logo


Tiga Tokoh Dianggap Potensial Pimpin Jatim, La Nyalla Paling Diunggulkan

22,8 persen publik menilai La Nyalla sangat mewakili masyarakat Jawa Timur

19 Oktober 2017 23:00 WIB

La Nyalla Mataliti
La Nyalla Mataliti surabayanews

JATIM, JITUNEWS.COM - Persatuan Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi (PMP-SIKOM) belum lama ini menggelar survei dalam menyambut Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim), yang akan berlangsung tahun 2018, dengan tema "Memotret Elektabilitas Bakal Calon Gubernur Jawa Timur".

Dikatakan Ketua PMP-SIKOM, G. Safaardi, tujuan digelarnya survei PMP-SIKOM tersebut adalah untuk membuat deskripsi, gambaran tentang pilihan masyarakat terhadap tokoh-tokoh Jatim.

Survei yang dilakukan mulai tanggal 4-14 Oktober 2017 di seluruh Kabupaten dan Kota Jawa Timur itu menggunakan metode metode deskriptif (Descriptive Research), yaitu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau kelas peristiwa pada jelang pemilihan Gubernur Jawa Timur .


Survei VPS untuk Pilgub Jatim 2018: La Nyalla Unggul, Gilas Khofifah dan Gus Ipul

G. Safaardi melanjutkan, hasil survei yang dilakukannya mengerucut pada tiga tokoh yang dinilai pantas jadi kepala pemerintahan di provinsi paling timur pulau Jawa itu. Ketiga tokoh itu adalah, yaitu Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial), Syaifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Timur), dan La Nyalla Mattalitti (Ketua Kadin Jawa Timur).

"Ketiga tokoh tersebut selalu unggul dari simulasi dengan tokoh-tokoh lainnya yang berpotensi bakal jadi calon gubernur," ujar G. Safaardi dalam keterangannya, Kamis (19/10).

Survei, kata G. Safaardi, dilakukan kepada sejumlah warga Jawa Timur yang sudah memiliki hak pilih, jumlahnya 1.089 pemilih dari total populasi. Sementara, daftar pemilih tetap pada Pilgub Jawa Timur sebanyak 32 juta pemilih.

"Metode pemilihan responden dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen dan Margin of Error ± 2,97 persen," katanya.

Dikatakan G. Safaardi, dari 1.089 responden tersebut, sebanyak 62,1 persen sudah mengetahui akan adanya Pilgub Jawa Timur pada tahun 2018, sementara sebanyak 37,9 persennya menjawab tidak tahu.

"Dari survei ditemukan juga kalau dari 1089 responden yang tertarik berpartisipasi dalam Pilgub Jawa Timur hingga hari pencoblosan hanya sebesar 71,2 persen. Artinya, partisipasi pemilih hanya akan berkisar di 71,2 persen dari daftar pemilih dan sementara 28,8 persen tidak ingin dan tidak tertarik berpartisipasi dalam Pilgub," beber G. Safaardi.

Lebih jauh, sambung G. Safaardi, dari hasil survei pula, PMP-SIKOM menemukan bahwa semakin banyak masyarakat yang menilai politik uang dalam Pilkada sebagai hal yang tidak wajar. Tak hanya itu, kata G. Safaardi juga, setidaknya ada 69,3 persen responden juga yang menganggap salah perilaku orang tua yang membawa anaknya berkampanye untuk uang.

"Persentase masyarakat yang menganggap tidak wajar perilaku membagikan uang atau barang pada calon pemilih dalam Pilkada 69,3 persen dan sebanyak 30,7 menanggap wajar. Penilaian itu bahkan tampak pada lingkup keluarga. Jika dulu masyarakat menilai wajar saja orang tua yang membawa anaknya berkampanye untuk mendapat lebih banyak uang, sekarang tidak lagi," ujar dia.

Secara mengejutkan, lanjut dia, 22,8 persen publik menilai La Nyalla sangat mewakili masyarakat Jawa Timur, sementara Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meraup prosentase 19,7 persen, dan Khofifah Indar Parawansa sebayak 18,3 persen.

"Dalam simulasi semi terbuka juga, nama La Nyalla masih unggul dipilih sebanyak 25,9 persen, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dipilih sebanyak 23,4 persen, kemudian Khofifah Indar Parawansa 20,1 persen, sementara massa mengambang 30,6 persen" tukas G. Safaardi.

Selisih dukungan pada tiga besar nama relatif konstan, kata G. Safaardi, masing-masing sekitar 3 persen. Dengan demikian, ketiga calon Gubernur yang diuji dalam survei ini memiliki peluang yang sama untuk memenangkan Pilgub Jawa Timur. Sebab masih Ada swing voter sebanyak 30,6 persen.

"Tinggal bagaimana nanti mesin partai, ormas pendukung dan relawan bekerja maksimal untuk mengambil suara swing voters," tuturnya.

Dikatakan G. Safaardi, isu-isu kepada tiga tokoh saat kampanye akan sangat mempengaruhi keterpilihan mereka.

"Visi dan misi mereka terutama dalam hal bidang ekonomi dan fasilitas publik seperti kesehatan, air bersih serta yang bersentuhan dengan kesejahteraan masyarakat yang dianggap realistis akan mempengaruhi tingkat elektabilitas mereka," beber G. Safaardi .

Namun, lanjut dia, catatan untuk Gus Ipul yang posisinya petahana akan jauh lebih berat untuk menaikan tingkat elektabilitas. Sebab, elektabilitas Gus Ipul berhubungan dengan kinerja Pemprov Jatim yang membuat 69,3 persen responden mengatakan tidak puas dan menilai kinerja Pemprov Jatim sangat buruk. Hal ini, kata dia, berhubungan dengan temuan survei terkait 62,1 persen responden mengatakan keadaan ekonomi keluarga mereka yang mengalami kesulitan selama 3 tahun terakhir ini.

"Untuk khofifah kekalahan dua kali dalam Pilgub juga menjadi problem untuk meningkatkan elektabilitasnya. Sebab pandangan publik Khofifah dianggap ngoyo jabatan dan tidak bersyukur serta tidak konsisten dengan tugasnya sebagai Menteri Sosial untuk menyelesaikan tugas sampai masa jabatannya berakhir. Masyarakat justru curiga dengan keinginan Khofifah maju sebagai cagub, padahal posisinya sebagai Menteri Sosial jauh lebih tinggi dari gubernur serta bisa lebih banyak membantu masyarakat dalam pengentasan kemiskinan," katanya.

Sedangkan peluang La Nyalla, ujar G. Safaardi, jauh lebih besar untuk meningkatkan elektabilitasnya.

"Karena hasil temuan survei hanya 9,3 persen saja responden yang memilih calon gubernur Jawa Timur berdasarkan kesamaan etnis, sedangkan 90,7 persen tidak mempermasalahkan etnis calon gubernur Jatim," pungkas G. Safaardi.

 

La Nyalla Mattalitti Diunggulkan Jadi Gubernur Jatim di Survei LJSI

Halaman: 
Penulis : Riana