logo


Laut Merah Riwayatmu Kini dan Masa Depan

Selama beberapa dekade lalu, Laut Merah memang dikenal sebagai laut yang dimiliki oleh negara-negara Arab, namun konflik yang terjadi akhir-akhir ini di sekitar laut Merah sangat berpotensi memecah perang besar antara berbagai pihak yang ingin menguasai l

18 Januari 2018 09:16 WIB

dibaca 4441 x

Selama beberapa dekade lalu, Laut Merah memang dikenal sebagai laut yang dimiliki oleh negara-negara Arab, namun konflik yang terjadi akhir-akhir ini di sekitar laut Merah sangat berpotensi memecah perang besar antara berbagai pihak yang ingin menguasai laut Merah tersebut.

Konflik Teluk (Saudi-Qatar), perang Yaman dan eskalasi ketegangan di sungai Nil, semuanya berpotensi memicu perang langsung atau perang proxy di perairan laut Merah. Laut Merah merupakan salah satu jalur perdagangan yang cukup sibuk, dimana 13 persen dari perdagangan dunia melewati Laut Merah, dan sekitar 18 juta barel minyak melewati laut Merah setiap hari.

Ada 3 negara yang menguasai pintu masuk Laut Merah dari Selatan teluk Bab Mandib, yaitu Djibouti, Eritrea dan Yaman. Teluk Bab Mandib telah menjadi medan magnet bagi negara-negara besar untuk berebut mendirikan pangkalan militernya. AS, Rusia, Inggris, China dan Perancis semuanya memiliki pangkalan militer di Djibouti, dan baru-baru ini Italia, Jepang dan Arab Saudi juga ikutan mendirikan pangkalan militernya di Djibouti. Israel dan Emirates memilih mendirikan pangkalan militernya di Eritrea, sementara Turki memilih Somalia dan Sudan yang ada di pesisir Laut Merah untuk mendirikan pangkalan militernya.


Asiik! 3 Drama Korea Ini Bakal Rilis di Tahun 2018 lho

Kunjungan presiden Erdogan pada 24 Desember lalu selama 3 hari ke Sudan berhasil menandatangani 13 MoU terkait kerjasama perdagangan dan kerjasama pertahanan bilateral antara Turki dan Sudan, salah satunya adalah penyewaan pulau Sawaken Sudan kepada Turki selama 99 tahun untuk dijadikan pangkalan militernya. Kunjungan tersebut yang semula terkesan biasa, ternyata telah memicu polemik di Kawasan.

Mesir merasa sensi dan curiga terhadap gerak-gerik Turki di Sudan yang berada di Selatannya, mengingat eratnya hubungan AKP dengan IM yang “dizalimi” di Mesir, kunjungan itu juga dirasakan oleh Mesir sebagai ancaman karena sangat kental dengan aroma kemesraan AKP dengan IM Sudan. Makanya, Mesir memanfaatkan kunjungan presiden Eritrea ke Cairo kemarin untuk diajak masuk dalam Koalisinya yang anti-Turki yang turut didukung oleh Saudi dan Emirates.

Pemerintah Mesir memang tidak mengomentari kunjungan Erdogan ke Sudan, tetapi media Mesir menganggap bahwa kunjungan Erdogan dan rencana pendirian pangkalan militernya di Sawaken Sudan merupakan ancaman bagi stabilitas dalam negeri Mesir. Dan Erdogan ketika mengangkat 4 jari sebagai simbol “Rab’a” di Istana Cartage Tunis kemarin pasca kunjungan ke Sudan jelas-jelas tidak menyembunyikan kebenciannya pada presiden Al Sisi.

Para pengamat mengatakan bahwa front Timur Sudan dan Selatan Mesir semakin memanas, dimana Koalisi Mesir-Eritrea sangat mungkin bentrok dengan koalisi Sudan-Turki yang didukung oleh Qatar. Berkali-kali terdengar berita bahwa pasukan Mesir sudah mulai berkonsentrasi di dekat kota Kassala Sudan, hal tersebut telah memaksa pemerintah Sudan untuk mengumumkan status darurat di kota tersebut.

Negara Teluk yang memboikot Qatar pastinya berada di Kubu Mesir-Eritrea, karena mereka juga tidak suka kalau Turki memiliki pangkalan militer di Sudan, mereka tidak ingin skenario pangkalan militer Turki di Qatar terulang di Sudan, dimana Turki menempatkan sekitar 30 ribu pasukannya di Qatar. 30 ribu pasukan Turki itu telah berhasil menjaga Qatar dari intervensi militer Saudi Cs, setidaknya sampai saat ini.

Kali ini memang Turki telah mengambil langkah cerdas dalam ekspansi pengaruhnya di Afrika. Setidaknya terdapat 40 perwakilan Turki (Kedutaan atau Konsulat) di seluruh Afrika, presiden Erdogan hampir telah mengunjungi semua ibukota negara di Afrika dan dalam setiap kunjungan dia membawa delegasi pengusaha yang siap melakukan penetrasi ke pasar Afrika, ratusan MoU telah ditandatangani dengan negara-negara Afrika, disamping dibukanya jalur penerbangan Turkish Airlines dari Istanbul atau Ankara ke berbagai ibukota Afrika.

Gerak-gerik Turki membuat Mesir terganggu, selama ini Mesir adalah salah satu pemuka dan disegani di Afrika. Namun saat ini pengaruhnya mulai sedikit menurun, bahkan malah bermusuhan dengan beberapa negara, seperti Ethiopia yang clash gara-gara “The Grand Ethiopian Renaissance Dam” yang dibangun oleh Ethiopia yang disponsori Israel yang pastinya akan mengurangi jatah air sungai Nil bagi Mesir. Ada juga Clash dengan Kenya, dan Uganda yang menuntut amandemen perjanjian pembagian jatah air sungai Nil. Dan yang terakhit Clash dengan Sudan.

Memang, perang militer antara Mesir dan Sudan mungkin masih jauh, karena kondisi ekonomi keduanya sedang tidak stabil, tapi eskalasi ketegangan semakin meningkat. Dan mungkin proxy war antara Sudan dan Mesir bisa jadi akan mengambil lokasi di Darfur, dimana presiden Umar Bashir menuduh Mesir memasok mobil lapis baja kepada pemberontak Darfur, dan hal itu dibantah oleh presiden Al Sisi.

Tidak ada yang dapat memprediksikan kapan perang akan dimulai dan kapan akan berakhir, contoh perang Yaman, siapa yang sangka kalau Saudi, Emirates, Bahrain dll tega menghajar Yaman dengan pesawat tempur canggih, padahal Yaman kan negara yang “inoffensive” dan tidak pernah mencampuri urusan orang lain.

Yang pasti, Laut Merah akan menjadi “mainan” baru bagi negara-negara besar untuk diperebutkan. Kapan? Bagaimana? Siapa saja? Biarlah waktu yang menjawab...

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Wow! Begini Analisa Perbandingan Militer Terlemah di Dunia dengan Militer Indonesia

Halaman: 
Admin : Ratna Wilandari