logo


Jadi Lumbung Padi, Jateng Malah Irigasinya Rusak 67 %

Tahun ini, perbaikan sarana dan prasarana pertanian itu mampu mencapai Rp 178 miliar.

2 Januari 2015 10:02 WIB

Saluran irigasi
Saluran irigasi

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ironis. Propinsi Jawa Tengah yang memiliki sawah irigasi mencapai 2,8 juta hektar dan menjadi lumbung padi nasional ternyata mengalami kerusakan terparah mencapai 67 % saluran irigasi.

Tahun lalu Jawa Tengah mampu memproduksi sebanyak 10,2 juta ton. Jumlah itu hanya bisa dikalahkan oleh Jawa Timur dan Jawa Barat. "Karena kerusakannya cukup luas maka Propinsi Jawa Tengah tidak punya anggarann untuk mengelola jaringan irigasi pertanian," kata Kasubag Program Dinas Pertanaman Ketahanan Pangan dan Hortikultura Propinsi Jateng Bimo Santoso

Ia menambahkan, saat ini, mayoritas sumber air irigasi mengandalkan curah hujan. Setidaknya, luas jaringan tersier mengalami kerusakan hingga 67 persen, itu sebenarnya tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Adapun kerusakan jaringan sekunder (provinsi) mencapai 32persen.


Wujudkan Swasembada dengan Mencetak Sawah dan Membangunkan Lahan Tidur

Karena tidak mempunyai anggaran untuk memperbaiki irigasi, pihaknya telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menganggarkan dana untuk membiayai pemeliharaan irigasi. Adanya infrastruktur pertanian itu akan menjamin teralirinya sumber daya air ke persawahan.

"Terus terang kita tidak mampu. Investasinya mahal sekali. Dalam kondisi tertentu, merawat waduk itu sama biayanya membangun waduk baru," ujarnya.

Menurutnya, tahun ini, perbaikan sarana dan prasarana pertanian itu mampu mencapai Rp 178 miliar. Anggaran sebesar itu diperuntukkan bagi perbaikan irigasi di 30 kabupaten/kota.

"Tapi anggaran ratusan miliar itu sifatnya untuk perbaikan saja, setidaknya mampu berfungsi kembali hingga 10 tahun ke depan. Besarnya investasi jaringan sumber daya air pertanian juga berlaku sama dengan negara-negara lain," terangnya.

Sementara Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan dan Andalan (KTNA) Munaji menambahkan,, makin berkurangnya ketersediaan air irigasi serta terjadinya kerusakan jaringan irigasi menjadi masalah besar pertanian nasional. Besarnya anggaran yang dikucurkan harus dikritisi. Pasalnya, kerap kali ditemukan jaringan irigasi pertanian sudah kembali rusak.

KTNA mengusulkan keterlibatan organisasi tani baik pelaksanaan hingga monitoring pembangunan irigasi. "Kita melihat di suatu desa, ada jaringan irigasi yang rusak kembali padahal belum lama dibangun," terangnya.

Optimalisasi Irigasi, Jurus Jitu Kementan Agar RI Jadi Lumpung Pangan Dunia

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid
 
×
×