jelarang (Ratufa bicolor) memang pantas disebut bajing raksasa. Binatang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Black Giant Squirrel atau Giant Squirrel Malaya ini termasuk anggota bajing pohon (tree squirrel) atau bajing dari genus Ratufa yang mempunyai ukuran besar.

Selain ukurannya yang raksasa jelarang dikenali dengan ekornya yang super panjang, panjang tubuhnya antara 35-60 cm dan ekornya bisa mencapai panjang 120 cm. Selain itu binatang ini mempunyai bulunya yang berwarna coklat tua hingga hitam dengan bagian bawah (perut dan dada) berwarna putih.

Hewan ini mendiami hutan tropis dan subtropis di kawasan Asia hingga ketinggian 1.400 mdpl. Jelarang ditemukan hidup di Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, Vietnam. Di Indonesia, jelarang hidup di Kepulauan Mentawai, Sumatera, Belitung, Panaitan, Jawa dan Bali.


Unik, Tim Mahasiswa Ini Ciptakan Parfum dari Feses Domba!

Jelarang merupakan hewan diurnal (beraktifitas di siang hari) dan arboreal. Meskipun terkadang binatang ini juga turun dari pepohonan untuk mencari makanan di tanah. Binatang soliter ini menyukai biji-bijian, daun dan buah-buahan sebagai makanan favoritnya.

Populasi jelarang tidak diketahui dengan pasti, namun diduga populasi secara global telah mengalami penurunan yang signifikan. Selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan populasi sekitar 30 %. Penurunan populasi terbesar terjadi di semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Bali.

Di Jawa dan Bali, jelarang semakin langka dan sulit ditemukan, hewan ini hanya ditemukan di daerah yang jauh dari pemukiman manusia dan hutan. Di Jawa hewan ini dapat ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon dan Cagar Alam Penanjung Pangandaran.

Penurunan populasi jelarang sebagian besar diakibatkan oleh kerusakan dan berkurangnya hutan sebagai habitat sebagai akibat pembalakan liar, kebakaran hutan dan konversi menjadi daerah pertanian dan pemukiman. Selain itu penangkapan dan perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan ikut menyumbang tingkat penurunan populasinya di alam liar.

Karena laju penurunan yang terus terjadi, oleh IUCN Redlist, jelarang  dikategorikan dalam status konservasi ‘hampir terancam’ (NT). Dan perdagangan bajing raksasa ini diatur oleh CITES dan didaftar dalam Apendiks II.

Wow, Ternyata Anjing Dapat Mengendus Kanker Lho!

Halaman: 
Penulis : Agung Rahmadsyah, Riana