logo


Politik Indonesia Adalah Politik Uang, Prabowo Mengaku Sedih

Karena hal itu pula, ketua umum Partai Gerindra itu mengaku prihatin tentang keadaan politik di Indonesia.

22 Oktober 2017 06:00 WIB

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Jitunews/Rezaldy

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Prabowo Subianto menegaskan bahwa sistem politik yang saat ini berlaku di tanah air belum bisa dijadikan tumpuan dalam menemukan sosok pemimpin yang berintegritas. Karena hal itu pula, ketua umum Partai Gerindra itu mengaku prihatin tentang keadaan politik di Indonesia.

"Karena sistem kita sekarang tidak atau belum berhasil membuat sistem di mana muncul pemimpin-pemimpin muda yang pintar, andal, dan berakhlak baik. Berkepribadian baik dan berintegtitas," demikian ucap Prabowo Subianto yang menjadi pembicara kunci sebelum Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2017 di The Kasablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (21/10) ditutup.

Politik uang, atau permainan uang yang berlaku dalam budaya politik tanah air juga membuat Prabowo sedih. Karena budaya yang demikian itu, Indonesia, baik pusat maupun di daerah tak akan pernah mendapatkan pemimpin yang potensial.


Fahri Hamzah Sebut Prabowo Layak Maju Pilpres

Pasalnya, calon pemimpin potensial itu harus menyuguhkan banyak uang agar bisa mendapatkan sebuah jabatan.

"Sebagai ketua umum partai, anak buah saya datang, 'Pak, saya mau jadi bupati, saya mau jadi wakil gubernur, saya mau jadi gubernur.' Pertanyaan saya sekarang, saya sangat sedih, saya tanya, 'Anda punya uang berapa?'" ujar Prabowo mengumpamakan.

Prabowo menyayangkan karena bukan soal kompetensi yang ditanyakan di situ. Prabowo menyebut pertanyaan semisal kuliah di mana, lulus kapan, pernah kerja di mana, pernah mengarang berapa banyak buku, justru luput dari perhatian.

"Di sini sedih karena apa? Kalau tidak punya uang sangat-sangat sulit (jadi kepala daerah). Mungkin nggak enak didengar, tapi demikian," ucap Prabowo.

Prabowo: Nasionalisme Itu Mengakui Kita Bangsa yang Rendah

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah