logo


KKP Berhasil Panen Lele Bioflok di Daerah Perbatasan RI-Malaysia

Panen dilakukan pada 10 kolam lele bioflok berdiameter 3 meter dimana masing-masing kolam mampu menghasilkan rata-rata sebanyak 300 kg lele dengan ukuran 7-8 ekor per kg

6 November 2017 02:00 WIB

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali melakukan panen lele sistem bioflok, JUmat (3/11)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali melakukan panen lele sistem bioflok, JUmat (3/11) Dok. KKP

SANGGAU, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali melakukan panen lele sistem bioflok. Jika sebelumnya di berbagai pondok pesantren, kali ini panen lele bioflok sukses dilakukan di daerah perbatasan, tepatnya di Entikong, Kabupaten Sanggau. Kalimantan Barat, perbatasan Indonesia–Malaysia, Jumat (3/11).

Bertempat di kelompok Maju Terus Desa Bungkang Kecamatan Sekayam, Dirjen Perikanan Budidaya diwakili Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya bersama-sama Wakil Bupati Sanggau, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sanggau serta ketua kelompok secara serempak melakukan panen lele bioflok tersebut.

Pada kesempatan ini, panen dilakukan pada 10 kolam lele bioflok berdiameter 3 meter dimana masing-masing kolam mampu menghasilkan rata-rata sebanyak 300 kg lele dengan ukuran 7-8 ekor per kg, sehingga total panen mencapai sekira 3 ton, dengan harga jual Rp 24.000 per kg maka nilai produksi dari panen kali ini mampu mencapai Rp 72 juta. Waktu pemeliharaannya pun sangat singkat yaitu hanya 70 hari sehingga dalam 1 tahun bisa dilakukan 4-5 kali panen.


Di Pantai Ini, Anda Dapat Membeli Ikan Merah Segar yang Matanya Masih 'Berkedip', Mau?

Ketua kelompok Maju Terus, Mardiansyah menjelaskan bahwa dengan biaya produksi per kg sebesar Rp 16.000, maka kelompok mampu memperoleh keuntungan hingga mencapai Rp 8.000 per kg atau total sekira Rp 24 juta. Untuk pemasaran pun saat ini kelompok tidak mengalami kendala berarti.

“Harga ikan lele di sekitar Sanggau saat ini cukup baik, biasanya pengepul mengambil di petani dengan harga Rp 22.000 sampai Rp 24.000 per kg. Selain ke pengepul kami pun menjualnya ke masyarakat sekitar sini (Sanggau), untungnya lumayan, bisa paling kecil Rp 6.000 sampai Rp 8.000 tiap kilo,”ujar Mardiansyah.

Lebih jauh, Mardiansyah menceritakan bahwa untuk pasar sekitar Entikong, harga eceran bisa mencapai Rp 30.000 sampai Rp 32.000 per kg dimana sebagian pembelinya adalah warga negara Malaysia. Mereka lebih suka dengan ikan lele dari Indonesia karena dianggap lebih bersih dan cara pemeliharaannya lebih baik.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya diwakili Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya, Tri Hariyanto dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pengembangan budidaya lele bioflok di Entikong ini merupakan bagian dari program prioritas KKP yang ditujukan untuk masyarakat di perbatasan, pondok pesantren dan lembaga pendidikan.

“Tahun 2017 ada sekitar 203 paket budidaya lele bioflok yang disalurkan kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Penerimanya bisa pondok pesantren, seminari maupun kelompok-kelompok masyarakat di perbatasan. Bukan hanya di Entikong, daerah perbatasan lainnya juga mendapatkan bantuan serupa seperti di Kabupaten Belu NTT, Sarmi dan Wamena di Provinsi Papua," jelas Tri Hariyanto.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin Kalimantan Selatan, Haryo Sutomo menyampaikan bahwa untuk perbatasan RI-Malaysia di Entikong ini ada 2 penerima bantuan budidaya lele bioflok yaitu Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Maju Terus, Desa Bungkang - Balai Karangan, Kecamatan Sekayam dan Pokdakan Sumber Bersama, Dusun Peripin, Desa Entikong, Kecamatan Entikong. Kedua Pokdakan ini menerima paket bantuan berupa kolam pembesaran, benih ikan lele, pakan ikan, obat-obatan, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Pemerintahan Diminta Berikan Kepercayaan Pengelolaan Dana ADD dan DD kepada Kades

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex