logo


JK: Khotib Boleh Mengkritik, Tapi Jangan Provokasi

Wapres menyarankan agar para Dewan Masjid mengetahui terlebih dahulu para penceramah untuk mencegah provokasi dalam ceramah

11 November 2017 15:26 WIB

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.
Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Reuters

JAKARTA, JITUNEWS.COMWakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta agar ceramah di masjid mengandung radikal dan provokatif. Dia mengatakan hal tersebut juga diatur dalam undang-undang.

"Jangan ceramah tiba-tiba masjid itu menjadi radikal dan provokatif, bahwa masjid itu khotibnya mengkritik boleh aja, tapi tidak mengkritik dengan cara memprovokasi orang. Itu Undang-undang yang membatasi," kata JK dalam acara Muktamar Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang Ke-7 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Sabtu (11/11). 

JK yang juga merupakan Ketua Umum DMI menyebut ada 800 ribu masjid dan mushola di Indonesia. Wapres menyarankan agar para Dewan Masjid mengetahui terlebih dahulu para penceramah untuk mencegah provokasi dalam ceramah.


Jokowi Pimpin Upacara Hari Pahlawan di TMP Kalibata

"Cara mengelolanya pengurus harus paham dan juga tentu harus tahu siapa penceramah, harus tahu backgroundnya dan mengatur itu," ujarnya.

"Khotbah itu saya serahkan ke NU, Muhammadiyah, Persis, ormas lainnya dan juga mubaligh. Karena kita bukan negara sentralistik seperti Malaysia ada pusat tema-tema ceramah, ada percetakanya. Kita akan membuat kisi-kisinya saja," lanjutnya.

JK mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur karena dari 56 negara Islam di dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling aman.

"Di negara kita tidak ada konflik seperti di Afganistan dan lainnya, kita patutnya bersyukur dan menjaga hal itu," kata JK.

 

Novanto Tersangka Lagi, JK: Urusan KPK Lah

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata