logo


Data Dianggap Mata Uang Baru, Bagaimana dengan Data Bolong?

Kenapa data? Nyaris semua publik publisher berinvestasi dengan data, betapa data pada era sekarang seakan jadi mata uang baru.

22 November 2017 22:55 WIB

Kuliah Umum Jurnalisme Data di Fisip UNS, Solo, Rabu (22/11).
Kuliah Umum Jurnalisme Data di Fisip UNS, Solo, Rabu (22/11). dok.jitunews

SOLO, JITUNEWS.COM- Budaya bermain data di era sekarang jadi prioritas utama jurnalisme mengacu pada hasil riset dari berbagai sumber yang dikembangkan sehingga menghasilkan data valid. Trik memainkan data harus konsisten dan tertib.

“ Nah yang jadi kelemahan di Indonesia data gak tertib rilisan data dua tahun ada tahun depan gak ada alias data bolong untuk isu-isu yang sederhana," jelas Rahardian, Wakil Pemimpin Redaksi Beritagar.id sebagai pembicara Kuliah Umum Jurnalisme Data, di FIsip UNS, Solo, Rabu (22/11).

Kenapa data? Nyaris semua publik publisher berinvestasi dengan data, betapa data pada era sekarang seakan jadi mata uang baru. Semakin besar wewenang makin besar pula tanggung jawabnya walaupun jurnalistik dilindungi undang-undang tetapi dituntut selalu bertanggung jawab.


Ketua Fraksi PKS DPR Ajak Akademisi Kembangkan Ilmu Politik Islam

Bermain dengan data itu koridornya tinggi kita tak bisa pake data yang illegal semisal ingin menggunakan data yang tak diketahui sumbernya maka pertimbangannya cukup serius. Pertimbangan berani atau tidaknya berpengaruh pada hasil yang menarik, namun ketika dirilis ke publik berbahaya.

Kualifikasi utamanya punya kemampuan searching, punya keahlian struktur data yang kadang berbeda dari konten visual lewat excel bagaimana tabel itu mudah dibaca orang tapi bagaimana tabel itu mudah dibaca oleh perangkat lunak (tablo).

Analisa data itu sifatnya simple yang bertitik acu pada statistika dasar yang umum, dimana dari sekian banyaknya data itu biasanya ditemui banyak angle yang bisa jadi stori apapun yang mau diangkat harus valid.

Hasil jurnalisme berbasis data disajikan dalam bentuk karya infografik dengan gambar sederhan namun datanya sangat signifikan . Data ini berguna untuk melawan mitos dan stigma yang terlanjur di percaya orang kaitannya dengan beberapa isu yang di beritakan tanpa tuntas.

“Walau Survey BPS punya banyak sekali data, sayangnya harus kita dibeli terlhat dari publikasi situs BPS konten publikasi mereka hanya kulit data chord yang kurang lebih dari tiga juta baris data sekitar 500 responden dari 34 provinsi di 512 kabupaten/kota lembaga responden terbesar yang mahal” ungkap Rahadian.

Maka dari itu, Beritagar.id meluncurkan sebuah demografi setiap daerah agar mudah mengkualifikasikan data seperti jumlah penduduk yang dapat dibuka secara gratis untuk publik, kemudian ada galeri data yang asalnya sebagian dari data publik.


Reporter: Amalia Syahida (Solo)

Kuliah Umum Jurnalisme Data AJI Bahas Ulasan Isu Pemberitaan Semu

Halaman: 
Penulis : Ratna Wilandari