logo


2015, Prospek Hortikultura Bakal Moncer

Bagi sebagian orang, usaha di sektor agribisnis mungkin belum terlalu populer.

31 Desember 2014 15:39 WIB

Prospek hortikultura semakin moncer di 2015
Prospek hortikultura semakin moncer di 2015

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Tahun 2015, prospek usaha hortikultura bakal moncer. Hal ini disebabkan karena peminat terhadap usaha hortikultura semakin tumbuh pesat. Apalagi bisnis hortikultura termasuk yang rentan terhadap terpaan krisis ekonomi.

Kepala University Farm IPB Bogor, Anas D. Susila, mengatakan di tahun 2015 nanti, usaha agribisnis terutama hortikultura akan tetap bertahan asalkan dikelola dengan baik. Usaha seperti budidaya sayuran, tanaman hias, buah dan phytofarmaka (tanaman obat) akan berkembang dengan baik.

"Saat ini pendapatan per satuan luas untuk tanaman hortikultura jauh lebih besar dari tanaman pangan, seperti jagung, padi, singkong dan kacang-kacangan," katanya.


Permintaan Tinggi, Prospek Bibit Cengkeh Moncer

Menurut Anas, kebutuhan terhadap hortikultura terutama sayuran hidroponik tetap tinggi. Hampir setiap hari termasuk buah-buahan juga dibutuhkan meskipun panen buah bersifat musiman.

Bagi sebagian orang, usaha di sektor agribisnis mungkin belum terlalu populer. Agribisnis merupakan  bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Sehingga pada dasarnya, agribisnis merupakan segala jenis usaha yang berhubungan dengan pertanian dari mata rantai awal hingga akhir.

Lain halnya dengan budidaya perikanan atau peternakan. Sektor ini tidak terlalu cerah walaupun peminat terhadap usaha ini cukup ada. Walau demikian, resiko terhadap perikanan atau peternakan juga cukup besar.

"Sebagai contoh risiko sensitifitas terhadap kerusakan. Hasil panen ikan yang rusak atau gagal nilainya akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan panen tanaman hortikultura," katanya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam usaha hortikultura adalah harga yang fluktuatif terutama jika harga jual dikendalikan oleh pelaku atau pedagang besar. "Karena itu petani harus membentuk koperasi atau kelompok tani atau plasma inti agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar," katanya.

Hanya dengan cara tersebut nasib petani kecil dapat terlindungi karena berada di bawah naungan badan hukum yang jelas.

Sejauh ini pemerintah belum memberikan sumbangsih besar di bidang hortikultura. Jadi para pelaku usaha masih harus berjuang sendiri agar tetap bertahan. Untuk itu pelaku usaha di bidnag agribisnis harus melakukan pembibitan sendiri jika kesulitan bibit. Atau membuat produk olahan agar tetap bernilai jual tinggi.

Di bidang agribisnis inovasi juga harus dilakukan, baik dalam hal penggunaan teknik budidaya yang up to date, penggunaan varietas baru, atau mengambil salah satu fase penting selama proses budidaya, misalnya memilih usaha penggemukan sapi atau ternak baby gurame yang bisa dipanen dalam waktu lebih singkat, sehingga pelaku usaha tetap bisa survive .

Selama ini produk buah segar menjadi andalan industri buah tanah air. Padahal ada sektor produk buah lain yang berpotensi digarap yakni industri pengolahan buah potong atau cutting fresh fruit. Pasar yang dibidik untuk buah potong adalah kelas menengah dan pekerja kantoran.

Terkait dengan pemasaran hortikultura, sebenarnya pasarnya masih sangat luas apalagi dengan menjamurnya ritel penjual buah di kota-kota besar. Namun harus diakui investasi untuk industri buah potong tidaklah murah. Pengusaha harus memiliki kendaraan bermotor atau mobile vendor untuk distribusi, dan pendingin higienis.

 

Kefir, Pesaing Yoghurt yang Siap Jadi Tren 2015

Halaman: 
Penulis : Riana, Ali Hamid