logo


Genosida Rohingya Nyata Terjadi. Ini Buktinya

Laporan tersebut meningkatkan dukungan bagi masyarakat internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dari Myanmar

2 Februari 2018 09:05 WIB

Situasi Krisis Kemanusiaan di Myanmar Foto: Istimewa
Situasi Krisis Kemanusiaan di Myanmar Foto: Istimewa

JITUNEWS.COM – Hasil penyelidikan eksklusif oleh kantor berita Associated Press (AP) menyebutkan ada lima kuburan massal di Myanmar. Selain menemukan kuburan massal, laporan itu juga mengungkap kesaksian seorang korban yang selamat dan kerabat korban, serta rekaman ponsel yang mencatat waktu setelah serangan militer Myanmar terhadap warga Rohingya.

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan terkuaknya lima kuburan massal yang belum pernah dilaporkan menunjukkan tanda-tanda genosida atau pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap warga etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Laporan AP menyebutkan, sebagaimana diberitakan BBC, pembunuhan massal itu kemungkinan terjadi dalam operasi militer pada akhir bulan Agustus 2017 lalu di Desa Gu Dar Pyin, Buthidaung, Rakhine.


PBB: Pengungsi Rohingnya Mulai Cemas Soal Kesehatan dan Keselamatan Mereka

Foto-foto citra satelit dan rekaman video menunjukkan bukti yang sama dengan kesaksian para warga desa yang berhasil melarikan diri ke negara tetangga Myanmar, Bangladesh. Di dalam lima kuburan massal tersebut diperkirakan terdapat 400 jenazah.

"Ya, saya pikir penemuan ini merupakan bagian dari tanda-tanda adanya genosida dan kita harus melakukan penyelidikan," tegas utusan khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, pada hari Kamis (01/02/2018).

"Sebelum Myanmar dan rakyatnya serta transisi demokrasinya melangkah lebih jauh, saya pikir Myanmar perlu membersihkan bagasinya: Anda melakukan, atau tidak? Dan jika mereka terbukti melakukan, maka harus ada pertanggungjawaban dan akuntabilitas," tambahnya.

Pemerintah Myanmar pernah membantah semua laporan yang mengindikasikan terjadinya genosida di Rakhine. Pemerintah Myanmar malah menuduh Rohingnya sebagai dalang kekerasan yang terjadi di Rakhine.

Namun ketika dimintai komentarnya tentang penemuan kuburan-kuburan massal baru ini, Menteri Besar Negara Bagian Rakhine, Tin Maung Swe, mengatakan, pihak berwenang akan menyelidiki penemuan itu.

"Kami baru saja mendengar berita ini dan meminta para pejabat setempat untuk mencari tahu dan mengecek benar atau tidak."

Wartawan AP, Foster Klug, menjelaskan kepada BBC bagaimana pihaknya mengindentifikasi kuburan massal dengan mencocokkan citra satelit dan rekaman video dengan kesaksikan para warga.

"Kami menggalinya dengan mewawancarai sekitar 30 penduduk desa tentang diskripsi rinci kuburan-kuburan massal itu, lokasinya di desa apa dan apa saja yang ada di dalamnya. Begitu kita mendapat keterangan rinci maka kita cocokkan dengan keterangan warga desa lain untuk memetakan lokasi kuburan-kuburan massal tersebut," papar Foster Klug.

Phil Robertson dari Human Rights mengatakan bahwa laporan tersebut meningkatkan dukungan bagi masyarakat internasional untuk menuntut pertanggungjawaban dari Myanmar dan menggarisbawahi perlunya embargo senjata yang dipimpin oleh PBB ke negara tersebut.

"Laporan AP bahwa (tentara) membawa asam ke Gu Dyar Pin untuk mengubah bentuk tubuh dan membuat identifikasi lebih sulit sangat memberatkan, karena menunjukkan tingkat pra-perencanaan dari kekejaman ini," kata Robertson Al Jazeera.

"Ini saatnya Uni Eropa dan AS untuk serius mengidentifikasi dan meratakan sanksi yang ditargetkan terhadap komandan militer dan tentara Myanmar yang bertanggung jawab atas kejahatan hak asasi manusia ini," imbuhnya pada hari Kamis (1/2/2018).

Cerita Fadli Zon Saat Mengunjungi Pengungsi Rohingya

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas
 
×
×