logo


Luhut Sebut NTT Adalah Kekayaan Terpendam di Indonesia

Lahan garam di NTT menurut data yang dimiliki pemerintah, dari 1 hektar lahan garam bisa menghasilkan 100 ton garam

31 Oktober 2017 21:45 WIB

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan hadiri acara peresmian Kapela Bukit Doa Fatimah, Larantuka, Flores Timur, NTT, Selasa (31/10)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan hadiri acara peresmian Kapela Bukit Doa Fatimah, Larantuka, Flores Timur, NTT, Selasa (31/10) Jitunews/Khairul Anwar

FLORES TIMUR, JITUNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan mengungkapkan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah kekayaan terpendam di Indonesia. Namun selama ini terkesan kurang diperhatikan, karena manajemen pembangunan yang dinilai tidak dilakukan secara holistik dan tidak terintegrasi.

"NTT ini adalah provinsi yang sebenarnya kaya, tetapi kita selama ini tidak urus secara terintegrasi dan holistik apalagi Larantuka ini kekayaan terpendamnya NTT," ujar Menko Luhut di acara peresmian Kapela Bukit Doa Fatimah, Larantuka, Flores Timur, NTT, Selasa (31/10).

Menko Luhut lantas memberikan gambaran, misalnya potensi komoditas garam yang menurutnya dapat diandalkan oleh Provinsi NTT. Lahan garam di NTT menurut data yang dimiliki pemerintah, dari 1 hektar lahan garam bisa menghasilkan 100 ton garam, artinya bila ada 21 ribu hektar lahan garam, bisa memproduksi hingga 21 juta ton garam, dan apabila dikalkulasi dengan perhitungan biaya saat ini, maka akan ada perputaran uang sekitar Rp 30 triliun, dan hanya dari garam.


Harga Referensi CPO Melemah, Biji Kakao Naik

"Saya tanya berapa ton garam yang bisa dihasilkan dari satu hektar lahan, dijawab 100 ton per hektar, berarti 21 ribu hektar menghasilkan 21 juta ton, berapa per kilogram? 1 juta, berarti Rp 2,1 triliun? Tidak, tapi Rp 21 triliun, dan ternyata per hektar tidak 100 ton tetapi 140 ton per hektar. Kalau itu benar maka daerah ini akan menghasilkan atau akan ada perputaran uang hampir Rp 30 triliun hanya dari garam,” tambahnya.

Namun Menko Luhut menegaskan, masyarakat lokal pun harus mendapatkan manfaat dari potensi garam ini. Utamanya masyarakat sebagai pemilik tanah yang dijadikan lahan garam.

“Saya sudah bilang juga dengan pengusaha-pengusaha dan PT Garam, pokoknya rakyat itu yang punya lahan harus juga menikmati, jadi semua terintegrasi. Saya sudah pesan kepada semua pihak termasuk menteri Agraria dan Tata Ruang, tanah yang punya rakyat itu harus menikmati garam,” tegasnya.

Selain itu Menko Luhut berharap gereja, MUI, pendeta dan tokoh masyarakat untuk mengajarkan kebersihan kepada masyarakat.

"Saya tanya Pak Gubernur turis ke NTT katanya mencapai satu juta dan mungkin tahun depan sekitar satu juta dua ratus kalau infrastruktur kita perbaiki maka 2019 akan mencapai dua juta turis," ujarnya.

Menko Luhut menyatakan bahwa Labuan Bajo sudah menjadi salah satu destinasi pariwisata terbaik dan berharap NTT mengembangkan potensi pariwisata lainnya namun harus memperhatikan masalah kebersihan.

"Bila NTT pariwisata berkembang maka diperkirakan NTT akan menjadi provinsi kaya dengan pendapatan 60 triliun dari garam dan pariwisata," pungkasnya.

Anies Baswedan Tegaskan akan Jelaskan Soal Reklamasi pada Saat yang Tepat

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Aurora Denata