logo


Catatan Blitza Remigion 679, Kisah Klasik dan Harapan

Hymne Oh Pondokku pun menjadi menu wajib untuk membuka diskusi panel pada hari Sabtu (28/10) di aula pertemuan. Tak sedikit dari peserta Silatnas Blitza Remigion ini yang meneteskan air mata haru dan rindu akan Pondok.

31 Oktober 2017 13:08 WIB

dibaca 693 x

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2005 atau yang dikenal dengan Blitza Remigion pada akhir pekan lalu baru saja menyelenggarakan Silaturahmi Nasional perdana mereka di Yogyakarta. Bertempat di Youth Center, Jombor, Yogyakarta. Dengan mengusung slogan; “Endangono dulurmu, Dab!”, Silatnas Blitza Remigion kali ini memang bertujuan untuk mempertemukan kembali Keluarga Besar Alumni Gontor tahun 2005 ini.

Tercatat dalam database Panitia Pelaksana peserta yang hadir mencapai 300 orang yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Malaysia demi menghadiri Silaturahmi Nasional ini. Bagi Panitia Pelaksana, kehadiran 300 peserta ini melebihi ekspektasi yang dicanangkan sebelumnya. Awalnya Panitia hanya memperkirakan bahwa Peserta yang hadir tidak akan melebihi 250 peserta.

Segala persiapan teknis maupun non teknis dilakukan selama tiga bulan. Titik awal persiapan Silatnas Blitza Remigion dimulai sejak awal Agustus silam. Hampir setiap malam rapat koordinasi Panitia Pelaksana dilakukan, baik secara langsung maupun melalui diskusi di Grup Whatsapp.


Pihak Alexis Berikan Tanggapan Soal Penghentian Izin Usahanya

Tahun lalu, Alumni tahun 2005 ini juga melakukan Reuni perdana mereka di Hotel Gadjah Mada, Ponorogo. Dan Silaturahmi Nasional yang dihelat di Yogyakarta ini merupakan salah satu aplikasi dari pertemuan di Hotel Gadjah Mada, Ponorogo tahun lalu.

Beberapa peserta yang berasal dari luar jawa sudah berdatangan sejak dua hari sebelum hari pelaksanaan, bahkan ketika Panitia melakukan persiapan akhir pada H-1 (26/10), banyak peserta yang sudah hadir dan terlibat dalam persiapan teknis di lapangan.

Suasana nostalgia pun sangat terasa, di hari pertama (27/10), mereka yang sudah hadir di lokasi, setelah melakukan registrasi di meja pendaftaran, mereka berkumpul dan bercanda-tawa satu sama lain, mengingat kembali memori kenangan semasa menjadi santri. Kekonyolan demi kekonyolan yang mereka alami semasa mondok di Gontor pun menjadi salah satu menu wajib untuk diobrolkan.

Pada malam harinya, semua yang sudah hadir berkumpul di Aula pertemuan untuk berdzikir bersama, mendoakan kiai, guru, dan seluruh keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada pertemuan itu pula, ditampilkan di slide proyektor beberapa teman-teman Blitza Remigion yang sudah meninggal dunia. Surat Yasin pun dibacakan dan dilanjutkan dengan doa bersama.

12 tahun sudah mereka berpisah setelah resmi dilepas oleh Pimpinan Pondok pada tahun 2005 silam, perkembangan yang mereka alami pun sangat signifikan. Banyak sekali Alumni 2005 ini yang sudah terjun ke masyarakat, baik sebagai wirausahawan, guru, PNS, dokter, kiai pondok pesantren, militer, dan profesi lainnya yang sudah mereka pilih. Betapa besar potensi Alumni 2005 ini sehingga akan sangat bermanfaat bagi ummat jika mereka disinergikan.

Okie Fajarudin selaku Ketua Panitia Silatnas Blitza Remigion kali ini pun mengakui, bahwa salah satu target utama dari Silatnas Blitza Remigion tahun 2017 ini adalah agar setiap anggota marhalah mampu bersinergi satu sama lain. Ada tiga poin penting yang ditekankan oleh “Dapoer Blitza Remigion” untuk disinergikan; pendidikan, sosial, dan ekonomi. Tiga bidang ini yang dipandang mewakili dari seluruh entitas profesi teman-teman Blitza Remigion yang sangat memungkinkan untuk disinergikan satu sama lain.

Di hari kedua, Panitia mengundang beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing; Ustadz Ridho Zarkasyi, Ustadz Anang Rikza, Ustadz Imam Mujiono, Ustadz M. Chirzin, Ustadz Nuril, dan Ustadz Taufik. Kesemuanya merupakan alumni Gontor yang dipandang oleh Panitia memiliki segudang pengalaman dan jam terbang yang tinggi sehingga mereka sangat layak untuk diundang sebagai narasumber dalam forum diskusi panel.

Panitia pelaksana memang mengatur rundown acara minute by minute agar terasa suasana seperti di Pondok. Bahkan Panitia menyiapkan jaras yang dibunyikan pada jam-jam tertentu. Syair Abu Nawas pun dilantunkan pada saat jeda antara azan dan iqamat. Begitu juga dengan suasana makan pagi, makan siang, dan makan malam. Setiap peserta dibagikan bitaqah akl untuk mengambil makan malam di Matbakh ‘Am.

Hymne Oh Pondokku pun menjadi menu wajib untuk membuka diskusi panel pada hari Sabtu (28/10) di aula pertemuan. Tak sedikit dari peserta Silatnas Blitza Remigion ini yang meneteskan air mata haru dan rindu akan Pondok saat menyanyikan Hymne Oh Pondokku.

Dalam pemaparannya, Ustadz Ridho Zarkasyi mengingatkan bahwa alumni Gontor itu bisa berkumpul meskipun sudah hidup di luar pondok karena mereka dibesarkan dalam suasana yang sama ketika di Gontor. Growing up together di Gontor. Sehingga ada banyak peristiwa yang sangat membekas di hati masing-masing alumni yang memperkuat ukhuwwah mereka. Tidak terkecuali dengan Alumni 2005 ini. Ustadz Ridho juga mengingatkan bahwa setidaknya ada tiga hal prestasi yang diharapkan oleh Trimurti Gontor; mendirikan pondok dan menjadi guru, memiliki peran sosial kemasyarakatan baik itu menjadi seorang dai atau ustadz, dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah menjadi manusia yang bermanfaat.

Menanggapi betapa persaingan antaralumni yang sangat keras, Ustadz Ridho menyarankan apabila ada rencana untuk membangun sebuah wadah ekonomi maupun sosial, agar diserahkan kepada orang lain untuk ditangani secara profesional. Dalam kesempatan ini, Ustadz. Ridho juga mengingatkan bahwa usia 30-40 tahun seseorang akan menghadapi masa-masa yang penuh tantangan dalam kehidupan mereka. Akan ada banyak ujian dan cobaan hidup yang akan dialami, dan pertaruhannya adalah masa depan mereka sendiri. Di hadapan Alumni 2005 yang mayoritas sudah memasuki usia 30-an ini, Ustadz Ridho menyampaikan; “Pada usia-usia kalian ini akan ada banyak air mata yang keluar, perbanyak zikir dan doa.”

Lain lagi dengan Ustadz Anang Rikza yang saat ini menjadi Pimpinan Pondok Modern Tazakka. Beliau berbagi pengalaman mengelola Pondok. Beliau menuturkan bahwa salah satu syarat utama menjadi Pimpinan Pondok adalah harus siap untuk tidak tidur nyenyak, karena selama 24 jam yang dipikirkan adalah nasib para santri, ya makannya, ya ibadahnya, ya kesehatannya, ya akhlaknya, ya ilmunya, juga wawasannya. Ustadz Anang Rikza juga berpesan kepada Alumni 2005 ini agar sebisa mungkin menyempatkan diri untuk silaturahmi ke Gontor. Karena dengan mengunjungi Pondok dan sowan kepada Pimpinan Pondok maka akan mendapatkan semangat baru dalam berjuang. “Apapun profesi kalian, luangkanlah waktu untuk silaturahmi ke Gontor dan bertemu Pimpinan Pondok.”

Menguatkan paparan narasumber sebelumnya, Ustadz Imam Mujiono menyampaikan bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh Trimurti itu sarat makna dan sangat ampuh untuk dijadikan jimat kehidupan. Nilai-nilai yang tersirat dari petuah-petuah Trimurti sangat berharga dalam mengarungi kehidupan di luar pondok. “Trimurti mengajarkan kita untuk berpikir jangka panjang dan bermimpi besar, maka kolaborasikan mimpi kalian dengan nasihat-nasihat Trimurti itu,” pesan Ustadz Imam Mujiono.

Sesi diskusi panel kedua dihadiri oleh Ustadz Prof. Muhammad Chirzin, Ustadz Nuril, dan Ustadz Taufik. Ustadz Chirzin sendiri dulu pernah menjadi sekretaris KH. Imam Zarkasyi, sehingga beliau benar-benar menyaksikan bahwa KH. Imam Zarkasyi tidak pernah makan makanan yang lebih enak dari makanan yang dimakan oleh santri di dapur. Begitu juga tempat tidur beliau, tidak lebih nyaman dari apa yang dirasakan oleh santri saat itu.

Pada malam harinya, semua peserta terbagi dalam tiga bidang; pendidikan, sosial, dan ekonomi untuk memetakan masing-masing potensinya dan merancang beberapa target-target jangka panjang maupun jangka pendek. Suasana diskusi per bidang ini berlangsung sangat hidup dan berwarna, karena setiap peserta membawa bekal pengalamannya masing-masing setelah merasakan sendiri terjun di bidang-bidang tersebut.

Di hari terakhir, peserta kembali diajak bernostalgia dengan jaryu shabah. Meskipun hanya lari pagi di kampung sekitar lokasi acara, mereka tampak begitu antusias dan serasa kembali seperti santri dulu. Setelah lari pagi, mereka berfoto bersama kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi menu soto ayam khas Jogja. Di acara penutup, mereka bersalam-salaman dan berpelukan satu sama lain. Tak sedikit dari mereka yang kembali meneteskan air mata karena tidak terasa tiga hari mereka berkumpul kembali dan tiba saatnya untuk berpisah lagi.

Seperti yang diungkapkan oleh Okie Fajarudin, bukan kehebatan Panitia dalam mepersiapkan segala sesuatunya sehingga acara berlangsung tertib dan lancar; bukan pula karena fanatisme peserta terhadap marhalah yang mau datang jauh-jauh dari rumah mereka untuk hadir di silatnas kali ini; semua rentetan acara ini dapat terlaksana tidak lain dan tidak bukan adalah atas kehendak dan ridha Allah semata. Allah meridhai acara ini. Allah memberikan kekuatan para peserta untuk datang. Allah memberikan kesempatan peserta untuk hadir. Allah memberikan keikhlasan di hati panitia dan peserta untuk menjaga dan melaksanakan amanat.

Selamat dan sukses atas terselenggaranya Silatnas Blitza Remigion 2017 di Yogyakarta.

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Setelah 13 Tahun, Muncul De Javu 'Kalian Memang Mengharukan'

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah