logo


Inovasi Baru Manfaatkan Lerak untuk Imbuhan Pakan Domba

Gas metan yang dieskresikan dari saluran pencernaan ternak dianggap menjadi penyumbang persoalan gas rumah ka

14 Januari 2015 09:42 WIB

kulit buah lerak (Sapindus rarak) yang mengandung saponin sebanyak 6 %. FOTO : ISTIMEWA
kulit buah lerak (Sapindus rarak) yang mengandung saponin sebanyak 6 %. FOTO : ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sektor agribisnisnya, khususnya sektor peternakan kadang kala sering dikambinghitamkan sebagai penyebab terbesar isu pemanasan global. Gas metan yang dieskresikan dari saluran pencernaan ternak ruminansia dianggap menjadi penyumbang persoalan gas rumah kaca.

Peneliti di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Yeni Widiawati berpendapat, produksi gas metan juga sebenarnya merugikan ternak. Pasalnya, energi yang seharusnya untuk proses produksi daging terbuang percuma karena terkonversi menjadi metan.  

Gas metan diproduksi oleh bakteri metanogen yang hidup di rumen ternak. Bakteri ini tumbuh dan berkembang dengan menempel pada protozoa cilliata (bersilia) yang merupakan jenis protozoa merugikan.


Unik, Tim Mahasiswa Ini Ciptakan Parfum dari Feses Domba!

“Bakteri metanogen akan tumbuh subur sehingga produksi gas metan akan semakin meningkat. Juga protozoa memakan bakteri lain yang berperan dalam mencerna pakan,” tuturnya seperti dikutip Trobos.

Yeni dan tim tertarik dengan zat saponin karena berdasarkan literatur dari penelitian-penelitian terdahulu, zat saponin memiliki kemampuan membunuh protozoa dengan cara memecah dindingnya. Kelompok antinutrisi ini memiliki kemampuan saponifikasi atau menghasilkan busa yang dapat merusak dinding protozoa yang tipis.

“Saponin merupakan bahan aktif sebagai inhibitor proses metanogenesis bakteri melalui proses defaunasi protozoa rumen,” terangnya.

Sebagai sumber saponin, Yeni dan tim memanfaatkan kulit buah lerak (Sapindus rarak) yang mengandung saponin sebanyak 6 %. Bagian ini mengandung saponin yang lebih banyak ketimbang bijinya. Selain memiliki kadar saponin yang tinggi, tumbuhan ini juga mudah diperoleh dan terus menerus berbuah, sehingga sangat potensial.

“Tapi dengan kadar tersebut, pemberian pada ternak harus tinggi, sehingga perlu diproses lebih lanjut,” ujar Yeni.

Dengan alasan sifatnya yang lengket, mengharuskan buah lerak dikeringkan terlebih dahulu menggunakan oven bersuhu 60 0C. Setelah kering, dilakukan pengupasan untuk memisahkan kulit lerak dari bijinya.

Kemudian dilakukan penggilingan yang menghasilkan serbuk lerak. Serbuk lerak direndam di larutan metanol selama satu malam. Setelah proses perendaman, dihasilkan endapan yang merupakan ampas dan larutan berwarna coklat keruh yang mengandung saponin.

Larutan tersebut kemudian dikeringkan secara vakum dengan teknologi freeze dry. Dari proses ini dihasilkan serbuk yang merupakan hampir saponin murni dengan kandungan 15 % atau 2,5 kali lebih tinggi. Penyimpanan serbuk lerak di suhu ruang dapat mengubah wujud serbuk lerak menjadi semacam kristal. Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang higroskopis. Oleh karenanya, serbuk lerak dibungkus oleh kapsul dan disimpan dalam freezer. Jika penyimpanannya benar, pakan ini bisa bertahan hingga 3 tahun.  

 

Wow, Ternyata Anjing Dapat Mengendus Kanker Lho!

Halaman: 
Penulis : Riana