logo


Mengenal Loba, Tanaman Penguat Warna Alami Dari NTT

Kekuatan warna dengan daun loba tidak diragukan, hasil uji kekuatan warna loba termasuk awet.

16 Januari 2015 09:51 WIB

tanaman loba
tanaman loba

JAKARTA JITUNEWS.COM –Loba (Symplocos spp.) merupakan tanaman endemik di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak tumbuh di Flores dan Sumba. Loba bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang menghasilkan warna kuning. Selain itu, loba dapat digunakan sebagai penguat warna alami karena mempunyai kandungan logam Aluminium (Al) dan Besi (Fe) yang tinggi. Kandungan ini banyak dijumpai pada daun, kulit kayu dan akar.

Untuk memanfaatkan loba sebagai penguat warna alami, daun loba yang telah berguguran dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Hal ini juga bermanfaat untuk meningkatkan keawetan dalam penyimpanan. Daun yang sudah kering kemudian ditumbuk atau dihancurkan menjadi serbuk halus. Serbuk daun loba ini siap digunakan sebagai campuran adonan dalam pencelupan warna alami.

Dalam pemanfaatan serbuk daun loba sebagai penguat warna alami, konsentrasi/jumlahnya beranekaragam tergantung pada bahan pewarna alaminya. Sebagai contoh, untuk penguat warna merah dari serbuk akar mengkudu (Morinda citrifolia L) membutuhkan konsentrasi serbuk daun loba sebanyak 20% berat/volume. Begitu juga untuk warna biru dari fermentasi daun arum (Indigovera tinctoria). Sedangkan untuk warna kuning dari serbuk kulit nangka (Artocarpus heterophyllus), agak lebih besar yaitu 50% berat/volume.


Ganjar Pranowo Akan Coba Aplikasi Nelayan Pintar

Kekuatan warna dengan daun loba tidak diragukan, hasil uji kekuatan warna loba termasuk awet. Dengan syarat bahwa dalam proses pewarnaan, baik dalam tahap pencucian dan penjemuran di bawah terik matahari menggunakan Standar Industri Indonesia (SII).

Keunggulan daun loba sebagai penguat warna alami sudah terkenal. Banyak pengrajin tenun yang telah memanfaatkannya. Tidak hanya perajin tenun NTT, tetapi di luar NTT seperti Jawa, Kalimantan maupun Sulawesi. Hal ini memberikan peluang pasar bagi masyarakat NTT untuk menjual daun loba tersebut. Pada tahun 2009, pada tingkat pengumpul, 1 kg daun kering loba dijual dengan harga Rp. 45.000,-. Selain dalam bentuk daun kering, bisa juga dijual dalam bentuk serbuk.

Namun sayangnya, pengumpulan daun loba masih dilakukan secara tradisional dan hanya memanfaatkan potensi tanaman loba di alam, tanpa adanya usaha budidaya oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan perdagangan daun loba belum optimal. Selain itu, keberadaannya juga terancam karena potensi di alam semakin berkurang.

Kondisi di atas akan berdampak pada pengrajin tenun tradisional, terutama di NTT. Sebagaimana diketahui bahwa NTT terkenal dngan kerajinan tenunnya. Pada tiap-tiap kabupaten mempunyai ciri khas dan keistimewaan masing-masing, baik dalam corak maupun warna. Satu hal yang hampir sama yaitu pembuataannya masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan pewarna alami.

Sumber: Forda

Mahasiswa IPB Ciptakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Petani

Halaman: 
Penulis :