logo


IPW Desak Polri Jelaskan Nasib Ratusan Warga yang Disandera di Mimika

Menurut Neta, Polri perlu juga mengerahkan Brimob dan Densus 88 serta meminta bantuan TNI untuk membebaskan para sandera tersebut.

13 November 2017 11:57 WIB

Organisasi Papua Merdeka (OPM).\n\n
Organisasi Papua Merdeka (OPM). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Presidium Indonesian Police Watch, Neta S. Pane, mendesak Polri agar menjelaskan dengan segera ke publik tentang nasib ratusan warga yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Mimika, Papua. Hal ini perlu dilakukan karena para sandera itu sudah seminggu berada di tangan kelompok tersebut.

“Indonesian Police Watch (IPW) memahami medan yang berat menjadi kendala untuk mengatasi kasus ini dengan cepat. Namun dengan operasi intelijen, Polri diharapkan bisa mengetahui nasib warga yang disandera untuk kemudian diumumkan ke publik,” ujar Neta di Jakarta pada hari Senin (13/11).

Kendati demikian, Neta berkeyakinan bahwa Polri mampu menyelesaikan kasus ini dan segera melakukan operasi pembebasan dengan cepat, meskipun penyanderaan ini sudah berlangsung selama hampir seminggu.


Warga Papua Serang Kemendagri, KPU: Hasil Tidak Bisa Diganggu Gugat

“Aksi penyanderaan di Mimika menunjukkan gerakan kelompok kriminal bersenjata di Papua makin agresif saja. Aksi kelompok ini yang menyandera ratusan warga di dekat lokasi tambang emas Freeport tentunya tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Pemerintah harus segera meminta Polri untuk bertindak tegas. Sebab tidak seorang pun warga negara Indonesia boleh disandera, baik oleh saudara sebangsanya maupun oleh orang lain,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Neta, Polri harus membebaskan korban penyanderaan dan segera menangkap pelakunya.

“Tindakan penyanderaan ini tidak boleh terjadi dan tidak boleh dibiarkan berlama-lama karena nantinya dikhawatirkan akan menjadi preseden yang berulang,” jelasnya.

Dalam hal ini, IPW melihat aksi penyanderaan di Mimika ini sebagai modus baru dalam konflik Papua yang selama ini dimotori oleh kelompok-kelompok yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Sepertinya ada strategi baru dari OPM. Sebab dari penelusuran IPW, terlihat adanya perubahan strategi yakni dari OPM menjadi Papua Barat Merdeka. Kini markas Papua Barat Merdeka berada di Fiji, negeri kecil di Samudera Pasifik. Markasnya berada di ibu kota Suva dan sangat refresentatif. Rupanya, OPM ini sudah memindahkan markasnya dari Australia ke Fiji dan berganti nama dengan Papua Barat Merdeka,” tuturnya.

Selain itu, Neta menilai bahwa penyanderaan terhadap begitu banyak warga yang mereka lakukan pekan lalu di Mimika adalah bagian dari strategi baru. Pasalnya, selama ini OPM tidak pernah melakukan penyanderaan warga, apalagi begitu banyak jumlah warga yang disandera.

“Agaknya pemerintah perlu mengantisipasi manuver baru kelompok kriminal bersenjata di Papua ini, apalagi setelah mereka membuka markasnya di Fiji dan melakukan penyanderaan terhadap warga Mimika. Sayangnya hingga kini belum ada reaksi tegas dari pemerintah terhadap penyanderaan ini,” pungkasnya.

Paham Kondisi Politik Papua yang Tak Sehat, Kapolri Minta Penyerang Kemendagri Dipidana

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana