logo


Penting! Kawasan Sedang Phobia Hizbullah, 'Perang Under Construction'

Perang selanjutnya, dapat dipastikan tidak dimotori oleh AS atau Rusia. Kedua negara yang biasanya menjadi sutradara perang di kawasan itu diyakini hanya akan berada di pinggir lapangan sebagai penonton sekaligus pemain pengganti atau pun manajer klub.

7 November 2017 17:50 WIB

dibaca 1471 x

Rentetan kejadian yang terjadi berdekatan, kalau tidak mau dikatakan bersamaan, antara pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon Saad Hariry dengan geliat kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Arab Saudi.

Tidak mungkin terjadi secara kebetulan, mengingat Hariry selaku salah satu bisnisman yang cukup melekat dengan sederet nama yang telah diciduk oleh KPK Saudi terkait dengan kasus korups dan money laundering.

Para pengamat politik tidak melihat nama-nama yang diciduk KPK Saudi itu sebagai sejumlah nama tycoon, bisnisman dan birokrat korup saja, tetapi juga melihatnya dari aspek politik.


Film Kolosal ISIS Segera Rampung, 'Reborn Terorist' Adalah Gantinya

PM Hariry yang dipanggil secara mendadak ke Riyadh dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, mengundurkan diri dari jabatan PM Lebanon. Yang artinya secara otomatis memutus semua hubungan Hariry dengan sekutunya yang turut membawanya sampai pada kursi perdana menteri, salah satunya Hizbullah.

Kedua, Hariry akan “dibunuh”, dalam artian dibunuh secara politik dan ekonomi alias dimasukkan dalam list bisnisman korup oleh KPK dan dijebloskan dalam penjara di Riyadh. For your information, Hariry memiliki kewarga-negaraan ganda, yaitu Lebanon dan Arab Saudi.

Skenario Arab Saudi mulai jelas kemana arahnya ketika Pangeran Muhammad bin Salman mengatakan bahwa, "Perang di Yaman akan terus berlangsung untuk menghindari terbentuknya Hizbullah baru di Selatan Saudi." Jelas peryataan itu merupakan bentuk dari phobia Hizbullah.

Menhan Israel, Avigdor Liebermann, malah ikut-ikutan memprovokasi ketika mengatakan bahwa perang selanjutnya adalah melawan Lebanon dan Suriah secara bersama. Memerangi Lebanon didasari pada sikap pasukan bersenjata Lebanon yang tidak lagi independen.

Mereka dituding sudah menjadi bagian dari Hizbullah. Lagi-lagi, phobia terhadap Hizbullah.

Satu hal lain yang menunjukan gejala phobia Hizbullah adalah saat Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dalam pidatonya menyatakan, "Kita tidak akan mengizinkan berdirinya Hizbullah baru di Gaza. Tidak akan ada rekonsiliasi dengan Hamas kecuali kalau Hamas menyerahkan semua senjatanya!"

Bisa diartikan bahwa kedepan, jika perang kembali terjadi, Hamas akan didudukan sebagai kelompok dengan peran yang netral.

Phobia Hizbullah yang dibuat-buat oleh tiga pihak tersebut, khususnya Israel yang sangat getol dengan berbagai medianya, diyakini memiliki tujuan untuk membentuk opini umum bahwa Hizbullah adalah sumber ancaman bagi stabilitas Kawasan. Dengan jalan itulah, mereka memiliki payung untuk menghajar Hizbullah.

Setidaknya ada dua sebab yang menjadikan Hizbullah target perang selanjutnya. Pertama, Hizbullah adalah salah satu sayap militer andalan Iran. Dengan menyerang Hizbullah, maka diharap akan menyeret Iran untuk bergabung dalam perang tersebut.

Pemain utama dalam perang tersebut adalah 'Saudi-Israel VS Hizbullah-Iran' dan akan mengambil lokasi perang di Suriah dan Lebanon Selatan.

Kedua, berakhirnya perang terhadap 'teroris' di Suriah dan Irak (ISIS), yang hasilnya tidak memuaskan kubu Saudi. Ini juga termasuk bagian dari phobia Hizbullah. Kekalahan ISIS, secara tidak langsung juga menyatakan bahwa kubu Suriah dan sekutunya (Iran, Hizbullah, Syiah Persia Anak Mutah)” plus Rusia penjual Vodka sebagai pemenang.

Perang selanjutnya, dapat dipastikan tidak dimotori oleh AS atau Rusia. Kedua negara yang biasanya menjadi sutradara perang di kawasan itu diyakini hanya akan berada di pinggir lapangan sebagai penonton sekaligus pemain pengganti atau pun manajer klub.

AS-Rusia baru akan menunjukan geliat dalam bentuk intervensi tergantung dari hasil perang setelah beberapa babak.

Selain tak akan dimotori AS dan Rusia, perang akan mengangkat tema 'Perang Sunni-Syiah'. Itulah mengapa, pihak Saudi tak banyak berpikir kala Israel mengulurkan tangan. Maka slogan, 'The enemy of my enemy is my friend' menjadi kalimat bijak yang lahir dari perang yang akan berlangsung itu.

Selanjutnya banyak pertanyaan muncul untuk ke depannya, pertama, Bagaimana sikap Jordania yang sedang mengalami krisis ekonomi, hubungannya dengan Israel pun sedang tidak baik ditambah sudah terlanjur mengatakan adanya 'Proyek Bulan Sabit Syiah' di Kawasan?

Sebagai gambaran, Jordania akan menjadi terminal strategis baik darat dan udara apabila perang terjadi.

Kedua, apa yang akan terjadi dengan rakyat di beberapa negara Arab di depan persenjataan canggih yang dimiliki oleh Arab Saudi, Israel, Mesir dan Iran apabila memang senjata itu benar-benar harus keluar dari gudangnya?

Ketiga, bagaimana sikap Rusia apabila perang benar-benar terjadi? Bukan rahasia bahwa sebagian besar senjata yang akan digunakan dalam perang nantinya adalah Made by Mother Russia!

Seharusnya sih, Rusia akan berada di kubu Iran dan Suriah. Tapi bukan suatu yang mustahil, Rusia juga akan berada di kubu yang di dalamnya ada Israel. Mengingat setidaknya ada 14 persen populasi warga Israel berasal dari Rusia atau Uni Soviet. Atas nama pribumi, bisa saja Rusia ada di pihak Israel.

Keempat, terus bagaimana dengan Turki? Seharusnya Turki berada di kubu yang bersebrangan dengan Israel, yaitu bersama sekutu 'dadakannya', Iran. Tapi di sisi lain Turki itu Sunni dan seharusnya berada satu kubu dengan Arab Saudi dan Mesir dan tentunya dengan terpaksa harus bersama Israel.

Sementara Qatar kita lupakan sejenak dalma pemetaan perang selanjutnya.

Terakhir atau kelima, bagaimana dengan Mesir? Mesir seharusnya berada di kubu Arab Saudi selaku sama-sama sekutu dalam mengembargo Qatar. Tapi untuk mengirimkan pasukannya, tampaknya tidak mungkin.

Beberapa kali pejabat tinggi militer Mesir mengatakan bahwa, "Pasukan militer Mesir tidak akan dikirim ke luar negeri. Mereka hanya tercipta untuk menjaga kedaulatan dan kemanan dalam negeri Mesir."

Proxy war antara Iran dengan Saudi di Suriah bisa dikatakan sudah berakhir, tapi sesungguhnya justru sedang berlangsung di Yaman dan mungkin akan segera dimulai di Lebanon.

Di dalam negeri Saudi sendiri, keributan ini akan menaikan rating Pangeran Muhammad bin Salman. Setidaknya sang Pangeran akan dikenal sebagai simbol pemberantasan korupsi di Arab Saudi, simbol pembangunan dan modernisasi Saudi dan simbol stabilitas serta keamanan Arab Saudi.

Semua itu akan memberikan nilai plus bagi Sang Crown Prince sebagai King of KSA di masa mendatang.

Semuanya hanya masalah waktu, apapun bisa terjadi. Tapi, ada baiknya kita biarkan waktu saja yang menjawab.

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Menunggu Misteri Kelanjutan Kemenangan Suriah atas ISIS di 'Kawasan'

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah