logo


Fintech Prospera, Koperasi Digital 'Zaman Now' yang Aman, Efektif, dan Prospektif

Bagi investor yang ingin memberikan modal lewat Prospera bisa dimulai dari Rp 100 ribu

11 November 2017 20:20 WIB

Dewan Penasehat Koperasi Cakradhara Dana Mandiri (Prospera), Raden Aldi Ferdian
Dewan Penasehat Koperasi Cakradhara Dana Mandiri (Prospera), Raden Aldi Ferdian Jitunews/Riana

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Di era globalisasi saat ini, koperasi sebagai ujung tombak membangun kemandirian ekonomi bangsa pun kini dapat dikelola secara digital. Terobosan ini digagas oleh pria kelahiran 11 Desember 1979 lulusan Universitas Pasundan Bandung, bernama Raden Aldi Ferdian. Perjalanannya menjadi wirausahawan dan konsultan keuangan hingga investor mendorongnya menggagas Prospera, yakni inovasi produk keuangan berbasis teknologi oleh Koperasi Cakradhara Dana Mandiri.

Pria yang karib disapa Aldi itu mengatakan, Prospera bisa menjadi sistem keuangan yang dapat digunakan oleh semua lapisan masyarakat yang mengusung sistem yang aman, efektif, dan prospektif.

"Kami Prospera menawarkan konsep finansial teknologi untuk lembaga keuangan seperti koperasi atau institusi keuangan lainnya untuk sama-sama menjadi wadah bagi pemodal, bisa memilih alternatif untuk invetasi bagi para debiturnya. Jadi Prospera itu adalah fintech yang mempertemukan agen atau koperasi atau institusi yang mempunyai debitur-debitur terbaiknya yang punya akses yang dapat dipertanggungjawabkan untuk diberikan permodalan dari para investornya Prospera, sehingga koperasi tersebut juga bisa terbantu, terus keduanya debitur pun bisa punya permodalan dari www.danaprospera.com ini," tutur Aldi kepada Jitunews.com, di Kaffeine SCBD, Jakarta, Jumat (10/11).


Dilema Koperasi, Visi Sudah Jauh ke Depan tapi Biayanya Tak Merakyat

Aldi melanjutkan, bagi investor yang ingin memberikan modal lewat Prospera bisa dimulai dari Rp 100 ribu. Ia pun lantas mengklaim, Prospera dapat menjadi satu instrumen menyatukan koperasi dan membantu permodalan masyarakat serta pengusaha di indonesia.

"Sektor yang kita tawarkan juga beragam, dari industri kreatif, UMKM, perdagangan, seni, dll. Jadi orang tuh bisa memilih banyak ragam sektor investasi yang mereka mau, dan memulainya dengan Rp 100 ribu saja," tegas Aldi.

Lebih lanjut, Aldi pun memastikan Prospera berjalan dengan sistem syariah untuk menjamin pengelolaan investasi. Ia lantas melanjutkan, koperasi lembaga penjamin yang menjadi mitra dana Prosepera adalah koperasi yang telah terstandarisasi. Di samping itu, setiap pembiayaan selalu disertai underlying aset sebagai jaminan.

"Kita menggunakan basic-nya adalah syariah, dengan sistem sewa beli terhadap suatu aset. Konsep Prospera itu kan ada 3, aman, mudah, dan bermanfaat. Konsep syariah sendiri kan siap untung siap rugi, edukasi tersebut kita perlukan untuk melakukan transisi, supaya mendapatkan fairness buat semua pihak. Syaratnya, mereka harus bergabung dengan salah satu lembaga keuangan seperti koperasi atau memang ada perusahaan yang menjamin atau memegang asetnya. Nanti kita akan lakukan scoring dari sisi debitur, dan juga pada agennya, kita cari riwayat-riwayatnya. Setelah dari sisi agency-nya oke, kita pun bisa masukan beberapa listing debitur terutama yang mereka usulkan," beber Aldi.

Menyoal tantangan dalam menjalankan bisnisnya ini, Aldi menambahkan, banyak koperasi dan lembaga keuangan di daerah memiliki nasabah yang memiliki usaha yang memiliki prospek baik, akan tetapi mereka tidak memiliki persediaan dana untuk investasi.

"Tantangannya satu, karena ini mengedukasi tentunya tidak mudah. Kemudian karena ini menyatukan banyak sekali visi, juga tidak mudah. Lalu karena ini adalah satu bentuk platform yang mempertemukan bukan debitur langsung, tapi suatu lembaga tentu itu pun tidak mudah, tapi saya harapkan dengan kita ingin sama-sama membangun struktur yang tadi mudah aman, mudah, dan bermanfaat, dan juga gerakan sistem ekonomi yang cepat bergeraknya khususnya ekonomi kerakyatan, maka saya yakin semuanya bisa menyambut baik sistem ini," harap Aldi.

Ke depannya, Aldi pun berharap, dengan mentransisikan sistem koperasi konvensional ke digital, koperasi juga diharapkan bisa transparan dan aman sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Tak hanya itu, lanjut Aldi, lewat Prospera, ia pun ingin meningkatkan citra koperasi dari tradisional menjadi menjadi lebih transparan dan lebih kekinian.

"Karena kini kan koperasi image-nya tradisional dan konvensional ya kan, sehingga mereka banyak mengalami kendala kan, baik dalam pencarian anggota, pemodal, dll. Nah ini yang menghambat. Padahal potensi-mereka mereka, atau usaha-usaha yang mereka biayai kan bagus banget, dari Sabang sampai Merauke. Cuma kan karena keterbatasan mereka memberikan pnjaman dana, itu yang menyebabkan terhambatnya daerah mengembangkan bisnisnya. Nah, hadirnya Prospera, si debitur tersebut kan bisa mendapatkan biaya dari daerah lain, sehingga bisnisnya terbantu, koperasinya pun terangkat derajatnya," tutur Aldi.

"Saya juga berharap Prospera dapat mengangkat citra yang baik dan memberikan transparansi bisnis sehingga ke depannya, ekonomi kerakyatan dapat terbantu, karena kan realitanya di mata masyarakat saat ini, ada beberapa hal memang pengusaha itu punya aset yang bagus tapi dia tidak punya mungkin yang namanya pembukuan, PT, sehingga untuk mengembangkan usahanya dia, dia kesulitan pendanaan, tapi jaminan ada, tapi tidak bisa masuk bank. Nah kita lah yg menjadi wadah untuk membiayai mereka, koperasi kan ada limitnya, kita konselingkan lah ke koperasi di daerah-daerah yang punya potensi karena kan yang pasti yang bisa me-login www.danaprospera.com itu kan pasti seluruh orang di Indonesia," pungkas Aldi.

 

Jokowi: Koperasi Jadi Institusi Penting Ekonomi Rakyat

Halaman: 
Penulis : Riana