logo


60 Tahun PERKI Mengabdi: Capaian Serta Harapan di Bidang Kardiovaskular di Indonesia

Capaian-capaian tersebut tentunya diharapkan dapat meningkatkan layanan kesehatan kardiovaskular di Indonesia sehingga dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit ini.

17 November 2017 16:08 WIB

Dok. PERKI

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) memasuki usia ke-60 pada tahun ini. Dalam kurun waktu yang panjang tersebut, PERKI yang kini menaungi sekitar 1.000 spesialis jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) di seluruh Indonesia ini memiliki beberapa capaian  terbaik (milestones) PERKI.  Capaian-capaian tersebut tentunya diharapkan dapat meningkatkan layanan kesehatan kardiovaskular di Indonesia sehingga dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit ini.  

Dr. dr. Ismoyo Sunu, SpJP (K), FIHA, FAsCC, Ketua Umum PP-PERKI, dalam Press Conference hari ini mengatakan, pencapaian PERKI di usia 60 tahun ini tidak bisa dilepaskan dari hasil perjuangan para pendiri dan pengurus PERKI dari pusat hingga cabang pada periode-periode sebelumnya.

“Kolaborasi PERKI pusat dengan Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (Kolegium IPJPD) yang terjalin saat ini sangat sinergis terbukti mengakselerasi capaian-capaian yang bermanfaat. Beberapa milestone yang perlu dijadikan momentum adalah yang pertama, terlibatnya PERKI secara aktif dalam Komite Penanggulangan Penyakit Kardioserebrovaskular Nasional bersama PAPDI, PERDOSI, PERDOSRI, HBTKVI dan IDAI dengan harapan ke depan komite ini mampu mewujudkan kesamaan pandangan dan pendapat terutama dalam memberikan advokasi kebijakan dan regulasi pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan pada era JKN,” tutur Dr. Ismoyo pada hari Jumat (17/11).

Dr. Ismo melanjutkan, terwujudnya PERKI sebagai organisasi profesi yang berstatus badan hukum sejak bulan Januari 2017 mampu membuka capaian-capaian baru sehingga terlaksana hubungan legal formal dengan institusi dalam dan luar negeri antara lain karena kerja sama di dalam negeri dengan badan PPSDM Kementerian Kesehatan terkait legitimasi dan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan fellowship in training PERKI.

Fellowship in Training PERKI ini tidak hanya dilakukan di 9 rumah sakit rujukan pendidikan di Indonesia namun Pokja PIKI mampu melebarkan sayap dengan mengirimkan fellow ke India dan China yang juga direncanakan akan diberikan bantuan pendidikan oleh Kemenkes. Harapan ke depan, capaian ini dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM Spesialisasi Kardiovaskular Kompetensi lanjut di RS Rujukan nasional, provinsi dan regional. Momen penting ini mendorong PERKI berinovasi untuk menyelaraskan dengan membuat buku model optimal pelayanan kardiovaskular sebagai pedoman advokasi kebijakan pemerintah untuk rumah sakit rujukan. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang mengedepankan keselamatan pasien dan diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas penyakit kardiovaskular secara bermakna dan mampu mengurangi rujukan ke fasilitas tersier,” ujarnya.

Di lain pihak, lanjut Dr. Ismoyo, PERKI juga telah menjalin kerjasama dengan World Heart Federation yang menyepakati program riset pencegahan penyakit kardiovaskular di 2 Provinsi yang mempunyai beban faktor risiko tinggi di Indonesia yaitu, Provinsi Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan.

“Harapan ke depan hasil riset ini dapat menjadi  bahan pertimbangan yang kuat dalam program promosi dan preventif Kemenkes. Kerjasama dalam negeri yang lain, yaitu terjalinnya nota kesepahaman PERKI dan Asosiasi Institusi Pendidikan Teknologi Biomedis Indonesia (AIPTBI). AIPTBI telah membuktikan pembuatan alat-alat kardiovaskular seperti stent pembuluh darah koroner, deteksi dini pembuluh darah dan yang sedang dalam proses adalah pembuatan alat kateterisasi perifer tanpa menggunakan sinar X. Harapan ke depan lebih banyak tercipta cardiovascular medical equipment yang lebih terjangkau,” tandasnya.

Dr. Ismoyo melanjutkan, terlaksananya usaha Pokja PIKI untuk membuat PCI Registry sejak Januari 2017 dari partisipasi 11 rumah sakit dan usaha keras dari Pokja Acute Cardiovascular Care berhasil melaksanakan  program Istemi yang  berjalan dengan baik di Indonesia.

“Dua kegiatan ini diharapkan memberikan  data tata laksana penyakit jantung koroner yang sesuai dengan demografi Indonesia sehingga mendukung pelayanan kesehatan di era JKN. Di sisi lain melalui registrasi ini kita juga dapat menunjukkan kemampuan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di kancah Internasional,” ungkapnya.

“Milestone yang ketiga. Terlaksananya PCI Registry sejak Januari 2017 dari partisipasi 11 rumah sakit dan program Istemi yang sudah berjalan dengan baik di Indonesia. Harapannya adalah mendapatkan data tata laksana penyakit jantung coroner yang sesuai dengan demografi Indonesia sehingga mendukung pelayanan kesehatan di era JKN. Di sisi lain melalui registrasi ini kita juga dapat menunjukkan kemampuan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di kancah Internasional,” sambungnya.

Ia menambahkan, sebagai milestones keempat yaitu terselenggaranya Web Based Seminar (Webinar) PERKI diawali kerjasama Webinar dengan American College Cardiology di Jakarta selanjutnya PERKI sudah memprogramkan webinar rutin untuk mempermudah penyebaran ilmu pengetahuan kardiovaskular menjadi efisien dan efektif di seluruh cabang PERKI dengan harapan dokter di remote area tidak tertinggal dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang ada.

“Yang terakhir, yaitu terpilihnya Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA sebagai President elect ASEAN Federation of Cardiology tahun 2017 dan terpilihnya dr. Fauzi Yahya, SpJP(K), FIHA sebagai Vice President APSC 2017 membuktikan bahwa PERKI tetap memelihara hubungan baik dengan organisasi profesi kardiovaskular internasional. Harapan ke depan terjalinnya kerjasama MEA yang saling menguntungkan dengan terbentukanya komite akreditasi ASEAN dan Asia Pasific yang lebih menjamin keadilan,” tukasnya.

Sebagai penutup Ketua Umum PP PERKI mengutarakan, di tengah-tengah kemajuan yang telah dicapai dalam bidang kardiovaskular, tentunya masih banyak tantangan yang harus diadvokasi PERKI.

“Dalam era JKN saat ini, dokter dituntut agar dapat bekerja dalam sistem secara optimal (best practice). Oleh sebab itu PERKI membuat tim khusus untuk melakukan negosiasi dengan Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) Kemenkes. Sebagai penutup, PERKI juga memperhatikan pelayanan penyakit kardiovaskular para jamaah haji yang diwujudkan melalui nota kesepahaman dengan Pusat Kesehatan Haji Kemenkes,” ungkapnya.

Sementara itu, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), FIHA., Wakil Sekjen PERKI, pada kesempatan yang sama mengemukakan bahwa terdapat banyak sekali kemajuan yang telah PERKI capai dalam bidang kardiovaskular di Indonesia, baik dalam bidang terapetik, diagnostik maupun preventif.

“Salah satunya adalah intervensi terhadap penyakit jantung bawaan dan mengganti katup tanpa operasi tetapi dengan intervensi non bedah yaitu Transcatheter Aortic Heart Valve (TAVI) dan MITRAL CLIPS yang banyak dilakukan di Indonesia mulai tahun 2015, demikian pula upaya penutupan apendiks atrium untuk mencegah stroke,”  ungkapnya.

 “Di bidang pengobatan aritmia, kini terdapat pemakaian obat antikoagulan oral baru (OKB) untuk mencegah stroke pada kelainan irama fibrilasi atrium. OKB adalah sebuah lompatan besar terapi antikoagulan yang mencegah timbulnya berbagai risiko, antara lain risiko perdarahan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, semakin berkembang dan majunya teknologi Percutaneus Coronary Intervention (PCI) diharapkan juga makin mengurangi angka kematian akibat gagal jantung, demikian pula teknologi Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), Left Ventricular Assist Device (LVAD)  ataupun teknologi intervensi non bedah lainnya yang sangat menolong pasien gagal jantung.

“Pemasangan pacu jantung pada kasus gangguan irama jantung dan ICD terbukti menurunkan kematian jantung mendadak. Masih banyak kemajuan-kemajuan lainnya di bidang kardiovaskular. Penting untuk dicatat, SDM atau dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Indonesia  terus berupaya mengikuti perkembangan bidang ini dan telah banyak yang mampu dan kompeten,” tutupnya.

4 Langkah Mudah Hindari Penyakit Kardiovaskular

Halaman: 
Penulis : Riana