logo


KTNA Lampung : Petani Butuh Alat Pengering Gabah

Di Lampung pada musim tanam tahun ini bisa sampai 3 kali dalam setahun. Namun syaratnya musim hujan stabil

5 Januari 2015 12:59 WIB

Petani menjemur gabah.(Ist.)
Petani menjemur gabah.(Ist.)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kondisi musim tanam tahun ini disambut suka cita oleh petani di Lampung. Mereka pun sudah mulai menanam. Meski demikian, Lampung masih kesulitan untuk mendapatkan alat pengering gabah.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kaslan, mengatakan, Senin kepada Jitunews.com, saat musim hujan adalah saat yang sulit untuk mengeringkan gabah. Sejauh ini masih belum ada alat yang digunakan petani untuk mengeringkan gabah.

"Kami sangat butuh alat pengering gabah tersebut. Sementara sedang diusahakan. Namun kami akan mengatasinya dengan cara menggunakan resi gudang," katanya.


Menteri Koperasi dan UKM Minta Petani Garut Berkoperasi dan Produksi Komoditas Unggulan

Menurutnya, gabah yang disimpan itu nantinya baru akan dijual jika harga sedang bagus. "Kami masih memerlukan alat pengering. Dulu petani pernah dapat tapi kurang berfungsi baik sehingga petani lebih piluh dijemur secara manual," katanya.

Kaslan bilang, kalau di Lampung pada musim tanam tahun ini bisa sampai 3 kali dalam setahun. Namun syaratnya musim penghujan tidak mundur. Untuk persediaan pupuk urea masih cukup hanya saja untuk jenis pupuk Ponska agak kurang pasokannya.

"Sementara untuk kebutuhan benih sejauh ini tidak ada kendala sebab bantuan benih sudah didapat dari pemerintah. Kebutuhan benih per hektar adalah 60 kg," katanya.

Di Lampung, produksi padi 2015 diperkirakan mencapai 3,5 juta ton GKG. Sementara di 2014 target produksi tercapai 3,3 juta ton GKG. Produksi gabah itu dihasilkan dari luas lahan 174.625 hektar.

Secara umum tantangan dalam mewujudkan swasembada pangan di Lampung sangat besar. Salah satunya adalah ketersediaan varietas bibit unggul. Ketersediaan bibit unggul itu dikarenakan faktor kebiasaan petani di Lammpung yang tidak pernah memikirkan pasokan bibit. Biasanya bibit yang disebar tahun lalu itulah yang kemudian ditanam.

 

Kementan: Pupuk 2020 Cukup

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid