logo


Manusia Pancasila: Cerminan Pengaktualisasian Nilai-nilai Pancasila Sebagai Landasan Multikulturalisme dalam Bingkai Kebhinekaan

Indonesia merupakan negara yang berdiri diatas kaki perbedaan. Indonesia dikenal dengan kemajemukan masyarakatnya, baik dari sisi etnisitas maupun budaya, bahasa, agama dan kepercayaannya...

19 Oktober 2017 23:00 WIB

dibaca 9459 x

Indonesia merupakan negara yang berdiri di atas kaki perbedaan. Indonesia dikenal dengan kemajemukan masyarakatnya, baik dari sisi etnisitas maupun budaya, bahasa, agama dan kepercayaannya. Kemajemukan ini juga telah menjangkau pada tingkat kesejahteraan ekonomi, pandangan politik serta kewilayahan, yang semua itu sesungguhnya memiliki arti dan peran strategis bagi masyarakat Indonesia. Meski demikian, secara bersamaan kemajemukan masyarakat itu juga bersifat dilematis dalam kerangka penggalian, pengelolaan, serta pengembangan potensi bagi bangsa Indonesia untuk menapaki tantangan yang ada.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan dasar untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Perwujudan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dengan cara hidup saling menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang adanya sebuah perbedaan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dari Sabang sampai Merauke, dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan dan lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya . Kondisi masyarakat seperti ini jika berjalan selaras dan harmonis akan menciptakan integrasi sosial. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan terjadi disintegrasi sosial atau konflik sosial. Pengaruh kemajemukan masyarakat yang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan konflik sosial adalah munculnya sikap primordial (primordialisme) yang berlebihan dan stereotip etnik.

Ungkapan Bhineka Tunggal Ika dicetuskan pertama kali oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma. Meskipun hanya terdiri dari tiga kata, kalimat yang dijadikan semboyan bangsa Indonesia tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Semboyan yang berasal dari bahasa Sansekerta ini, secara harfiah memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Sedangkan dalam pengimplementasiannya pada kehidupan berbangsa dan bernegara, konsep ini dapat diartikan sebagai cara memandang Indonesia (nusantara) sebagai satu kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional.


Paradigma Modernisasi Kebudayaan

Multikultural adalah ragam-ragam budaya. Menurut Wikipedia, multikulturalisme adalah “pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan poltik yang mereka anut”.

Multikulturalisme yang menjadi warisan bangsa Indonesia merupakan alasan utama pentingnya menjujung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan, seperti yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila dan yang tertuang pada semboyan negara kita. Keanekaragaman suku, budaya, bahasa dan agama yang dimiliki Indonesia berpotensi sebagai sumber kekuatan bangsa apabila dikelola dengan baik. Sebaliknya, perbedaan latar belakang budaya, suku, dan agama diantara masyarakat Indonesia dapat menjadi penyebab konflik yang berujung pada perpecahan apabila tidak ditanggapi secara arif dan bijaksana.

Bangsa Indonesia telah lama hidup  di dalam keberagaman. Keberagaman yang ada digunakan untuk membentuk suatu negara yang besar. Keberagaman, menjadikan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Makna yang terkandung di dalam konsep kebhinekaan ini adalah semua rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar, paling hebat, atau paling diakui oleh yang lain. Pandangan-pandangan sektarian dan enklusif haruslah dihilangkan pada seluruh masyarakat Indonesia, karena ketika sifat sektarian dan enklusif sudah terbentuk, maka akan banyak konflik yang terjadi dikarenakan kecemburuan, kecurigaan, sikap yang berlebihan, dan kurang memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi lain. 

Hubungan Pancasila sebagai Landasan NKRI dengan Multikultural

Multikulturalisme mempunyai peran yang penting dalam proses pembangunan bangsa Indonesia. Dengan menerapkan prinsip Pancasila, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya “Berbeda-beda tapi tetap satu jua” bukan tidak mungkin Indonesia dapat bersaing dengan negara lain dalam kemajuan zaman. Apalagi jika menerapkan sila ketiga dalam Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, dan memendam rasa ego masing-masing individu, serta mengutamakan kepentingan bangsa, hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin untuk dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Tetapi saat ini masih banyak individu, masyarakat yang lebih mementingkan sikap individu mereka dan beranggapan bahwa mereka lah yang terbaik daripada yang lain. Sehingga menimbulkan konflik dimana-mana. Kalau hal seperti ini terus-menerus terjadi bangsa Indonesia tidak akan lama lagi akan musnah. Oleh karena itu, Pancasila sebagai landasan NKRI sangat perlu disosialisasikan lagi untuk mengingat pemahaman-pemahaman tentang Pancasila agar tidak terjadi konflik berkelanjutan dan dapat melangkah bersama menuju Indonesia yang lebih baik.

Urgensi pengimplementasian nilai-nilai yang terkandung dalam semboyan bangsa Indonesia (Bhineka Tunggal Ika) dan sila ketiga Pancasila sangatlah mendesak. Semakin tingginya arus modernisasi dan globalisasi telah mengikis rasa persatuan bangsa yang masih belum terbangun dengan kuat. Primordialisme yang masih cukup tinggi pada sebagian masyarakat Indonesia dan didukung oleh fanatisme yang berlebihan terhadap suatu golongan tertentu semakin menyebabkan pupusnya rasa nasionalisme di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pemahaman nilai-nilai Bhinneka-Tunggal Ika dalam masyarakat Indonesia dapat terwujud secara integral dengan kerjasama seluruh komponen bangsa, baik oleh pemerintah selaku penyelenggara negara maupun setiap insan pribadi warga. Peningkatan sosialisasi aktualisasi pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an harus dilakukan melalui tindakan nyata dalam kehidupan keseharian seluruh kompenen warga dalam rangka memperkuat integrasi nasional, karena Indonesia dengan keberagaman budaya, suku/etnik, bahasa, agama, kondisi geografis, dan strata sosial yang berbeda. Indonesia dengan gambaran masyarakat majemuk yang terdiri dari suku-suku bangsa yang berada di bawah kekuasaan sebuah sistem nasional, termasuk di dalamnya pemerintah yang menjalankan proses pembangunan masyarakat harus bersinergis untuk bersama-sama dengan rakyat tanpa membedakan keberagaman budaya, bahasa, agama, suku/etnik, dan bahkan strata sosial, mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan komitmen bersama, berlandaskan nilai-nilai yang terkandung dalam ke-Bhinneka Tungal Ika-an yang termaktub dalam Pancasila.  Ciri kemajemukan masyarakat Indonesia yang terintegrasi secara nasional adalah sangat penting sebagai kekayaan dan merupakan potensi yang dapat dikembangkan sehingga dapat dimanfaatkan dalam sistem komunikasi sebagai acuan utama bagi menunjukkan  jati diri bangsa Indonesia sebagai nasionalisme.

Dalam hal ini peningkatan pemahaman terhadap kemajemukan sosial budaya sebagai pencitraan dari budaya bangsa Indonesia yang semakin dewasa merupakan upaya membangun citra diri didasarkan aktualisasi pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka-an yang dimiliki, dapat menjadi investasi yang diandalkan pada pelaksanaan pembangunan nasional sebagai salah satu pilar demokrasi. Untuk itu diharapkan tindakan nyata oleh pemerintah agar memaknai  pentingnya kondisi kemajemukan yang terintegrasi secara nasional melalui wawasan kebangsaan di era globalisasi saat ini untuk menjaga kedaulatan NKRI. Untuk merealisasikan harapan ini, masyarakat dan segenap komponen bangsa harus lebih dewasa dalam mengaktualisasikan pemahaman nila-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dalam mewujudkan integrasi nasional di negara yang dikenal dengan kemajemukannya berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 demi pencapaian tujuan nasional.

Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut mempunyai peran terhadap bangsa Indonesia yaitu agar menjadi bangsa yang berhasil mewujudkan integrasi nasional di tengah masyarakatnya yang majemuk. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut juga diharapkan sebagai landasan atau dasar perjuangan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar dikenal di mata dunia sebagai bangsa yang multikulturalisme. Membina bangsa Indonesia yang multikultural memerlukan upaya yang berkesinambungan serta berkaitan dengan berbagai aspek agar tercapai Integrasi nasional melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu dengan mengadakan proses pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan formal dan in-formal tentang Prinsip bersatu dalam perbedaan karena individu dalam masyarakat majemuk haruslah memiliki kesetiaan ganda terhadap bangsa-negaranya, mereka juga tetap memiliki keterikatan terhadap identitas kelompoknya, namun mereka menunjukan kesetiaan yang lebih besar pada bangsa Indonesia. Jadi bhineka tunggal ika mempunyai banyak peran penting dalam kemajuan, kemakmuran serta keamanan bangsa ini. Peran bhineka tunggal ika yang paling penting atau utama adalah sebagai pemersatu bangsa ini untuk meningkatkan derajat bangsa agar dapat dilihat dan tidag dipandang sebelah mata lagi dengan Negara-negara lain.

Dapat dipahami bahwa untuk mewujudkan kesatuan Indonesia dapat ditempuh setidak-tidak tiga upaya berikut. Pertama, mentransformasikan kesadaran multikulturalisme menjadi identitas nasional dengan bertumpu pada penghargaan terhadap kepluralistikan masyarakat Indonesia. Untuk itu Bhinneka Tunggal Ika sebagai teks ideal senantiasa perlu dibaca ulang pada setiap zaman karena pada prinsipnya identitas tidak pernah final. Kedua, membangun integrasi nasional yang berbasis multikulturalisme dengan mendorong kesadaran masyarakat menggunakan hak konstitusinya dalam berkumpul, berserikat, dan berpendapat guna memperjuangkan hak-hak keadilan, kebebasan, kesetaraan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Kemudian, mendorong pemerintah menjadikan civil society sebagai mitra kerja, baik dalam pengambilan kebijakan dan ekskusinya pada bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup masyarakat dengan tetap memperhatikan entitas-entitas budaya lokal. Ketiga, mendorong peran agama dalam kehidupan sosial dan kebudayaan misalnya, dengan menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah Tuhan, bukan agama. Melalui kesadaran ini, antarumat beragama tidak saling menghujat, mati-matian membela agamanya yang seolah-olah membela Tuhannya, dan menawarkan keselamatan kepada orang lain dengan tujuan konversi agama. Dengan demikian, agama menjadi pemersatu bagi seluruh masyarakat dan tidak sebaliknya menjadi alat pemecah belah persatuan Indonesia.

Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah terbentuknya suatu integritas nasional yang dikemas dalam bingkai semangat kebhinekaan.  Selanjutnya Pancasila mengambil peran penting sebagai pedoman yang mempersatukan seluruh komponen dibangsa dibawah suatu ikatan yakni Bhineka Tunggal Ika. Dan dengan itu akan terbentuknya suatu pemahaman “Manusia Pancasila” sebagai cerminan dari terinternalisasinya pemahaman pancasila sebagai pemersatu bangsa dalam bingkai kebhinekaan yang akan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi menjaga keutuhan bangsa.

Ditulis oleh: Alfan Thoriq

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Finalis Puteri Indonesia Tak Hafal Pancasila, Ini Kata Bamsoet

Halaman: 
Admin : Ratna Wilandari